Thread Reader

Teguh Faluvie

@qwertyping

Jun 1, 2020

191 tweets
Twitter

Lantai 2 - Dibalik sibuknya sebuah pekerjaan - [Based on true story] @#BacaHorror @KANG RT CERITA HOROR @Horor Indonesia #bacahorror #bacahoror #ceritahoror

Selamat malam, kali ini gw akan membawakan sebuah cerita, pemilik cerita adalah salah satu followers gw. Setelah beberapa kali diskusi via direct massage, akhirnya cerita ini sudah siap gw bagikan kepada kalian.

Karna berkaitan dengan pekerjaan pemilik cerita, untuk yang mengetahui nama tempat, lokasi dll mohon untuk tetap dirahasiakan, menyangkut keamanan pemilik cerita di pekerjaanya. Gw harap kalian mengerti.

“tidak ada yang benar-benar mengerti tentang sebuah pilihan untuk berada dalam kondisi tertentu, kadang semuanya berjalan alami. Sampai pada pertanyaan; kenapa saya ada di kondisi seperti ini.” Langsung aja gw mulai ceritanya. --------

Tahun ini 2018 aku lulus sebagai sarjana Farmasi, sebuah kesadaran yang selanjutnya adalah adaptasi untuk kehidupan yang sebenarnya, perlahan tanpa sadar sebuah tanggungjawab lambat laun menyeretku pada kehidupan selanjutnya.

Kerja, adalah tujuanku sekarang. Walau banyangan dunia kerja hanya sebatas pengetahuan dan teori saja yang aku pahami, jelas itu tidak cukup. Dan aku sadar akan hal ini.

Seseorang pernah berkata “pengalaman itu penting sekali agar kita benar-benar bisa belajar kehidupan darinya” dan kalimat itu yang sekarang terlintas dipikiranku saat ini.

Aku mengirim E-mail ke beberapa perusahaan yang sesuai jurusan aku kuliah, mencari informasi lowongan dimana-mana yg sesuai skill, menghubungi beberapa senior dan teman-teman untuk hanya sebatas bertanya “ada lowongan pekerjaan” atau sekedar “bertukar kabar”

Walau hal-hal itu awalnya banyangan tentang kemudahan, kenyataannya sama sekali tidak. Sudah 1 bulan lebih, aku hanya diam di rumah, disini di kota S, Jawa Barat.

“Pik jangan keliatan mumet gtu mukamu itu loh, keluarlah sesekali, jangan hanya pindah dari kamar, ke balkon, pindah lagi ke kamar gtu aja Ibu liatnya” ucap Ibu sambil menyodorkan makanan ke balkon dimana aku sedang duduk sore ini

“iyah bu, nanti besok mungkin akan berkunjung ke rumah temen, eh bu gak kerasa udah lama Opik dirumah, doain dapet kerjaan cepet yah” jawabku dengan penuh harapan

Suasana sore di rumah memang nyaman, tapi terlalu lama diam dalam kenyamanan rumah takut membuatku lupa pada tujuan. Aku ingat tadi pagi tidak mengecek email sama sekali.

Sampai sore ini, ada salah satu Perusahaan IT daerah Ibu Kota bagian Selatan yang merespon lamaran pekerjaanku itu, memang Jabodetabek adalah tujuanku, selain disana menjadi pusat industri, disana juga akses kendaraan umum dll lengkap.

Bahkan karna sebelumnya aku random saja memasukan lamaran kerja, intinya yang sesuai dengan skill dan sesuai dengan jurusan kuliahku memang hal itu yang bisa aku tawarkan.

Setelah aku pahami balasan email dari Perusahaan IT itu, sudah tertera tanggal dan jam juga alamat, kemana aku harus berkunjung untuk melakukan tes dan interview

“bu alhamdulilah opik ada panggilan 3 hari Senin minggu depan sudah harus datang ke perusahaan” ucapku sambil menemui Ibu “tuhkan alhamdulillah pik, bismillah yah keterima, kasian Ibu liat kamu di rumah terus” jawab Ibu

Langsung aku mempersiapkan segala kebutuhan untuk pergi ke Ibu kota Indonesia itu, segala perlengkapan dari mulai berkas dan beberapa salin pakaian seadaanya dulu aja, pikirku, jika keterima bisa langsung mencari kosan disana. ***

Hari dimana yang aku tunggu datang, satu hari sebelum besok tes di perusahaan, ternyata ada temanku yang sudah kerja beberapa bulan di daerah yang tidak jauh dari perusahaan yang besok akan aku kunjungi.

Setelah janjian dan memang temanku Joni ini sudah sepakat nanti turun dari Bus dia yang akan jemput, karna memang hari ini hari minggu. “bu opik berangkat, doain yah lancar besok, kalau keterima dan apa-apanya besok opik kabarin” ucapku Izin pamit pada Ibu

“ingat pesan Ibu yah pik, jujur dan jangan mudah lelah, solatnya dijaga jangan lupa” jawab Ibu Iyah keluargaku termasuk urusan ibadah adalah hal utama dan aku rasa itu paling wajar sekali.

Pesan jujur dan jangan mudah lelah adalah pesan yang mungkin sudah lelah telingaku mendengar kalimat itu, tapi bukankah itu bentuk rasa sayang seorang ibu pada umumnya.

Perjalanan dimulai, walau ini bukan pertama kali aku ke ibu kota tapi karna beda tujuan dan membawa harapan tentang mendapatkan pekerjaan. Memakan waktu yang lumayan cukup lama, akhirnya aku sampai di tempat janjianku bersama Joni temanku.

“Pik...” sahut Joni langsung bersalaman dengaku “Joni, hahaha bagaimana ibu kota dan pekerjaan baik?” tanyaku “tidak pik, aku bulan depan sudah dipindah tempatkan ke Jawa Timur, yaudah ayo ke kosan aku dulu” jawab Joni langsung mengendarai sepeda motor

Iyah juga pikirku, soal pekerjaan menjalani ketidakpastian aku saja jurusan kuliah apa dapat panggilan dari Perusahaan apa, tapi yang terpenting aku kerja untuk menunaikan kewajibanku sebagai lelaki, seperti apa kata orang tuaku seperti itu.

