Thread Reader

kalong

@cerita_setann

Apr 25

217 tweets
Twitter

a THREAD -LISA- Sembari nunggu warisan tumbal terakhir rampung, nih ada thread pendek. Masih seputaran pesugihan, ya. #bacahorror #bacahoror #IDN_Horor @#BacaHorror @Horor Indonesia

Sebuah kisah nyata yg belum lama di alami seorang teman baru, dan atas ijinya untuk di tulis dgn menyamarkan nama serta tempat kejadian. Di cerita ini "Aku" sebagai nara sumber.

Disclaimer : Mohon maaf, jika ada kesamaan nama dan tempat. Karena semua nama tokoh dan tempat sudah di samarkan.

Semarang, 2020. Jarum jam sudah menunjuk di angka 9 pagi. Aku yang baru menyelesaikan sarapan seadanya, bergegas membersihkan badanku yang tentu masih beraroma kecut dan apek. Maklum, bangun tidur langsung membeli sarapan.

Setelah semuanya rapi, dengan langkah penuh semangat, ku ayunkan kakiku menjemput kesempatan mendapat rizki, walaupun sebagian orang menjudge jika pekerjaanku haram, meski sebatas OB. Sebab, sudah sebulan ini Aku yang hanya lulusan SMA,

harus rela bekerja di sebuah tempat yang mungkin buat sebagian besar orang punya Stigma negatif. Sebuah tempat yang biasa di kunjungi bos-bos, pengusaha, atau orang yang sekedar ingin menghilangkan rasa lelah, penat, dengan bermanja dalam baluran tangan-tangan halus nan lembut-

pijatan wanita-wanita muda berjemari lentik. Sekitar 30an terapis wanita muda berasal dari berbagai daerah, beberapa suku, menjadi daya tarik bagi mereka yang berdompet tebal. Salah satunya Neng Lisa, wanita cantik berkulit putih dengan lesung pipit yang menjadi primadona.

Dara semampai yang berasal dari satu daerah di jawa barat ini, sudah satu tahun menghuni gedung berlantai tiga. Tapi beberapa bulan ini, Neng Lisa memilih kost sendiri di deretan kost-kost elit perkotaan, yang berjarak satu kilo meteran dari tempat kerja.

Seperti biasa, setelah berjalan kaki 15 menitan, Aku memasuki sebuah gedung dengan melewati gerbang dan halaman parkir lumayan luas. "Pagi pakde." sapaku pada security yang mendapat sift malam, pakde Sani. "Pagi juga, Nak Cahyo." balasnya tanpa senyum, sebab,

kulihat ia tengah sibuk mengisi daftar absen para pekerja yang mulai masuk, termasuk diriku. Sekitar sepuluh menit kemudian, dua patrnerku, Jono dan Hen datang. Di susul dengan wajah-wajah cantik, para terapis di belakang mereka.

Tanpa basa basi lama, kami segera memulai kewajiban kami masing-masing. Meskipun kami dari tim OB berjumlah tiga orang, namun dalam hal kerja kami punya tugas paten sendiri-sendiri.

Seperti halnya diriku, tugas utamaku menyiapkan selimut dan handuk serta menggantinya pada 20 kamar yang berderet dengan pencahayaan remang. Selama satu bulan aku bekerja, tak banyak terapis yang kukenal. Ya ... mungkin karena statusku atau memang sebagian dari mereka tertutup.

Di antara yang kukenal salah satunya Neng Lisa, ia ramah, supel dan sangat welcome pada siapapun, meski kudengar dia primadonanya tempat itu. Tapi keramahan, senyum manisnya, hari ini sepertinya hilang. Wajahnya begitu pucat dan terlihat murung.

Sampai sapaanku yang biasanya di balas dengan candaan, kali ini, tak di respon sama sekali. Rasa heran terbersit di benakku, melihat wajahnya seputih kapas, meskipun ia sendiri sudah berkulit putih, tapi putih wajahnya kali ini sangat berbeda dari yg kulihat hari-hari sebelumnya.

Apalagi, harum parfum yang biasa ia pakai, hari ini sangat lain, seperti harum semacam wangi bunga. Setelah selesai memasang selimut dan handuk di tiap-tiap kamar, sejenak kulepas sedikit lelahku di pintu belakang, tepatnya di bawah tangga naik.

Di temani sebatang rokok filter yang sudah kunyalakan, dan mulai kuhisap pelan-pelan, melambungkan kembali akan perubahan sikap Neng Lisa, yang kurasa sangat tak mengenakkan pikiran.

"Apa aku ada salah? atau memang dia ada masalah?" batinku mulai mencari-cari poin kesalahanku sendiri. Belum habis sebatang rokok yang tengah kunikmati, telingaku mendengar beberapa langkah kaki dari lantai atas yang menuju lantai bawah.

Menandakan jika ada terapis-terapis yang sudah di pilih tamu atau pelanggan tetap mereka. "Cahyo ...." satu suara memanggil namaku dari sebelah tangga. "Ya Jon." sahutku pada teman kerjaku, Jono. Kulihat dia mendekat ke tempatku duduk,

wajahnya yang sedikit basah bekas keringat, tampak seperti tengah menahan kekesalan. "Ada apa Jon? kok kayak lagi jengkel banget?" tanyaku setelah ia duduk di kursi plastik, depanku.

"Salahku apa coba, nanya baik-baik eee ... cuma diem tanpa menoleh. Sekalinya menoleh di sapa, malah melotot. Konyol." gerutunya yang membuatku mengerutkan kening. "Siapa yang kamu maksud Jon?" tanyaku.

"Itu tadi pas aku lagi ngepel kamar no 999, biasa ... Kamar kesukaannya sang primadona, pas kebetulan juga dia lewat, saat ku sapa, ya seperti itu tadi kejadianya." sahutnya sembari mengambil sebatang rokok.

Aku tertegun mendengar penjelasan Jono, Aku tau siapa yang Jono maksud meski tak menyebut nama. Tapi dari ucapan primadona dan no kamar yang di sebutkan, jelas yang di maksud Jono adalah Neng Lisa. "Woi.... malah ngalamun" seru Jono mengagetkanku.

"Memang hari ini Neng Lisa gak seperti biasanya Jon. Aku tadi juga sempat ketemu, tapi sama saja denganmu, di cuekin." ucapku pada Jono yang sesaat kulihat terdiam, setelah mendengar keluhku yang sama.

tenang aja. ini threadnya langsung selesai kok. 😄

"Barangkali memang lagi ada masalah dia. Ya cuma kesel aja tadi aku." ucapan Jono kali ini aku setujui. Sebab, hampir semua yang bekerja di tempat ini, mengenal sosok Neng Lisa yang periang dan ramah tamah serta dermawan.

