Thread Reader

Dr. Hanneke Farstad Meijer

@DrHanneke

Jul 13

18 tweets
Twitter

The storks have taken off! I’m so happy to finally share our new paper on the giant marabou stork Leptopilos robustus from Liang Bua on Flores, published today in @Royal Society Publishing doi.org/10.1098/rsos.2… This image by the fantastic @Gabriel N. U. depicts a scene at Liang Bua ~70ka

This paper has taken a while. The late Rokus Due Awe (@arkeologi_nasional) and I first described this species in 2010 based on four bones. Recent excavations have revealed more material of this fascinating species, and much of our original interpretation has changed since then!

Initially we thought that this species was a terrestrial bird, an insular giant. But the new material reveals well-developed wing bones indicating it was capable of active flight. This has significant implications for our understanding of the biology of this species.

Several individuals are represented at Liang Bua; males, females and even a juvenile. The birds likely nested in high trees surrounding the cave. As the sun heated up the air in the morning, L. robustus likely used the rising thermals to soar over the Flores landscape.

But how do several giant marabou storks end up in a cave, you ask? Good question. Frequent flooding of the nearby Wae Racang would have created standing pools of water, turning the cave into a cool and shady oasis for animals to drink.

This likely provided good hunting and ambush opportunities for Komodo dragons, and the presence of Stegodon (the only large herbivore on Flores) carcasses would have attracted scavengers like giant marabou storks and vultures to the cave.

Similarities between L. robustus, L. titan from Java and L. falconeri from Africa and Eurasia suggests that they were closely related, and L. falconeri may have been ancestral to robustus and titan. Flores and east Java appear to have preserved the last of the giant storks.

This work benefitted from the help and input of many kind and smart individuals, but I am especially grateful for the entire Liang Bua Team from Teras, Golo Manuk and Bere for their trust, friendship and contributions to research at Liang Bua.

Saya sangat senang akhirnya membagikan artikel baru kami tentang bangau marabou raksasa Leptoptilos robustus dari Liang Bua di Flores, yang diterbitkan hari ini di @Royal Society Publishing at doi.org/10.1098/rsos.2… Rekonstruksi Liang Bua oleh @Gabriel N. U.

Saat ini burung yang paling besar di Flores adalah elang laut perut putih (rentang sayap ~2 meter, berat 3 kg, tinggi 90 cm). Tapi sebelum sekitar 50.000 tahun yang lalu, ada spesies bangau marabou raksasa yang disebut Leptoptilos robustus di pulau itu.

Di tahun 2010, mendiang Rokus Due Awe (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta) dan saya identifikasi empat tulang dari burung raksasa ditemukan dari penggalian arkeologi di situs gua Liang Bua. Awalnya kami berpikir Leptoptilos robustus adalah burung yang tidak bisa terbang

Di dalam artikel yang baru, kami melapor bahwa beberapa bangau marabou raksasa, termasuk jantan dan betina dewasa dan juga burung yang belum tumbuh dewasa, pernah berada di situs Liang Bua.

Tulang-tulang yang lebih lengkap dari sayap dan kaki menunjukkan secara jelas bahwa Leptoptilos robustus mampu terbang dengan mudah. Leptoptilos robustus kemungkinan menggunakan naiknya arus udara yang dihasilkan matahari untuk terbang dan melayang tinggi di atas pulau Flores.

Penelitian baru kami menyarankan bahwa bangau marabou raksasa di Flores kemungkinan bersarang di atas pohon-pohon besar di daerah sekeliling Liang Bua. Banjir yang biasa terjadi dari sungai terdekat, namanya Wae Racang, menyisakan genangan air di dalam gua dan

menciptakan tempat yang sejuk dan teduh untuk diminum hewan-hewan tersebut. Situasi ini pasti memberikan kesempatan berburu dan menyergap untuk Komodo, dan bangkai Stegodon menarik hewan pemakan bangkai seperti bangau marabou raksasa dan burung bangkai ke dalam gua.

Tulang kaki dari Leptoptilos robustus sangat mirip dengan tulang bangau raksasa lainnya dari Watoealang di Jawa Timur, namanya Leptoptilos titan, dan keduanya sangat mirip dengan Leptoptilos falconeri, spesies bangau marabou raksasa yang punah dari Afrika dan Eurasia.

Spesies ini sangat berhubungan erat satu sama lain dan L. falconeri kemungkinan adalah nenek moyang bangau-bangau marabou raksasa di Benua Asia Tenggara. Sejauh ini, Flores dan Jawa tampaknya melestarikan keberadaan burung-burung terakhir dari garis keturunan yang menarik ini

Saya sangat berterima kasih kepada seluruh Tim Liang Bua dari Teras, Golo Manuk dan Bere atas kontribusinya untuk penelitian di Liang Bua 🙏

Dr. Hanneke Farstad Meijer

@DrHanneke

Bird paleontologist 🦤🦉🐓| Associate Professor & Curator of Osteology @UiB | @InsideNatGeo Explorer 2020 | EiC @OpenQuaternary | also @NMNH & @Naturalis_Sci

Follow on Twitter