Setelah satu malam di kosan Joni, hanya bercerita tentang bagaimana dan dari mana awal kita kenal, dan Joni bilang tetangga kosanya adalah salah satu Satpam di Perusahaan itu, kebetulan sekali.

Hari interview dan tes dimulai, tidak terasa dari jam 9 sudah hampir jam dimana solat Dzuhur berkumandang, tes tidak begitu sulit karna sesuai dengan kemampuan dan interview apalagi aku bisa menjelaskan semuanya.

Setelah pukul 13:00 akhirnya aku dengan Pak Budi salah satu pekerja di perusahaan itu mengajaku ke pusat Jakarta, aku masih bingung, pernyataan diterima atau tidak masih belum keluar. “pak mau kemana ini kita...?” tanyaku dengan memberanikan diri

“kamu udah cek email? Kamu sudah diterima dan ditempatkan di Pusat Jakarta, ada salah satu perusahaan punya project dengan perusahaan kita, kamu konsultan aplikasinya” jawab pak Budi singkat

Segera aku buka email dan ternyata benar, sebelum aku solat Dhuzur sudah ada email masuk dan itu membuat aku sangat senang. Mengirim pesan singkat mengabari Ibu dan Joni tentunya langsung aku lakukan.

Sampai di pusat Jakarta hanya beberapa menit mengenalkan aku dengan salah satu orang, tidak lama, bahkan aku belum mengerti tugas dan kerjaku seperti apa.

Diperjalanan pulang menuju kantor, pak Budi bilang selama 3 minggu aku di training di kantor pusat (selatan Jakarta) kemudian akan ditempatkan di pusat Jakarta, entah di perusahaan yang barusan aku kunjungi atau bukan.

Setelah pulang sore itu aku segera ke kosan Joni, Joni menyarankan bersama dia dulu selama tiga minggu, sebelum semuanya pasti nantinya aku ditempatkan dimana, baru carilah kosan agar tidak cape dua kali. ***

3 Minggu berlalu begitu saja dengan cepat, Joni minggu terkahirnya di Kota ini dan minggu depan dia sudah harus pindah ke Jawa Timur, tugas dinas seperti itu.

Dengan pak Budi lagi, aku ke anak kantornya, walau tidak terlalu jauh dari perusahan itu, hanya palingan 20 menit saja (kalau tidak macet) aku sudah tiba di kantor anak perusahaan yang join project dengan perusahan IT dimana aku kerja saat ini.

“disini pik kantor nantinya kamu kerja, mulai besok... yah walaupun bangunanya terkesan tua ,dalemnya enak ko udah rapih” ucap pak Budi “baik pak nanti aku cari kosan dekat sini pak, biar tinggal jalan kaki ke tempat kerja” jawabku singkat

Ketika turun, aku mengamati kantor ini bangun ala-ala belanda sekali, malah aku tidak mengerti kenapa seperti ini. Hanya ada 2 lantai yang aku liat, parkiran yang luas dan tentunya pos satpam

Mengamati bagian luar, hanya kesan yang membuat aku tidak mengerti harus berkata apa, logikaku menuntun untuk berpikir positif tapi perasaanku lain. Apalagi pohon-pohon sekeliling bangunan, menambah kesan sejuk seharusnya! Tapi ini lain ada kesan yg berbeda dari bangunan ini.

Padahal ini disamping jalan, bahkan jalanan sore di Pusat Jakarta ini terbilang jalanan sering macet ramai, entah kenapa bangunan ini sebaliknya? pertanyaan yg belum bisa aku jawab.

Jika bangunanan yang aku amati ini bisa bicara, dengan kesan pertama sepertinya ini pasti akan berkata “selamat datang” heranya dengan mengamati oleh mata ke kanan dan ke kiri, entah kenapa lantai 2 dilihat dari arah parkiran, merasa punya daya tarik sendiri. ***

Bagian depan bagunan gedung (kantor) ini semakin membuat aku yakin, pasti sudah lama sekali. Apalagi tiang-tiang besar bagian depan sangat terlihat memiliki usia mungkin lebih lama, dari pada usiaku saat ini.

“ayo Pik masuk, jangan banyak melamun” ucap pak Budi menegurku “baik pak…” jawabku lumayan dikagetkan dengan ucapan pak Budi Memasuki bagian dalam gedung ini ternyta benar, sekitar 60% sudah dirombak total, walau masih mempertahankan konsep dari pada bangunanya.

Terdapat 2 lantai, wajar saja bangunan seluas ini di jadikan kantor memang sangat masuk akal. Aku, selayaknya anak kecil yang baru saja diajak ke toko mainan, terpesona.

Melihat rapih sekali keadaan lantai satu ini, yang memang benar-benar dibikin sedemikian dan pastinya dengan perawatan. Suasana kantor ini memang terbilang office hour, jadi masih banyak karyawan berlalu-lalang.

Aku masih mengikuti langkah pak Budi, memasuki seperti lorong dengan banyak tempelan poster dan berbagai panjangan dinding, yang lagi-lagi membuat rasa terpesona itu bertambah.

“apa orang belanda kalau bikin gedung, sampai harus ada lorongnya gini yah?” ucapku dalam hati, walau masih tebakan saja (dulunya orang belanda yang bikin bagunan ini).

Setelah memasuki lorong yang lumayan panjang, barulah ada lobby yang sepertinya digunakan untuk menunggu atau sejenak santai saja, tapi aku memang belum benar-benar paham dengan bangunan seperti ini, maklum ini hari pertama aku kesini.

Kemudian aku tetap mengikuti langkah pak Budi, menaiki satu persatu anak tangga, kekaguman semakin bertambah dengan tangga yang mendukung sekali, dugaanku sesuai dengan konsep bangunan ini, klasik Netherlands.