Jadi wajar, jika aku dan Jono atau mungkin semua, merasa heran dengan sikap diam dan acuhnya Neng Lisa. Hari semakin beranjak sore, seiring ramainya para tamu, kesibukanku pun lumayan padat, hingga membuatku lupa dengan masalah Neng Lisa.

Sampai ketika tiba giliranku makan malam. Seperti biasa, nasi bungkus jatah dengan lauk ikan laut, siap kusantap di tempat yang sama, di bawah tangga.

Tapi baru saja tanganku akan menyuapi mulutku, tiba-tiba suara langkah kaki dari lantai atas terdengar disertai bau wangi kembang kamboja, ya ... baru ku ingat, jika parfum yang di pakai Neng Lisa hari ini, beraroma bunga KUBURAN.

Tanganku terhenti dan meletakkan kembali sejumput nasi beserta secuil daging, yang sudah hampir masuk kemulutku. Saat tiba-tiba Neng Lisa sudah berdiri di samping kananku, wajahnya masih sama dengan yang kulihat pagi tadi, putih pucat.

"Ehh ... Neng Lisa, ada apa ya Neng?" sapaku heran. Sedetik dua detik, sampai beberapa kali tarikan nafas, tak ada jawaban darinya. Hanya tatapan matanya yang sayu, seperti menyimpan sesuatu yang ingin di ungkapkan, tapi sulit untuk ia ucapkan. Bulu kuduku mendadak merinding,

ketika harum bunga kamboja sesaat memenuhi rongga hidungku. Mengingatkanku akan cerita dan film-film horor yang sering ku lihat dan kubaca lewat HP.

Ingin rasanya meraih pundaknya, saat ia menunduk dengan suara isakan, yang terdengar lirih. Tapi tertahan dengan rasa takut yang entah dari mana datangnya, tetiba saja mulai menjalariku.

Suasana kaku antara aku dan Neng Lisa bertahan selama beberapa menit, sebelum ia membalikan badan. Masih sempat kulirik matanya yang sembab akibat isakan tangis, sebelum ia benar-benar melangkah pergi dengan diam dan meninggalkan wangi bunga kamboja.

Sampai jam 10, jam istirahat, setelah pertemuanku tadi, aku tak bertemu atau melihat kembali Neng Lisa. “Mungkin pulang duluan ke kost" pikirku, saat semua terapis yang tak menempati mess keluar, tapi tetap saja mataku tak melihat Neng Lisa.

Sampai di kost ku yang sederhana pun, pikiranku masih saja terfokus pada Neng Lisa. Bukan masalah aku suka atau apa, tapi aku merasa ada yang janggal pada diri Neng Lisa. ***

Hari selanjutnya, sikap Neng Lisa tak banyak berubah. Ia masih acuh dan sesekali hanya menatapku dengan tatapan seperti kosong. Hal serupa juga di rasakan Jono, tapi tidak dengan yang lain. Mereka seperti biasa-biasa saja, tak merasa aneh dengan perubahan Neng Lisa.

Bahkan, terkesan seperti tak melihat kehadiran Neng Lisa. Hingga sampai hari ketiga dari perubahan sikap Neng Lisa, kurasakan keganjilan yang benar-benar tak masuk akal. Tepatnya selepas waktu Maghrib, saat aku tengah menumpuk selimut dan handuk kotor di keranjang besi dorong.

Ketika pikiranku yang tengah fokus pada pekerjaan, tiba-tiba saja telingaku mendengar suara rintihan tangis di tempat biasanya aku dan tim OB istirahat. Sejenak kuhentikan pekerjaanku dan menajamkan pendengaranku,

mengarahkan fokus pikiran pada suara tangisan cewek di bawah tangga. Suara rintihan dan tangisan yang masih begitu jelas terdengar, membuat rasa penasaranku, mendorong kakiku untuk melihat dan memastikan siapa yang tengah menangis begitu pilu.

Mataku tercekat mendapati satu sosok yang tengah duduk sembari terisak, rambutnya yang lurus dan hitam serta panjang sepinggang, menjuntai kedepan, menutupi wajahnya yang tertunduk.

Sosok yang memakai kaos putih, dengan jeans panjang seperti tak asing bagiku. Apalagi di lihat dari suaranya jelas itu adalah Neng Lisa. Tapi satu yang aneh, aku tak lagi mencium wangi bunga kamboja seperti biasanya, melainkan aroma amis dan busuk yang menyengak.

Saat langkahku berhenti dua meteran dari sosok Neng Lisa, suara tangisanya berhenti, seperti mengetahui kehadiranku di belakangnya. "Neng, kenapa Neng Lisa menangis di sini?" tanyaku dengan sedikit gugup dan menutup hidung setelahnya.

Neng Lisa tetap diam, namun kepalanya perlahan menengadah dan menoleh kearahku yang masih menutupi hidung. Rasa takut mulai menghampiri batinku, saat wajah cantik berlesung pipit Neng Lisa, menatapku dengan sayu memelas.

Guratan kesedihan terlihat jelas di wajahnya yang pucat seputih kapas, tapi bukan itu yang membuatku takut, melainkan dua bulatan pada kulit luar matanya. Pundakku semakin menebal saat Neng Lisa bangkit dan mendekat kearahku,

bau busuk dan amis semakin menyeruak takkala Neng Lisa tepat berada di depanku. "Mas Cahyo, tolong aku ... Mas Cahyo. Tolong." ucapnya lirih dengan wajah pucatnya dan bibir membiru. "Tolong apa Neng." tanyaku dengan gugup.

"Tolong bebaskan aku, tolong bebaskan aku, Mas Cahyo...." kembali ia berucap memohon, yang sama sekali tak kumengerti maksudnya.

Sebelum kujawab kembali, tiba-tiba dari pintu arah samping yang menghubungkan lorong tempatku biasa mengantar selimut dan handuk kotor, terdengar suara keras memanggil, membuatku terkejut dan memalingkan wajah.

Semakin keras suara panggilan yang ku hafal milik Pak Reyhan, mungkin karena tak ada sahutan dariku, atau mungkin aku sudah di tunggunya mengantar handuk dan selimut kotor.

Setelah kujawab teriakan Pak Reyhan, aku di kejutkan dengan sosok Neng Lisa yang sudah tak berada di depanku. Juga bau amis dan busuk yang ikut lenyap, membuatku bingung dan merasa aneh. Malam semakin beranjak larut, suara kendaraan yang lalu lalang,

semakin berkurang terdengar dari kost ku, menandakan jika kota semarang mulai lengang.

Meski rasa lelah dan waktu juga sudah menunjukan pukul 12, mataku rasanya enggan untuk terpejam. Pikiranku masih menyelami kembali, kejadian demi kejadian yang membuat isi kepalaku di penuhi tanda tanya tentang, Neng Lisa.

Ahh ... kenapa Aku begitu memikirkan Neng Lisa selama tiga hari ini. Siapa dia? Rumahnya? Keluarganya pun aku tak tau." ucap batinku mencoba mencari celah pembenaran, agar aku bisa melupakan semua rasa penasaran yang mengganggu pikiranku.

Selagi pikiranku masih berselancar, tiba-tiba suara ketukan pintu sedikit mengejutkan. "Tok ... Tok ... Tok. " kembali suara ketukan di pintu kostku terulang, setelah ketukan pertama tak kurespon. Aku masih terdiam sejenak, untuk memastikan.

Sebelum suara ketukan lebih keras kembali terdengar, yang akhirnya memaksaku bangkit dari kasur kapuk tak berseprai. Perasaan tak nyaman tiba-tiba menghampiri, saat aku sudah berdiri, membuat tanganku ragu untuk memutar gagang pintu.

Apalagi, wangi bunga kamboja mendadak tercium pekat, membuat pikiranku bertambah tak enak. Mataku benar-benar terperanjat, mendapati satu sosok yang berdiri, tepat di luar pintu, yang baru saja memaksa tanganku untuk membukanya.

"Neng Lisa! " tegurku dengan suara sedikit bergetar. "Kang Cahyo ... tolong saya kang...." sahutnya lirih dan meminta tolong. "Tolong apa, Neng? Apa yang bisa saya bantu buat Neng Lisa?" tanyaku yang mulai tersusupi rasa takut.

Neng Lisa tak menjawab, hanya suara isak tangisnya yang terdengar, membuatku mulai kebingungan. "Maaf Neng, sebenarnya ada apa? Kenapa Neng Lisa menangis dan ... Dan Neng Lisa mau minta tolong apa?" tanyaku lagi mulai gugup.

"Saya minta tolong, Kang Cahyo mau mengambilkan pesanan saya, kalau sudah jadi, soalnya saya besok mau pulang, Kang." ucapnya dengan air mata mengalir. Aku tertegun mendengar permintaannya, hanya demi sebuah pesanan, ia rela malam-malam begini datang ke kostku.

Selagi pikiranku menerka-nerka, ia berlalu setelah berpamitan. Dan bodohnya Aku, belum sempat menanyakan isi paketan dan di mana Aku harus mengambilnya.

Ahh ... besok sajalah kutanyakan." pikirku mengurungkan niat untuk mengejar sosok Neng Lisa yang baru saja hilang di tikungan gang depan kostku. Setelah kepergian Neng Lisa, bau kembang kamboja pun berangsur-angsur hilang. Segera kututup pintu kost, dengan perasaan tak menentu.

Kurebahkan kembali tubuh lelahku agar segera terpejam, dan berharap sejenak, bisa melupakan semua rasa penasaran yang memenuhi otakku. ***

Pagi itu, aku yang seperti biasa selalu datang paling awal di banding lainya, merasakan satu dorongan kuat yang tak mampu kutolak untuk melangkah kebelakang. Entah apa yang aku cari, sampai aku merasa bingung sendiri.

Hanya tumpukan-tumpukan selimut dan handuk, yang kulihat saat kakiku berhenti di gudang. Tapi, sesaat kemudian, telingaku mendengar langkah kaki bersepatu seperti turun dari lantai atas. "Paling mbak-mbak yang tidur di mess" pikirku.

Meskipun begitu, rasa keingintahuanku, membuat kepalaku menoleh. Posisiku yang dekat dengan tangga akhir, membuat mudah untuk mataku mengenali pemilik langkah tersebut.

"Neng Lisa." seruku setelah mataku mengenali sosok yang terlihat sangat cantik pagi ini, di banding hari-hari sebelumnya menurutku. Sikapnya pun sungguh berbeda kali ini, senyum ramahnya kembali mengembang,

juga wajahnya terlihat ceria serta bau wangi dari tubuhnya, kini seperti biasa, yang sehari-hari ia pakai. "Kang Cahyo, pesananku ada di alamat ini. Saya minta tolong ya sama kang Cahyo. Soalnya, cuma kang Cahyo yang selama ini baik, jujur, sopan sama saya.

jadi aku sangat percaya sama Kang Cahyo." ucapnya lembut dengan kilatan kesedihan, tiba-tiba kulihat di matanya yang bening. "Saya juga minta maaf sama Kang Cahyo, jika ada salah saya." ucapnya kembali.

Sejenak Aku terdiam, ada rasa nyeri menyisip di dadaku, ketika mendengar kata maaf dari bibirnya. "Saya juga minta maaf sama Neng Lisa, karena saya sudah banyak merepotkan. Terima kasih banyak untuk semua bantuan Neng Lisa yang begitu banyak kepada saya." sahutku yang tiba-tiba

saja meluncur dengan ucapan layaknya sebuah perpisahan, tanpa sadar. "Sama-sama kang, Aku juga terima kasih, Kang Cahyo mau membantuku terakhir kalinya." ucapnya penuh kesedihan. "Maaf sebelumnya Neng, sebenarnya Neng mau pindah kerja dimana? atau...."

"Sudah ya kang, saya mau pulang." Aku tak bisa lagi berucap ketika Neng Lisa memotong pertanyaanku sembari melangkah keluar. Lama Aku berdiri mematung dengan perasaan tak menentu, sampai satu seruan dan tepukan di pundakku membuatku terjingkat.

"Nglamunke opo!"(Melamunkan apa!)" seru pak Reyhan dengan logat jawanya. "ehh ... Pak Reyhan, enggak kok, Pak." jawabku gugup. Kulihat pak Reyhan tersenyum tipis, seperti tau akan lamunanku.

"Ini kok masih sepi, Pak?" ucapku setelah menyadari jika suasana masih begitu sepi, padahal sudah lewat jam sepuluh.

"Lho kamu belum di kasih tau? kalau hari ini kita libur. Karena baru saja dapat berita kalau Neng Lisa meninggal dunia." jawab pak Reyhan yang seketika membuat mataku terbelalak, tak percaya. Jantungku seakan berhenti berdetak, dadaku sesak dengan tubuh lemas seperti terlolosi,

ketika Pak Reyhan mengulangi ucapanya sekali lagi. "Gak mungkin, Gak mungkin...." teriak batinku yang masih belum percaya dengan ucapan pak Reyhan.