Sekarang aku paham, beberapa seperti tiang didepan bangunan, lorong, lobby dan tangga juga atap lantai 2 ini adalah yang dipertahankan dalam bangunan ini, kesimpulan cepatku seperti itu. Setelah satu persatu anak tangga aku lalui, sampai di lantai 2

“nanti disana tempatmu kerja pik” ucap pak Budi sambil menunjuk ke arah kiri dari ujung tangga dimana aku berdiri ini “oiyah pak, baik” jawabku singkat

“itu meja kerja kamu sudah disiapkan boleh kesana melihat sekitar dan berkenalan dengan rekan kerja barumu, bapak mau betemu dulu, laporan sama atasan kamu disini.” sahut pak Budi, yang kemudian meninggalkanku.

Segera aku masuk kedlm ruangan itu, terlihat beberapa karyawan sedang sibuk, ada juga yg memberikan sambutan hangat berupa senyuman, yg menyadari kedatanganku masuk ke ruangan ini. Tidak lama seseorang mendekati aku, umurnya mungkin lebih muda dari pak Budi 4 atau 5 tahun saja.

“Taupik?” tanya orang itu “betul pak” sahutku “saya Aban, saya udah tau tentang kamu, dan sepertinya selama disini kamu akan denganku pak, team work” jawab pak Aban “jangan panggil bapak, panggil saja Opik biar lebih dekat Pak” jawabku hangat

Dan pak Aban juga sama tidak mau dipanggil bapak, menurutnya, panggilan nama biar cepat akbrab saja, dan aku menyetujuinya. Aku rasa Aban akan menjadi rekan kerjaku yang asik, terlihat interaksi dia begitu hangat kepada karyawan lain yang berada dalam ruangan ini.

Tidak lama aku duduk di meja kerjaku, pak Budi menemuiku dengan Aban yang mengikutinya. “pik nanti kamu sama pak Aban ini, semuanya tentang tugas dari perusahan dan tugas kamu disini bisa tanya sama dia” ucap Pak Budi “baik pak, sudah kenalan barusan” ucapku, sedikit becanda

Tidak lama, pak Budi pamit dan kedepanya dengan dialah (pak Budi) akan berkomunikasi soal pekerjaan dll dan juga dengan Aban ini. Tidak lama, Aban memang langsung kerja lagi, aku melihat job desk aku hari ini adalah adaptasi terlebih dahulu.

Dan baru benar-benar sadar, ketika aku berjalan keluar ruangan, di lantai 2 ini menuju lobby memperhatikan sekitar kemudian pandanganku ke arah tangga, lalu melihat jendela ke arah luar.

Tidak tau kenapa disini tiba-tiba membuat bulu pundakku berdiri begitu saja, dan memang hanya aku sendiri, berdiri disini sementara yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“selamat datang” kedua dari bangunan ini kepadaku, setelah terlihat dari luar memang lantai 2 dimana aku berdiri sekarang memberikan rasa penasaran berbeda, harus aku akui memang benar-benar berbeda, walau kesan menyeramkan belum aku benar-benar rasakan.

Aku mencoba menenagkan pikiranku dengan menghubungi Joni kalau aku sudah pasti kerja disini di gedung yang berada di jalan ini, dan setuju setelah aku pulang sore nanti akan langsung mencari kosan, dan kebetulanya lagi, Joni 2 hari lagi sudah pergi.

Siang berlalu dengan cepat menuju sore, tidak terasa waktu berlalu begitu saja. Bukan waktunya yang berputar cepat, mungkin saja kesibukan adaptasiku yang terlalu bersemangat.

Mau bagaimanapun, ini yang aku mau bukan? Walau mungkin kedepanya apapun yang pernah kita mau sudah terpacai, pasti sejalan dengan itu resiko selalu mengikuti, begitu pikirku. ***

“pik minggu ini kamu shift Pagi, ini jadwal buat bulan ini, sisanya dua shift malam dan satu shift siang yah” ucap Aban sambil memberikanku notebook yang sudah berisi aturan kerja shift

Bagiku, ini tidak masalah bagaimana lagi namanya juga pekerjaan. Sekitar jam 17:00, aku orang terakhir di lantai 2 ini bersama Aban, berjalan bersama menuruni anak tangga, ketika aku melihat ke belakang, ke ruangan dimana barusan aku keluar, seperti ada yang memperhatikan.

Aku melihat lagi ke depan ke arah Aban yg ada didepanku, rasa penasaranku tidak berakhir, aku ikuti rasa itu. Aku tengok lagi ke belakang benar-benar ada yg memperhatikan, karna auranya berbeda. “di atas masih ada orang emang yah Ban?” tanyaku sambil berjalan memasuki lorong

“engga ada Pik kita terakhir kenapa memangnya?” tanya Aban “ohh… engga Ban ntr deh aku ceita sekalian pen ngobrol” jawabku singkat Aban hanya tersenyum, aku berpikiran apa Aban juga pernah merasakan yang aku rasakan awal-awal kerja di gedung ini

sampai di parkiran gedung dimana aku kerja ini membuatku mengelengkan kepala, bisa-bisanya perasaan aku dibuat seperti ini, logika yang tidak sejalan dengan pemikiran, hanya tentang soal gedung yang sekarang ada dibelakang aku.

Sambil menunggu Joni yang akan menjemputku sore ini, aku hanya duduk didepan pos security. Hanya ada 2 security untuk pagi dan malam juga sama, setelah aku sedikit berbasa-basi dengan dengan pak Torik salah satu security yang jaga hari ini.

“Jon masih dimana?” chatku pada Joni, yang sudah hampir 20 menit menunggunya, hingga menuju waktu Magrib sebentar lagi “apa aku solat Magrib didalam aja yah?” ucapku dalam hati, sementara mushola berada di lantai 2 Sambil berpikiran seperti itu, aku menengok lagi ke lantai 2

Kesanya tidak berubah sama dengan tadi pagi, menyeramkan bahkan sekarang aku bisa katakan seperti itu. Tidak lama Adzan magrib berkumandang. Dengan melawan perasaan takut, aku berdiri akan masuk lagi ke dalam gedung dan kemudian ke lantai 2. Walau ini sedikit gila pikirku.

Baru saja melangkah dan izin pada Pak Torik, bahkan pak Torik bilang. “didalam sudah tidak ada siapa-siapa pak yg shift malam baru jam 8 akan datang” ucap pak Torik yang kelihatan heran

Aku juga sebenarnya tidak benar-benar berani untuk masuk kedalam, tapi entah kenapa ajakan diri ini untuk solat di mushola sangat besar. Sampai didepan pintu utama gedung ini

“pik… ayo…” teriak Joni Aku sangat kaget, apa barusan aku melamun. Entahlah pada pikiran sendiri saja hari ini aku dibuat seolah bingung. Segera aku kembali mendekat pada Joni. “lama sekali, macet yah Jon?” tanyaku

“ya begitulah… aku sudah dpat info, tidak jauh dari sini ada kosan kata temanku gitu, kesana aja ayo, Solatnya disana aja...” Jawab Joni Segera aku menuju tempat yang dimaksud Joni

“Jon gimana menurutmu, kantor baru tempat aku kerja itu?” tanyaku penasaran pendapat Joni “seperti bekas bangunan belanda yah Pik, eh lantai 2 nya serem gitu” ucap Joni pelan sekali

Benar kata Joni, seram. Walau aku hanya baru menemukan keseraman lewat perasaan saja, tapi aku tetap pada niatku, berkerja. Tidak lebih dari apapun.

Malam ini aku sudah dapat kosan, tidak jauh dari kantor, sekitar 20 menit kalau jalanan lancar. Dan malam ini juga barang-barang dari kosan Joni aku pindahkan ke kosan baru aku. Kadang perasaan semakin diikuti semakin sialan, dia punya cara sendiri. ***

Hari-hari berikutnya, Joni sudah pergi menuju Jawa Timur, yang membuat otomatis kegiatanku hanya fokus pada pekerjaan saja. Sesekali bertukar kabar dengan Ibu adalah hal yang bisa membuat aku kembali semangat dan ingat pada kewajibanku.

Tentunya dengan segala nasehat yang menjadi bekal utama aku disini. 1 minggu shift Pagi, 2 minggu shift malam dan 1 minggu shift siang membuat aku bisa melupakan dan terbiasa dengan sibuknya pekerjaan, mengurus semua tugas dan segala komunikasi dengan pak Budi berjalan lancar.

Perasaan tidak enak, yang sesekali membuatku berpikiran aneh masih tetap mengangguku, tapi mungkin karna kesibukan yang tiada henti, membuat pikiran itu sedikit demi sedikit berganti.

Tapi tidak untuk lorong itu, lorong sebelum menuju tangga masih dengan kesan seramnya, padahal lampu sangat terang, hanya memang bangunan gedung kantor ini yang mendukung suasana itu tercipta sebagaimana mestinya.

Shift malam pertama, aku hanya berdua dengan Aban, lantai satu tidak ada orang sama sekali, karna tuntutan waktu dll yang berkaitan dengan project antara perusahan IT aku dengan Perusahan ini membuat meningkatnya produktivitas dan target tertentu.

“Ban kalau mau istirahat silahkan duluan saja” ucapku, yang sudah mulai terbiasa dengan panggilan itu “tenang Pik sebentar lagi, aku mau ke toilet dulu yah” jawab Aban sambil beridiri dari kursi kerjanya, memegangi perutnya

Karna fokusku pada monitor kerja tidak menyadari kapan Aban pergi ke toilet yang dekat dengan mushola, baru saja aku berpikiran seperti itu, aku melihat Aban berjalan pelan

yang aneh itu bukan seperti gaya berjalan Aban, menuruni tangga. Aku lihat sudah jam 12 malam lebih, pasti sebentar lagi Pak Agus dan Pak Deri patroli ke atas. “Aban mau kemana... tumben gak bilang, apa sudah dari toliletnya” pikirku tenang

Hampir 5 menit atau lebih mungkin aku sendiri diruangan kerja, tidak lama benar pak Agus dan Pak Deri patroli ke atas. Pasti berpasasan dengan Aban pikirku. Hanya bertegur sapa dengan mereka berdua yang kemudian mereka turun kembali.

“aduh lama sorry Pik, sakit perut aku” ucap Aban “emang abis dari mana Ban?” tanyaku, karna tau dia tidak lama menuruni tangga “dari mana apanya kamu pik, dari toilet lah dari mana lagi” jawab aban yang langsung duduk dan berkerja lagi

Sumpah, jawaban aban biasa saja datar, tapi jawaban itu yang membuat aku diam langsung, jari-jari yang sedang mengetik di keyboard langsung diam, menatap Aban dan terpatung.

“kenapa kamu Pik?” tanya Aban “heh Pik kok jadi melamun” ucap Aban kemudian, menegorku dengan nada keras deg! “engga-engga ini kok sitemnya jadi begini yah” ucapku berbohong dengan terbata-bata

Aku masih berpikiran jadi tadi yang barusan turun ke tangga siapa, kalau bukan Aban?! Benar-benar itu dia aku yakin, walau gaya jalanya berbeda terlihat lemas, tapi…

Ah! aku masih yakin itu Aban, pikirku. Apa Aban hanya becanda saja, bilang sakit perut lama di toilet, tapi Aban tidak pernah sebecanda itu, apa memang hal yang lucu dari orang yang benar-benar sakit

Aku singkirkan pikiran itu, mungkin iyah aku salah liat, lebih baik menyalahkan diri sendiri terlebih dahulu, dari pada mengikuti kebenaran yang belum tentu, seperti tadi. “pik kayanya aku sudah selsai istitahat dulu disana yah” ucap Aban sambil berjalan ke arah sofa ruangan

“iyah, aku masih banyak lagian masih jam 02:00 palingan sebentar lagi aku juga istirahat dulu” jawabku menengok sebentar ke arah Aban Pekerjaan shift malam pertama, membuat aku harus membenarkan kalimat “seram” sesuai dengan apa yang aku alami barusan

Aku kembali fokus kerja walau pertanyaan tentang keanehan yang barusan aku alami masih saja ada. Tidak lama, satu jam berlalu, aku mendengar seperti langkah kaki jelas dan keras, saking sepinya, palingan juga pikirku security.