"Kamu kenapa Cahyo? kok jadi pucat banget wajahmu." tanya Pak Reyhan yang heran dengan kondisiku. "Tidak Pak, tidak apa-apa. Tapi bener Pak, Neng Lisa meninggal?" jawabku dengan suara bergetar.

"Yo bener to! masak ngabarin orang meninggal kok main-main...." Jawabnya agak sewot. "Bahkan Neng Lisa meninggalnya sudah tiga hari yang lalu. Baru ketahuan setelah di cek kostnya. Awalnya Neng Lisa dikira teman-temannya pulang kampung,

ada juga yang mengira jalan sama pacarnya, sebab seminggu yang lalu kata temanya dia mengeluh gak enak badan dan pengen pulang. Ee ... malah pulang selamanya." ucap Pak Reyhan menjelaskan.

Tubuhku tetiba seperti mati rasa. Kaku, seperti tak ada lagi darah yang mengaliri, setelah mendengar penjelasan lebih dari pak Reyhan. Sesaat kemudian, pikiranku langsung melayang mudur kewaktu tiga hari yang lalu. Saat pertama perubahan sikap Neng Lisa,

yang berarti hari itulah dia menghembuskan nafas terakhirnya. "Ayo, Cah." ajak Pak Reyhan setelah ia selesai mengunci pintu belakang dan gudang. Aku hanya mengangguk, lemas rasanya tubuhku seperti tak bertenaga.

Sebelum kuikuti ajakan Pak Reyhan, perlahan tanganku membuka kertas alamat, tulisan tangan Neng Lisa. Tulisan yang rapi dengan tinta hitam, menunjukan satu alamat yang tak asing bagiku. Langkah gontaiku mengikuti Pak Reyhan dari belakang,

nalarku masih terus mencerna pertemuanku dengan Neng Lisa beberapa puluh menit lalu. Wajahnya, suaranya, dan guratan kesedihan masih sangat jelas di pelupuk mataku. ***

Jerit tangis langsung menyambutku, yang baru sampai di halaman kost elit berlantai dua. Suara isakan yang mayoritas dari teman seprofesinya, membuat suasana duka teramat mendalam.

Aku dan Pak Reyhan, perlahan mendekat kearah kamar kost yang masih di kerumuni banyak orang. Dengan dada berdebar-debar, kusibak beberapa orang yang berdiri di pintu, membuat pandangan mataku sangat jelas melihat sebujur tubuh Neng Lisa dengan kondisi mengenaskan.

Tubuhnya yang masih terbungkus kaos putih dengan celana jeans, dalam posisi terlentang. Matanya melotot keatas, dengan mulut ternganga lebar. Kedua tangannya mencengkram kain seprai, seperti menunjukan, jika sebelum meninggal, Neng Lisa merasakan sakit yang luar biasa.

Bau busuk yang mulai menyebar dari raga tak bernyawa Neng Lisa, membuat semua orang yang datang, tak mampu bertahan lama. Apalagi melihat keadaannya, sangat membutuhkan mental kuat, sebab, sangat mengiris dan menakutkan.

Aku bersandar di tembok luar, ketika batinku tak mampu lagi menahan rasa yang sulit ku ungkapkan. Lebih-lebih, otakku kembali memutar memory beberapa kejadian yang kini ku tau, sebagai suatu isyarat akan kematianya. Ketika mataku mengedar kesekeliling,

tak sengaja berbenturan dengan mata temanku, Jono. Kulihat wajahnya begitu pucat, mungkin sama dengan wajahku saat itu. Tapi, dari tatapan matanya, Aku menebak, ada ketakutan luar biasa dalam dirinya, karena aku tau jika dirinya dan aku saja,

yang bertemu Neng Lisa selama tiga hari tepat saat kematianya. "Yok, kamu merasa ada yang aneh gak? Dengan kematian Neng Lisa?" tanya Jono, yang menarikku menjauh dari kerumanan.

"Entahlah Jon. Aku sendiri masih bingung, kayak gak percaya." jawabku dengan lesu. Aku dan Jono kemudian terdiam sejenak, melihat orang-orang yang berkerumun menjauh, ketika beberapa lelaki dan satu perempuan berseragam Polisi tiba di tempat itu.

"Sepertinya kematian Neng Lisa benar tak wajar" pikirku. Hari semakin beranjak siang, setelah melalui beberapa proses, jenazah Neng Lisa di bawa Polisi yang katanya kesebuah rumah sakit guna penyelidikan lebih lanjut.

Aku sendiri tak begitu berpikir atau menerka-nerka lebih jauh tentang asbab musabab kematian Neng Lisa, yang di rasa banyak orang ganjil. Tapi aku lebih memikirkan tentang pesan terakhir dari Neng Lisa, sebuah pesanan.

Suasana hati dan pikiranku hari itu benar2 dlm keadaan kacau, jangankan utk beraktivitas, makan saja, aku tak selera. Sampai ketika waktu sudah menunjuk pukul 4 sore, Aku yg masih bermalas-malasan di kamar kost, memutuskan untuk pergi ke sebuah alamat yg di tulis oleh Neng Lisa.

Beberapa lembar uang kertas warna hijau, sisa dari gaji pertamaku, menjadi modal menyusuri jalanan padat kota semarang, dengan di temani kendaraan sewa dari jasa taxi online. Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di alamat yang kutuju.

Dan tepat sekali dugaanku, jika tempat itu adalah sebuah tempat elite, yang menjual dan menerima pesanan pakaian khusus berlabel jutaan rupiah. Setelah berbasa-basi sebentar, kuutarakan maksud kedatanganku. Agak sedikit bingung, atau mungkin tak percaya si penjaga butik padaku,

sampai-sampai ia memanggil pemiliknya langsung. Wajah pemilik butik, yang awal begitu ceria penuh keramahan, tiba-tiba saja berkerut dengan tatapan menyelidik seolah tak percaya, setelah mendengar tujuanku dan tentang Neng Lisa.

"Kamu ini siapanya mbak Lisa mas?" tanyanya penuh curiga. Jujur Aku bingung menjawabnya saat itu, tapi akhirnya kujawab sebagai temanya. "Mas ... Tolong Mas jujur saja dan jangan mengada-ada." perkataan wanita pemilik butik, kali ini sedikit membuatku agak tersinggung.

"Buk! saya tak bohong! buat apa juga saya jauh-jauh kesini, kalau tidak di beri tau dan di amanahi Almarhum." jawabku sedikit ketus. "Tapi maaf, Mas ..., Coba Mas lihat ini." ucapnya kembali sambil menunjukan HP androidnya padaku.