Langkah kakinya seperti orang gerak jalan berisik sekali. Aku terdiam sejenak, mendengarkan baik-baik suara itu, iyah itu security, aku yakini seperti itu. Suara yang timbul dari lorong sebelum tangga pasti suaranya akan sangat jelas.

Seketika hilang begitu saja, tapi apa iyah ada security jam segini melakukan hal itu, dengan langkah dihentakan. Aku masih berpikiran positif, iyah pasti ada atau tidak tau itu apa, hanya untuk menenangkan perasaan aku saja.

Tiba-tiba, semakin aku lawan rasa takut itu, semakin rasa takut itu mendekat, dan suara langkah itu ada lagi setelah beberapa menit hilang, masih jelas! dan aku yakin itu dari dalam lorong!

Iyah aku sekarang tidak serta merta harus sejalan terus dengan logika, sekarang itu siapa sebenarnya, jelas sekali. Apalagi suasana lantai 2 sekarang semakin tidak lagi bersahabat, menyeramkan sekali...

Pekerjaan selsai, waktu berlalu, berkerja dibawah bayang-bayang perasaan menakutkan, sangat tidak-tidak menyebalkan sekali. Aku melihat jam waktu solat Subuh, segera aku bangunkan Aban “ban aku subuhan duluan yah” ucapku “iyah pik, tar aku susul aja” jawab Aban, mengantuk.

Segera aku melangkah, dan sekarang aku baru sadar, langkah kaki aku aku hentakan, pengen tau, bagaimana suara kerasnya. Sekalipun tidak seperti suara langkah yang menakutkan itu

Jika suara langkah kaki itu dari orang/ security pasti harus dengan tenaga yang kuat, badan yang besar untuk menghasilkan suara yg keras, pikirku dengan tenang sambil berjalan menuju mushola.

Mushola ini lumayan jauh dari ruangan aku, masuk lorong yang tidak terlalu panjang kemudian naik tangga dan barulah di mushola yang bersebelahan dengan tempat wudhu dan toilet.

Posisi kiblat agak miring, jadi jika ada orang yang lewat akan sedikit terlihat, apalagi aku solat dekat pintu. Mushola ini terbagi 2 untuk laki-laki dan wanita.

Pada rokaat pertama, aku melihat orang yang lewat, sedikit. Membuat aku tidak khusyu sama sekali, heranya, karna lantai mushola ini memakai parket (lantai kayu) tidak terdengar gesekan kaki, atau langkah kaki.

Siapa lagi pikirku, palingan Aban barusan kataku, heranya kenapa Aban masuk ke tempat wanita yang terhalang oleh kain yg membentang saja. Sampai solatku selsai, segera aku memakai sepatu dan ingin sekali memastikan, Aban bukan yang solat ditempat perempuan itu.

Langsung berdiri karna tempatnya disebelah, aku tengok dan tidak ada siapapun! Sama sekali tidak ada orang! Dan tiba-tiba lampu mushola, tempat wudhu mati! benar-benar langsung mati saat aku mengetahui disitu tidak ada siapapun!

Aku sudah tidak bisa tenang lagi, segera aku berjalan dengan cepat, sangat cepat, melewati lorong pendek dan tidak lama aku sampai diruangan, benar saja Aban masih tertidur!

Awalnya akan aku tanyakan, soal Aban yang menuruni tangga, pasti bertemu dengan security, dan niatan aku bertanya tentang semua kejadian shift malam pertama ini aku urungan. Percuma, dan sekarang aku tidak berpikir ini hal yang masuk akal, semuanya diluar nalar sama sekali.

“Ban, aku pulang duluan yah” ucapku, sambil membangunkan Aban dengan nada tergesa-gesa “lah Pik kenapa kaya ketakutan gtu?” tanya Aban, penuh dengan heran

“tidak apa-apa, sepertinya aku sakit Ban, besok malam aku kalau tidak masuk akan kasih kamu kabar yah” jawabku berbohong “yasudah ayo bareng aja gpp…” sahut Aban, setengah sadar

Kemudian aku bersiap-siap dan Aban juga sama, berjalan meninggalkan ruangan kerja, menuruni tangga, aku perhatikan cara jalan Aban hanya sekedar memastikan apa yang sebelumnya nya dini hari tadi aku liat.

Jauh berbeda yang semalam itu bukan Aban! Bukan sama sekakali! Aban berjalan tegap, sementara semalam lemas dan terkesan menunduk!

Sampai di lorong, aku hentakan kaki, dengan penuh tenaga, sekencang mungkin. “pik kenapa kamu ini?” tanya Aban “Ban kalau suara kek tadi bakalan kedenger engga sampe ruangan?” tanyaku “ya engga bakalan dong Pik” jawab Aban, sambil mengelengan kepala, masih heran

Dan benar, pikiranku normal, suara itu yang tidak normal sama sekali, jadi suara langkah itu, pasti dengan mahluk besar, atau mahluk…?

Sampai diparkiran tadinya aku mau bertanya pada security, soal apakah dia yang berjalan di lorong sekitar jam 03:00 tapi pasti mereka anggap aku aneh, lagian perasaanku kuat itu bukan orang.

Sampai di kosan masih sangat pagi, aku hanya berpikir, kenapa malam tadi harus sekali ada gangguan dibalik sibuknya pekerjaan, dan ingatan tentang kejadian tadi malam yang menjadi penghantar tidurku pagi ini ***

Hari selanjutnya shift malam 2 minggu aku lalui dengan mudah soal pekerjaan, kalimat sibuk sudah berdamai denganku karna kebiasaan, bisa karna terbiasa.

Langkah kaki seperti orang melakukan gerak jalan selalu aku dengar, kadang tiap malam kadang malam ini tidak ada malam selanjutnya ada. Aku sudah mulai terbiasa. walau ketakutan itu selalu ada.

Aku ingin sekali membicarakanhal ini dengan Aban atau dengan teman kerjaku yang beda shift juga, tapi kesempatan itu belum ada. Hanya demi untuk persetujuan bersama, kalau memang di gedung ini, mereka yang tak kasat mata itu ada!

Satu bulan berdaptasi dengan gedung dan segala kesibukan kerja, tidak membuat aku menyerah, aku mencoba menikmatinya, apalagi Lantai 2 sedikit demi sedikit, aku mengakui keanehan dan menyeramkan jika shift malam.

Bulan kedua, shift malamku hanya satu minggu, cuman aku ditugaskan dengan Lia dan Fira bertiga, karna kebutuhan pekerjaan minggu ini aku bersama dua rekan kerjaku perempuan. Hanya butuh satu bulan untuk aku cepat akrab dengan mereka.

“pik aku bawa makanan ini lumayan buat malam ngemil” ucap Lia yang sudah mulai duduk di meja kerjanya “wah mantap itu Li, eh Fir jan serius amat kerjanya, sama aku santai aja” jawabku sambil menegor Fira

“gila sih Pik banyak bgt job aku malam ini, semoga sesuai target yah” ucap Fira Jam bergulir dengan cepat, bahkan aku hanya beberapa kali berdiri mengisi ulang gelas air minumku saja.

Aku lihat Lia dan Fira sama sibuknya. Sampai-sampai aku hanya dikagetkan dengan suara security yang seperti biasa sudah jam 00:01 lebih pasti akan berjalan mengecek semua ruangan.

Lantai 2 jelas hanya aku, Lia dan Fira saja, lagi-lagi komunikasi dengan mereka berdua perempuan itu hanya sebatas perkejaan saja. Aku melihat jam didinding sudah jam 02:00 “Pik anter aku ke toilet, aku serem kalau sendirian” Ucap Lia sambil mendekat ke meja kerjaku

“yaudah ayo, Lia gpp sendirian dulu?” tanyaku pada Lia “gpp Pik lagian aku sudah selsai, mau tiduran dulu di sofa sebelum pindah ngerjain yang lain” jawab Lia, yang langsung berjalan menuju sofa

Setelah kejadian bulan lalu, di shift malam pertama, aku sudah tidak pernah lagi ke toilet ini, ataupun ke mushola tiap kerja pagi, siang atau malam selalu memaksakan untuk solat di Masjid yang tidak jauh dari gedung ini. Karna kejadian yang tidak masuk diakal itu

Dan dengan Lia ini adalah kali ke dua aku sedang berjalan menuju toilet, sambil berjalan Lia hanya bicara soal pekerjaan, target dan segala resiko yang berkaitan dengan perusahaan. Keluar lorong, menaiki tangga dan sampai di musola juga toilet segera Lia masuk ke dalam toilet

“Pik tunggu loh, sakit perut kayanya aku” ucap Lia sambil masuk ke toilet “yaudah aku tunggu di mushola sambil rebahan yah” ucapku, langsung merebahkan badan tanpa melepas sepatu, hanya bagian badan saja

Sambil bermain hp, membuka beberapa akun media sosialku, aku mendengar langkah kaki! pikir aku Fira yg menyusul sekalian mau ke toilet juga.

Langkah kakinya pelan, seperti dekat tangga, aku dengarkan baik-baik untuk memastikan langkah kaki itu benar atau hanya pendengaran aku saja. Hampir 1 menit lebih aku dengarkan baik-baik, bahkan Hp aku simpan disaku celana.

“benar langka kaki yg sering aku dengar tapi lebih pelan” ucapku dalam hati Segera aku bangun berjalan pelan ke arah tangga karna aku ikuti rasa penasaran itu, tidak ada apapun! Kosong!

Aku melihat antara lorong dan lampu tangga kalau ada orang pasti terlihat banyanganya. Aku pastikan dengan detail, tetap tidak ada apapun!

Baru saja badanku berbalik perlahan, banyangan hitam melintas sangat pelan, yg membuat aku kaget dan langsung melihat ke arah bayangan itu melintas, aku yakin dua bola mataku masih normal dan itu benar adanya! “apalagi ini!” pikirku Segera aku menuju depan pintu toilet

“Li, udah belum lama amat” ucapku pelan, mencoba menenangkan pikiran, yang takutnya kalau aku bilang Lia jadi ketakutan juga. “iyah ini udah Pik, bentar” jawab Lia

Aku hanya berdiri dan menyenderkan badan ke tembok dengan segera mengatur raut muka dan suara agar Lia tidak curiga dengan apa yang telah aku alami. Tidak lama Lia keluar. “kenapa Pik kayanya tidak tenang gtu” tanya Lia, penuh heran

“tidak apa-apa ayo cepet kasian Fira sendirian” jawabku menenangkan suasana Aku menuruni tangga, entah kenapa suasanaya jauh berbeda dengan barusan ketika baru menaiki tangga ini. “pik kok perasaan serem yah, apa perasaan aku aja gtu...” ucap Lia sambil menatapku

“engga ah biasa aja Li, jangan berpikir yg enggak-enggak ah” jawabku, sambil berjalan melalui lorong pendek itu Sampai diruangan, aku dan Lia langsung menuju kerja masing-masing tidak memperhatikan Fira sama sekali karna yang aku lihat dia sudah tertidur.

“biarkan saja Fira tidur Pik, kerjaannya sudah selsai ini” ucap Lia “iyah, kamu kalau mau istirahat, istirahat aja Li” ucapku “masih banyak aku ini Pik” jawab Lia pelan

Sedang berkerja dengan tenang, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan perempuan jelas sangat jelas. Deg! Aku jadi ingat kejadian barusan di toilet. “pik denger yang nangis!?” ucap Lia melihat ke arahku

Aku langsung memperhatikan Fira sambil berdiri, wajahnya menghadap ke arah senderan sofa “coba liat Fira, keknya Fira deh yang nangis Li” ucapku Segera Lia berjalan menuju arah Fira dan membalikan badanya “ihh pik serem…” teriak Lia

Suara tangisannya semakin keras, segera aku mendekat dan memperhatikan Fira, bagaimana tidak seram, rambut Fira yang terurai menutupi hampir semua mukanya, dan hanya sedikit bagian matanya yang terlihat.