Sekilas kulihat tulisan-tulisan di WA yang di tunjukan padaku, wajar dan biasa-biasa saja. Tapi, begitu aku membaca nama pengirim, tanggal dan waktunya, jantungku seperti berhenti berdetak.

Ya ... Di pesan WA sang pemilik butik, jelas sekali tertera nama Neng Lisa beserta FPnya. Bahkan, di dalam pesan-pesan itu, tertulis waktunya dari tiga hari yang lalu sampai beberapa jam sebelum kedatanganku.

Tapi ada yang lebih membuatku terkejut, ketika wanita berkerudung pemilik butik mengatakan, jika gaun pengantin pesanan Neng Lisa, sudah di ambil dua jam yang lalu oleh seorang pria seumuranku.

Aku benar-benar bingung waktu itu, kepalaku rasanya berat mengingat semua kejadian di luar nalar yang kembali kualami.

"Mas ... Mas kenapa? kok jd pucat gitu?" tanya sang pemilik butik membuyarkan lamunanku. "Nggak apa-apa buk. Cuma saya ini bingung, kok bisa Neng Lisa wa ibu, sedangkan baru td pagi Neng Lisa di temukan meninggal, dan meninggalnya juga di perkirakan tiga hari yg lalu." jelasku.

Sang pemilik butik yang masih tak percaya, seketika itu juga menelfon no WA Neng Lisa. Tapi sampai beberapa kali ia mengulangi panggilan, tetap saja no WA yang ia tuju tak tersambung. Sampai beberapa detik kemudian, setelah ia menyerah dengan panggilan yang tak tersambung,

kulihat wajahnya berubah menegang dengan mata melotot kearah layar gawainya. Sejenak kuamati jari-jarinya sibuk seperti sedang mencari sesuatu di pesan-pesan WAnya. Sampai akhirnya, raut wajah ketidak percayaanya, berganti rauh wajah pucat ketakutan.

"Mas, ini kok aneh." ucapnya dengan tangan mengulurkan gawainya kembali seperti ingin menunjukan sesuatu padaku. Lagi-lagi mataku terbelalak, ketika pesan-pesan di WA pemilik butik dari Neng Lisa yang sempat kubaca, hilang. Lebih-lebih, No WA Neng Lisa,

tertulis tanggal online terakhirnya empat hari yang lalu. Sang pemilik butik yang sudah percaya tentang Neng Lisa, tampak begitu gusar.

Ia masih sempat menyebutkan ciri-ciri pria yang sudah mendahuluiku mengambil gaun pengantin Neng Lisa, sebelum beranjak meninggalkanku dengan rasa takut.

"Apa mungkin Jono." tanyaku dalam hati, setelah mencerna ciri-ciri yang di sebutkan sang pemilik butik dan di perkuat penjaganya, yang sama persis dengan sosok Jono. Pikiranku yang kacau membawaku terus melangkah sampai tak kusadari jika malam sudah menjelang. Aku yang bingung,

akhirnya memutuskan kerumah Jono untuk sekedar menjawab teka-teki yang terus menggelanyuti di otakku. Langkah mantapku menyusuri sebuah gang, yang berkesudahan di lorong kecil dengan tiga rumah berjejer. Cahaya lampu yang masih terang, dari dalam rumah paling ujung,

membuatku yakin untuk mengetuk pintu kayu bertempelkan gambar-gambar club bola luar negri. Satu dua kali ketukan tak ada sahutan, setelah ketukan yang ketiga kali, satu suara dari dalam sedikit melonggarkan pernafasanku.

"Lho, Cahyo. sama siapa kamu? tumben?" tanya satu sosok lelaki 55an begitu melihatku, sembari membenarkan gulungan sarungnya. "Iya pakde. Saya sendirian dan mau ketemu Jono." jawabku dengan polesan senyum kecut.

Pakde Tri (ayah Jono), diam sejenak, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Sampai akhirnya sebuah jawaban yang membuat teka-teki dalam otakku semakin membuncah.

"Jono dari sepulang melihat temanya yang meninggal, pergi lagi. Wong dirumah paling cuma setengah jam. Ya ... sekitar jam satu an dia perginya sampai sekarang. Malah tak pikir sama kamu lo, Yok." terang Pakde Tri panjang lebar.

Setelah berpamitan, kuayunkan langkah gontai menyusuri kembali lorong dan gang, menuju jalan utama. Begitu sampai di trotoar, Aku yang baru ingat belum memesan transportasi jasa online, segera mengeluarkan HP dari saku jaket.

Hampir saja HP yang ku pegang terlepas, saat kubuka kunci pola, ada satu pesan lewat WA, pesan dari Neng Lisa.

"Kang Cahyo, maaf. Pesanan saya sudah di ambilkan Kang Jono" isi dari pesan Neng Lisa yang seketika membuat jantungku berdegup kencang. Apalagi di bawah tulisanya di beri emoji ringisan dengan gigi terlihat, semakin tubuhku merinding.

"ddduuaarr.... bbbrraaakk" Selagi keringat yang keluar dari tubuhku tengah mengucur deras, satu pemandangan mengerikan kembali terhampar di depanku.

Teriakan dan jeritan dari warga serta pengguna jalan, membuatku tersadar, jika di depanku sebuah kecelakaan tunggal baru saja terjadi. Sejenak Aku tertegun menatap sebuah sepeda motor yang hancur bagian depanya, sedangkan pengendara yang seorang diri terpental lumayan jauh.

Sekilas kuamati sepeda motor berwarna hitam buatan jepang, dengan beberapa gambar dan hiasan di separuh bagian, yang sepertinya tak asing bagiku. Mataku beralih pada sosok pengemudi yang tergeletak di tengah jalan, tepatnya di samping paping pembatas.

Dari beberapa orang yang mulai mengerumuni sang pengendara, ada satu sosok yang menjadi perhatianku, sosok berambut panjang dengan gaun putih berhias manik-manik. Sekilas tak ada yg aneh dari sosok perempuan itu, ia membaur dengan yg lain menatapi tubuh lunglai sang pengendara.

Namun, sejurus kemudian, sosok itu terlihat menari-nari sembari mengeLisangi kerumunan seolah tengah berbahagia. Dan anehnya, semua orang di tempat itu seperti tak melihat atau menyadari kehadiranya.

"Eeegghh...." lenguhan dan erangan memelas, menyentakku dari pada sosok perempuan yang masih menari-nari.

Rasa iba yang sedari awal muncul, terkalahkan rasa kagetku, ketika suara sosok pengendara yang lirih, menyebut namaku di sela-sela erangannya.