Suara tangisan Fira melemah, segera aku sibakan rambut Fira dan benar memang menyeramkan apalagi bagian matanya terbuka sedikit, warna putih, hanya terbuka sedikit saja. “Fir heh sadar…” ucap Lia, mulai tidak tenang

Aku masih memperhatikan, anehnya tangisan itu tanpa air mata sama sekali, hanya suara! “ini ketindihan Li…” ucapku tenang “terus gimana Pik, aku tlp satpam saja?” tanya Lia mulai tidak tenang “sebentar jangan dulu, aku coba bisikin ke telinganya” jawabku pelan

Entah kenapa dipikiranku, aku memang tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tapi sepertinya dengan dibiskan ke telinga Fira akan masuk ke alam bawah sadarnya. “Fir, sadar Fir, pelan-pelan dalam hati baca surah-surah Al-Qur’an yg kamu bisa Fir…” ucapku ke telinga Fira pelan

Tangisannya makin melemah, sedikit demi sedikit melaun. “Lia dalem hati baca surah Al-Ikhlas yah” ucapku mulai tegang

Aku baca surah Al-Ikhlas dekat sekali dengan telinga Fira, pelan-pelan sangat pelan. Ketika surah terakhir “wa lam yakul lahu kufuan ahad (dan tidak ada sesuatu yang setara dengan dia)”

Aku hentakan dan aku tiupkan pelan ke arah telinga Fira, dengan yakin aku meminta pertolongan Allah. Aku ucapkan sampai tiga kali, dan ketika aku melihat ke arah Lia juga sama dia sedang membaca surah itu dalam hatinya. Seketika Fira membukakan matanya perlahan...

“Fir kamu kenapa, gppkan?” tanya Lia Fira masih saja diam perlahan aku bantu agar dia bangun dan bersender di sofa, aku bawakan minum di meja kerja Fira “baca bismillah Fir” ucapku sambil menyodorkan air putih

“gak tau aku mimpi kek ada sekumpulan orang gerak jalan gtu, pasukan apa yah banyakan bgt gtu tapi mukanya serem gtu loh Li, terus aku engga tau tiba-tiba kalian disini Pik” jawab Fira pelan

Aku langsung mencocokan dengan pengalaman aku di malam pertama disini, soal suara seperti orang berbaris (gerak jalan) dan aku memang sudah tidak aneh dengan suara itu

Setelah, itu Lia hanya menemani Fira dan aku kembali ke Meja kerja meneruskan pekerjaan walau masih tidak tenang dengan dua kejadian barusan yang baru saja aku, Lia dan Fira alami.

“Pik jangan bilang-bilang yah soal kejadian ini, sama Aban sekalipun takutnya jadi berimbas sama yang lainya yah, tar jadi masalah yang tidak-tidak dan berujung ribet sekali” ucap Fira, menjelaskan

“iyah lagian sudahlah, intinya kita aja yg tau, mungkin yg lain juga sudah mengalami gangguan di gedung ini” jawab Lia “maksudnya?” ucapku kaget, mendengar barusan apa yang dikatakan Lia

Lia menjelaskan, ketika dia sedang di toilet mendengar keran wudhu nyala, denger suara air. Lia menyagka aku yg menghidupkan keran air itu.

Aku menjawab dengan berat aku tidak sama sekali menghidupkan keran air tersebut. Mungkin ketika aku sedang memperhatikan soal suara itu dekat tangga. Dalam pikirku, masa sedekat itu aku tidak mendengarnya!

Bahkan Fira juga di shift malamnya pernah melihat pak Torik sekitar jam 2 turun dari Lantai 2 berjalan ke arah tangga, ketika pagi ditanyakan langsung Pak Torik tidak merasa dia ke Lantai 2 di jam segitu, dan malah bilang bahwa Fira mungkin kecapean jadi berpikirnya kemana-mana.

mirip dengan kejadian Aban, tapi aku tidak membadingan kejadian apalagi suasananya sedang seperti ini, takutnya malah menjadi diluar sadar aku, dan mereka yang aku bicarakan merasa terganggu, pikirku aneh.

Akhir shift malam ini membuat aku terkejut, benar seperti apa niatku sebelumnya ingin mengetahui dari rekan-rekan kerjaku. Dan ini jawaban pertama yang aku dengar.

Menuju pagi dan akhir jam kerja. Aku, Lia dan Fira fokus lagi pada pekerjaan, hingga waktu pagi pulang melewati lorong lantai 1 dan meninggalkan lantai 2 dengan kesan yang tidak pernah sama sekali berubah.

Setidaknya tentang keanehan lantai 2 ini jika bukan aku sendiri yang merasakanya, bukan berarti aku yang tidak normal dengan perasaan dan pikiran, berarti ada sesuatu yang pernah terjadi digedung ini! ***

Hari berlalu terus begitu cepat, berkabar dengan Ibu tentang segala kejadian ditempat kerja adalah hal yang menarik lainya, ibu selalu bilang memang dengan mahluk seperti itu kita selalu berdampingan.

Kuncinya, percaya adanya mereka dan selalu jaga pikiran dengan dzikir-dzikir yang ibu berikan padaku. Kejadian selanjutnya, ketika pada hari minggu ada lembur shift siang, ada 5 orang aku dan rekan-rekan kerjaku.

Karna selepas Magrib sambil istirahat Aban berinisiatif menonton film horror lewat proyektor (jangan ditiru)

Karna suasana rame, ototamatis menikmati film itu dengan sebagaimana mestinya, ditengah-tengah film baru saja sekitar 30 menit lebih, tiba-tiba lampu mati! mati mendadak seperti itu.

Aku belum mengalami hal ini sebelumnya, Otomatis suasana menjadi sedikit kacau, karna kaget. Tidak lama, Pak Torik security dengan tergesa-gesa menghampiri kami semua di Lantai 2 dan menyuruh untuk keluar gedung semuanya.

Aku dan rekan-rekan termasuk Aban, keluar dengan perasaan heran kenapa gedung ini harus mati lampu seperti ini. Setelah pak Torik menjelaskan. Karna memang setiap, Sabtu dan Minggu gedung ini tidak boleh ada lampu yang menyala.

Aku heran, semuanya juga heran, karna ini lembur pertamaku, tapi tidak ada berani yang bertanya lebih dalam, ketika Pak Torik juga tidak bisa menjelaskan semuanya. Hanya mengikuti peraturan yang sudah lama dijalaninya.

Akhirnya malam itu, kita semua pulang, setelah mengambil barang-barang semua. Diparkiran, tiba-tiba Aban menyapaku “pik aku sudah lama hampir satu tahun kerja disini, kenapa aku tidak pernah bertanya hal-hal aneh ke kamu, karna aku juga yakin kamu sudah banyak merasakan...

...apalagi waktu kamu di lorong mengentakan kaki seperti itu” ucap Aban pelan “lalu Ban maksudnya?” tanyaku pelan “maksudnya, sudahlah ingat pada niatan kita disini untuk apa” jawab Aban singkat

Setelah itu aku pulang ke kosan dengan saran dari Aban yang benar adanya seperti itu, “ingat pada tujuan” akhirnya aku mengiyahkan masukan itu karna masuk di akal

Lagian sudah sangat terbiasa sekali, dengan segala gangguan yang pernah aku alami, bahkan penasaran sedikit demi sedikit tentang gedung itu mulai berkurang.

Hari selanjutnya di pekerjaan Tiba-tiba Ani (salah satu rekan kerjaku) menyapa selain urusan kerja, ternyata Ani penasaran karna pernah Lia dan Fira cerita soal kejadian shift malam bersama mereka

Ani mengaku, dirinya memang bisa melihat hal-hal seperti itu, bisa dibilang sangat sensitif. Dari sini membuat aku kaget. Bahkan Ani mengiyakan apa yang aku bilang semuanya tentang kejadian yang pernah aku alami.

Ani juga sama tentang lorong lantai satu dan lorong lantai 2 menuju toilet pernah berpapasan dengan sosok wanita yang menurut dia sangat menyeramkan, dan itu terbilang sering. Memang dari cerita Ani, sedikit membuat aku menarik nafas dalam sekali, tapi benar juga kata Ani

“ya mau gimana yah Pik, bahkan aku juga tidak pernah menyalahkan apa yang pernah dulu terjadi di Lantai 2 ini, lagian jangan karna ketakutan itu jadi mencelakai diri kita sendiri”

Obrolan dengan Ani terbilang singkat, tapi jelas semuanya. Yang membuat pengalaman pertama dunia kerja memberi warna yang berbeda, pengalaman yang berbeda juga.

“langkah kaki itu pasukan belanda Pik, mukanya kasian seperti tersiksa, suara kaki itu seperti suara teriakan akan dulunya terjadi sesuatu di gedung ini” ucap Ani, ketika aku bertanya soal langkah kaki yang hampir sering aku denger di lantai 1 dan Lantai 2

Bahkan suara ketukan pada kaca ruangan kerja, yang ada suaranya saja tidak pernah ada wujudnya. menurut Ani, sudah hampir semua yang kerja disini pernah mengalaminya dan tidak jarang menjadi obrolan sesaat saja.

Walau obrolan dengan Ani adalah jawaban atas semua pertanyaanku sudah terjawab, masih ada sedikit rasa penasaran yang ingin aku puaskan.

Selepas pulang kerja menuju kosan, aku berhenti disalah satu Minimarket dan bersantai disana, segera aku membuka mesin search, mengetikan Nama jalan gedung dimana aku kerja, dan sedikit membuat aku kaget sudah banyak artikel tentang gedung itu.

Semakin aku baca, semakin tidak aneh dengan beberapa artikel yang menuliskan ceritanya, aku bisa membenarkan karna aku sediri mengalaminya, bahkan sebutan “Gedung Setan” adalah hal yang menarik lainya dari sisi lain gedung itu.

Apalagi beberapa informasi tentang tempat pemujaan setan (Freemason) menjadi hal menarik lainya, yang aku benarkan setelah mencari-cari informasi dari beberap security dan tentunya dengan Ani, Fira, Lia dan Aban

Dan semuanya menyutujui dan memang cocok sekali dengan pengalaman kami semua di gedung dan di Lantai 2

Hari berlalu, bulan berganti dengan cepat, segala tentang pengalaman baru ini menjadi modal berharga walau harus dengan kejadian yang kadang membuat aku ketakutan, tidak jarang membuat aku berpikir tanpa logika

Aku pikir, dimanapun tempat pasti memiliki satu kejadian masa lalu berharga, walau dengan kisah beragam. Sejarah memang selalu memberikan kesan dengan caranya untuk tetap diingat, seperti Gedung Setan dan Lantai 2 itu.

hal-hal mereka yang tak kasat mata adalah salah satu yang mungkin menarik, setelahnya sebuah misteri adalah pelajaran menghargai dari apa yang telah terjadi. Dimanapun, bukan hanya sekedar di Lantai 2 saja. - TAMAT -

Begitulah cerita Lantai 2, gw juga setuju dimanapun setiap tempat selalu dengan cerita menarik adalah cerita yang kadang tidak masuk diakal, terimaksih gw ucapkan kepada pemilik cerita yg sudah percaya gw bawakan ceritanya

Kepada pembaca sertia gw, aa dan kakak terimakasih selalu memberikan semangat, tuntutan nagih lanjut cerita dll, kalian terbaik.

“tidak ada yang lebih menyakitkan, ketika membaca kisah orang lain adalah menyalahkan kisahnya, mempertanyakan kebenarannya. Bukankah berbagi kisah adalah salah satu yang menyenangkan karna bisa belajar lebih dari kisah itu sendiri”

Yg belum ngefollow, silahkan follow @Teguh Faluvie karna bisa jadi kita selalu bertemu setiap cerita! Akhir kata, sampai berjumpa dicerita selanjutnya.

Typing to give you story! Beware! They can be around you when you’re reading the story! Enjoy! @#BacaHorror @KANG RT CERITA HOROR @Horor Indonesia #bacahoror #ceritahorror #ceritahoror

Teguh Faluvie

@qwertyping

Story Writer | Typing to give you a horror thread, thanks for supporting me. Info & download e-book klik link.

Follow on Twitter

Missing some tweets in this thread? Or failed to load images or videos? You can try to .