"Cahyo ... Cah..yoo..." Pelan, lirih dan memilukan suara rintihan dari suara yang sangat kukenal. "Jono...!" ucapku dengan terkejut. Beberapa orang langsung menatapku, mereka juga memberiku jalan untuk mendekat ketubuh tak berdaya Jono.

Aku yang duduk tersimpuh disamping tubuh lemah Jono, merasakan perih bagai tersayat menyaksikan kondisinya saat itu. Matanya mengerjap dengan mulut setengah terbuka, seperti sedang merasakan sakit yang teramat!

"Eengggh" sesak, suara erangan Jono, menjadi penanda terpisahnya antara raga dan sukma, atau salam terakhirnya pada dunia.

Sejenak ku palingkan wajahku kesamping, rasanya tak kuat melihat pemandangan begitu miris tapi menakutkan, akan kematian Jono. Matanya melotot dengan mulut melompong, darah yang sejak awal kulihat keluar dari hidung, setelah ia menghembusakan nafas terakhirnya,

seketika darah keluar dan mengalir dari mulut, telinga dan kepala bawah, sampai menggenangi aspal hitam sekitaran kepalanya. Aroma amis yang menguap dari genangan darah Jono, tiba-tiba berganti aroma kembang kamboja di hidungku.

Sedikit heran dan ingin kucari sumbernya, tapi ku urungkan, sebab dari belakangku beberapa orang polisi sudah berdiri. "Anda kenal dengan korban?" tanya salah seorang polisi kepadaku. "Iya pak, ini teman saya, Jono namanya." jawabku.

"Baik kalau begitu. Sekarang akan kami bawa korban kerumah sakit. Untuk masnya sendiri, tolong kabari keluarganya sekalian ajak kerumah sakit( ******)" sahut Polisi umuran 50an. "Baik pak." sanggupku langsung bangkit.

Aku mundur dan sedikit menjauh, memberi ruang para polisi yang akan membawa mayat Jono kerumah sakit. Saat itulah kulihat kembali sesosok wanita yang menari-nari begitu riang, aroma wangi kamboja kembali menusuk hidungku,

dan ternyata berasal dari tubuhnya yang putih hampir menyamai gaunya. Tubuhku sedikit gemetar ketika tatapan mata sipit menyorot tajam kepadaku. Apalagi, sepertinya tak ada satupun! dari sekian banyak orang yang menyadari kehadiran sosok wanita tersebut, kecuali Aku!

Satu tepukan di bahu dari seorang lelaki yang ku kenal akrab, menyadarkanku dari rasa tercekam. Matanya menatapku penuh makna disertai gelengan kepala seperti sebuah isyarat, yang membuatku penuh tanya. Belum hilang rasa terkejutku,

dengan kehadiranya yang tiba-tiba, beliau menarik segera tanganku menjauh dari tempat itu. "Yok, cepat kamu kasih kabar ke orang tua Jono! Dan ingat! Jangan kamu tatap DIA lama-lama!" ucap Pak Reyhan tegas, setelah membawaku menyebrang ke sebuah gapura kecil pintu gang.

"Pak, Aku takut banget pak!" ucapku yang mungkin berwajah pucat sekali saat itu. "Sudah Yok, kamu tenang! Harusnya kamu itu bersyukur!" sahutnya menenangkanku. Ingin rasanya Aku menangis, menjerit, atau apalah yang mungkin bisa melegakan pikiran batinku.

Tapi, suara dari tenggorokan dan air mataku rasanya enggan untuk keluar. Aku setengah berlari menuju rumah Jono, tanpa memikirkan lagi semua ucapan janggal dari Pak Reyhan, yang juga sudah melangkah pergi, kembali ke lokasi kecelakaan.

Suasana yang sudah mulai sepi di tiap-tiap lorong dan gang lingkup sekitar rumah Pakde Tri, mendadak berubah ramai, setelah suara jeritan tangis dari ibu dan kakak Jono yang rumahnya bersebelahan, begitu keras dan memilukan.

Aku sendiri tergagu di teras depan bersampingan dengan Pakde Tri, yang terdiam seperti sangat terpukul dengan berita kematian anaknya, Jono. Kediaman Pakde Tri malam itu di selimuti duka kesedihan yang sangat mendalam. Jerit tangis dan isakan serta suara tetangga,

mencoba menenangkan Ibu dan Kakak Jono, masih terus terdengar meski sudah tak sekencang awal. Sampai aku yang di minta menemani Pakde Tri dan beberapa aparat desa ke rumah sakit, tak kuasa membendung air mata.

Padahal, menangis adalah salah satu yang tak pernah atau biasa aku lakukan, meski dalam keadaan sesakit apapun, tapi tidak untuk malam itu. ***

Setelah kejadian malam itu, dan sempat mengikuti prosesi pemakaman Jono, aku terbaring lemah selama tiga hari. Untuk pulang kekampungku sendiri, entah mengapa rasanya enggan. Bahkan, sekedar memberi kabar keadaanku pada Orang Tuaku sendiri saja,

waktu itu seperti ada rasa sungkan yang menghalangi. Tapi untunglah, berkat saran dan bantuan tetangga-tetangga kost, di hari kempat, Aku sudah mulai kembali pulih. Namun kalau untuk bekerja, masih terlalu lemah.

Malam itu, adalah malam ke lima setelah kematian Jono. Hujan lumayan deras pas waktu sore, menyisakan rintik-rintik gerimis sampai malam larut. Hawa dingin yang seharusnya di rasakan, tapi tidak untukku malam itu.

Gerah, Panas, dan seperti senyap hambar yang kurasan di dalam kamar kostku. Suara canda tawa, atau musik dari tetangga kost yang biasa menghiasi, malam itu sama sekali tak ku dengar.

Entah mengapa juga, Aku yang sudah mulai bisa sedikit demi sedikit melupakan kejadian-kejadian aneh dan menakutkan, dalam beberapa hari yang lalu, malam itu tiba-tiba saja seperti terputar kembali dengan sendirinya di otakku.

Mulai dari Neng Lisa, butik dan kecelakaan yang merenggut nyawa Jono. Serta yang paling membuat tubuhku berkeringat adalah bayangan wanita bermata sipit, bergaun putih panjang.

Selagi pikiranku masih memutar memori ingatan, yang kemudian sampai pada Pak Reyhan, tiba-tiba tengkukku terasa dingin oleh sapuan angin yang entah dari mana datangnya.

Sejenak otakku ketarik menegang, manakala aroma khas menyeramkan yang sudah beberapa kali menghampiri hidungku, mendadak seperti memenuhi kamar kostku. Wajahku semakin menegang di iringi rasa takut, saat suara ketukan pintu dari luar kamar kostku, terdengar pelan dan berjeda.

Lama ku diamkan suara ketukan yang masih berulang-ulang, tanpa kusahuti dengan ucapan apapun. Sebab, rasa takut dalam diriku mulai menebal. Tubuhku benar-benar terasa dingin, ketika suara ketukan yang terjeda agak lama, berganti suara panggilan pelan menyebut namaku.

"Yok ... Yok ... Cahyo...." Pelan dan lirih suara itu memanggil-manggil namaku, namun sanggup membuat keringat mengucur deras dari tubuhku.

Aku paksa tubuhku yang mulai gemetar untuk duduk bersedeku disudut kamar, kututupi telingaku dengan kedua tangan dan menundukan wajah diantara dua lutut, tapi hanya berlangsung sebentar. Sebab, selang beberapa detik kemudian,

suara ketukan di kaca jendela kamar yang hanya tiga lembar bersusun tangga, memaksa wajahku untuk menengadah dan menatapinya. Cahaya dari lampu belakang yang lumayan terang, membantuku melihat dengan jelas satu wajah amat kukenal dari balik kaca jendela, sedang menatapku sayu.

Wajahnya putih pucat dengan bibir biru kehitaman, terlihat gurat kesedihan dari pancaran matanya, seperti ada satu penyesalan yang mendalam. "Yok ... maafkan aku, Yok." ucap sosok Jono pelan, tapi tetap saja, setiap suara yang keluar dari bibirnya menambah tubuhku menggigil.

Beberapa kali suara meminta maafnya di ulang-ulang, sampai akhirnya kuberanikan diri menyahut dengan mengiyakan, dan juga balasan meminta maaf dariku padanya. Tapi sosok Jono masih juga tetap berada di balik jendela,

hingga beberapa kalimat sebelum sosoknya menghilang, membuatku bingung di buru rasa penasaran. "Yok, kamu harus pergi dari di tempat itu. Pak Reyhan ... Pak Reyhan ... Pak Reyhan. Maafkan Aku, Yok." itulah ucapan, kalimat, yang terakhir kudengar sebelum sosok Jono menghilang,

meninggalkan bau wangi kamboja dan tanda tanya di benakku. ***

Hari itu, selang satu hari dari malam sosok Jono datang ke kostku, atau tepatnya masuk hari ketujuh kematian Jono, Aku berniat menemui Pak Reyhan. Kebetulan badanku yang bisa di bilang sudah 90% fit, bisa berkompromi dengan rasa penasaranku yang hampir membuncah.

Langkah semangat dan penuh harap sedari kost, sedikit berujung kecewa, ketika sesampainya di tempat kerjaku, Pak Reyhan belum datang. Dengan roman mulai di selimuti gelisah, aku menunggu di tempat biasa nongkrong bersama Jono, bawah tangga penghubung tentunya.

Senyap kurasa, hawa di sekitaran tempat yang biasa hangat, dengan kepulan asap rokok dan candaanku bersama Jono.

Sedangkan, Hen, salah satu teman satu tim di OB, tak bisa begitu lepas bergaul dengan kami, mungkin karena dia sudah menikah, dan sudah di karuniai seorang bidadari, membuatnya sedikit membatasi pergaulanya.

Siang itu, mataku melihat Hen begitu lesu, entah capek atau ada alasan lain, tapi yang jelas, guratan-guratan layaknya orang kecewa, begitu kentara di wajahnya. "Kenapa Mas Hen? kok kayak gak semangat gitu." sapaku saat ia menghampiriku dan duduk di kursi yang biasa Jono pakai.

"Katanya kamu mau resign dari sini, Yok?" ucap Hen balik bertanya. Sejenak Aku terdiam, mengingat kembali pesan dari sosok Jono. "Iya mas, ibuku di kampung minta aku pulang membantunya bertani." jawabku memberi alasan bohong.

"Apa bukan karena Neng Lisa dan meninggalnya Jono?" terhenyak tubuhku sesaat mendengar penuturan Hen. "Maksudmu mas?" tanyaku penasaran. Hen, sebentar menarik nafas panjang, sebelum menjawab rasa ingin tau ku, akan maksud dari ucapanya.

"Sebenarnya, semua pekerja disini, khususnya yang sudah lama dan bukan terapis, tau jika ...." terang Hen terputus. Bibirnya seperti ragu untuk meneruskan ucapanya, wajahnya menunjukan rasa takut, tapi entah karena apa.

"Kenapa mas? jika apa mas?" kejarku dengan dada berdebar penuh harap. "Maaf Yok, Aku mau nerusin kerjaanku dulu. Kayaknya dah mulai banyak tamu." pamitnya yang tak merespon lagi rasa penasaranku.

"Tapi memang benar kamu, Yok! Disini gak cocok dan bukan tempatnya untuk orang yang masih lajang bekerja." ucapnya sebelum berlalu dari hadapanku. Rasa penasaranku semakin tak terarah mendengar kalimat ucapan Hen, yang kurasa ada makna tersembunyi di baliknya.

Sekitar 10 menit, setelah kepergian Hen, orang yang aku tunggu dan kuharap bisa menjawab rasa penasaranku, datang. "Lho, sudah sehat kamu?" sapa pak Reyhan ramah, yang melihatku berdiri menyambutnya.

"Sudah Pak, tapi maaf, saya kesini bukan untuk bekerja, melainkan saya ada perlu sama Bapak." jawabku pelan. Pak Reyhan mengerutkan keningnya sebentar, matanya menatapku lekat, seperti ingin tau lebih dulu tujuanku, sebelum Aku sendiri yang mengatakan.

"Perlu apa, Yok?" akhirnya pertanyaan yang sudah kuduga, meluncur juga dari bibirnya. "Maaf pak sebelumnya, saya meyakini Bapak tau sesuatu yang ada kaitanya dengan kematian Neng Lisa dan Jono." sebuah pertanyaan tanpa basa-basi, tetiba saja lancar meluncur dari mulutku.

Pak Reyhan terkesiap mendengar serangkaian ucapanku, wajahnya seketika berubah menyengit, menunjukan ketidaksukaanya padaku.

"Kamu ini ngomong apa! Sudah jelas Neng Lisa meninggal karena penyakit Livernya. Sedang Jono meninggal karena kecelakaan. Kok kamu malah menanyakan dan menuduh saya tau sesuatu. Aneh kamu ini Yok." Bantah Pak Reyhan tanpa menatap kearahku.

"Maaf Pak ... Maaf sekali. Tapi saya merasa ada yang ngganjal dari semua kejadian ini. Seperti ucapan bapak saat di tempat kecelakaan Jono, siapa yang Bapak maksud DIA! dan kenapa saya tak boleh menatapnya lama-lama!" sahutku sedikit menggebu.

"Dan satu lagi! Mungkin Bapak masih ingat, ketika bapak menenangkan ketakutanku untuk bersyukur karena bukan aku! Pasti di balik ucapan Bapak, ada sesuatu yang Bapak ketahui." kembali kuberondong Pak Reyhan dengan mulai emosi.

Pak Reyhan terdiam, menunduk, dengan mata menatap keramik lantai bawah, seperti tengah mencerna ucapan-ucapanku. "Sudahlah, Yok, kalau kamu ingin berhenti dari tempat ini, gak apa-apa, itu lebih bagus." jawabnya pelan, seperti tak mau menjawab rasa penasaranku.

"Memang saya sudah memutuskan untuk berhenti Pak, tapi bagaimana bisa saya tenang jika banyak pikiran yang ganjil, terus menghantuiku. Apalagi, arwah Jono masih mendatangiku." ungkapku yang kali ini dengan suara lirih.

"Maksudmu!" kali ini kulihat wajah Pak Reyhan begitu serius mendengar penuturanku barusan. "Iya Pak ... kenapa saya datang kemari mencari Bapak? Itu karena arwah Jono." terangku yang membuat Pak Reyhan tertegun.

"Maaf Yok, saya masih banyak kerjaan. Bos juga mau datang hari ini. Jadi saya tinggal dulu." ujar Pak Reyhan yang kutau sebuah alasan. Tapi Aku sendiri tak bisa mencegah, ketika kakinya mengayun, meninggalkanku yang masih berdiri mematung penuh rasa kecewa.

Aku yang sudah berpikir tak ada harapan akan terjawabnya rasa penasaranku, hanya bisa melangkah gontai, meninggalkan tempat yang selama sebulanan pernah menjadi rumah keduaku.

Sampai malam menjelang, pikiranku masih diliputi tanda tanya dan kecewa. Harapan yang sudah kuanggap sia-sia, serta rasa takut yang masih selalu menyergapku, membulatkan tekadku untuk kembali ke kampung halamanku, di kabupaten perbatasan jawa tengah-yogyakarta.

Rasa takut kembali menghampiri, manakala suara ketukan pintu mengejutkanku di malam yang sudah larut. Aku sudah membayangkan jika ketukan itu pasti dari sosok arwah Jono, tapi kali ini Aku salah.

Ketukan yang kembali terdengar, kemudian di barengi suara seseorang mengucap salam, membuat rasa takutku berganti heran. Pasalnya suara itu sangat Aku hafal. "Pak Reyhan!" sapaku setelah kubuka pintu dan melihat sosok Pak Reyhan berdiri di luar pintu.

"Silahkan masuk pak." ucapku mempersilahkan. "Gak usah Yok, Saya kesini mau mengajakmu." jawaban Pak Reyhan membuatku mengerutkan kening. "Mangajak saya? kemana pak?" tanya heran.

"Kesuatu tempat yang bisa membuatmu mengerti semuanya." jawabnya, kembali membuatku bingung. "Ayo Yok! Sekarang! " kali ini suaranya tegas, mungkin karena Pak Reyhan melihatku yang malah melamun ragu.

Tanpa mendengar kedua kalinya, Aku segera menyambar jaket dan mengunci pintu kost serta mengekor di belakang Pak Reyhan. Satu hal yang sudah kuduga sejak awal mengikutinya, bahwa tempat yang kami tuju adalah gedung lantai tiga tempatku beberapa hari kemarin bekerja.

"Kita lewat belakang Yok." ajak Pak Reyhan yang hanya ku iyakan sembari terus mengikutinya. Tak sulit bagi Pak Reyhan, untuk masuk kedalam gedung yang sudah seperti rumahnya sendiri. Sebab, ia sudah puluhan tahun di tempat itu.

Jantungku mulai berdebar-debar setelah kakiku masuk lewat pintu kecil, yang hanya bisa dilalui satu tubuh tanpa bisa bersimpangan. Halaman belakang lantai dasar yang baru pertama aku masuki, terlihat indah dengan di desain mirip sebuah taman dengan karikatur khas tionghoa.

Tapi, ketika melangkah lebih masuk, ke separuh halaman yang beratapkan genteng, suasana seram sangat terasa. Hawa lembab dan singup kental menyelimuti, di tambah penerangan redup remang, sangat kontras dengan halaman sebelahnya yang terang walau beratapkan langit.

"Tempat apa ini Pak?" tanyaku pada Pak Reyhan yang tengah mengamati sebuah peti kayu terbungkus kain putih berenda, menggambar bunga-bunga mawar sebesar kepalan tangan orang dewasa.

"Ini adalah jasad Neng Lisa (sekali lagi nama samaran)" jawab pak Reyhan, seketika membuatku tercekat. "Maksud bapak?" tanyaku bingung di barengi rasa takut.

"Kamu pasti bingung." jawabnya singkat. Pak Reyhan kemudian mendekati peti mengkilap, yang kutebak dari kayu pilihan dan mahal tentunya. Perlahan kuamati Pak Reyhan tengah menyibak kain tilam putih, yang menutupi bagian atas peti.

Setelah tersingkap, tanganya kemudian membuka tiga buah gembok, yang terpasang di tiga titik samping dan menarik rantai kecil, pengikat antar ketiga gembok.

Pelan tutup peti kayu di geser Pak Reyhan menyamping, aroma wangi kamboja seketika menyeruak tajam setelah peti terbuka lebar, dengan sebujur tubuh wanita bergaun putih terbaring di dalamnya.

Jantungku mulai berdegup tak beraturan disertai keringat mulai mengucur deras, ketika pandanganku tertuju pada wajah mayat wanita di dalam peti. Wajahnya begitu putih hampir menyamai gaunya, matanya yang sipit, di hiasi bulu-bulu lentik, terlihat indah saat terpejam.

Bibirnya yang tipis terkatup rapat serta satu hiasan di kepala yang mirip dengan sebuah mahkota, menguatkan dugaanku, jika mayat wanita ini berdandan layaknya seorang pengantin. Namun, bukan itu yang membuatku ketakutan,

tapi wajah sosok ini, sama persis dengan wajah sosok yang kulihat menari-nari, kala kecelakaan di alami Jono sampai meninggal. "Inilah jasad asli Neng Lisa." jelas Pak Reyhan kembali.

Aku tak menanggapi penjelasan Pak Reyhan, Aku justru beringsut mundur dengan ketakutan, ketika sosok yang terbujur seperti melotot padaku. "Yok, kamu kenapa?" tanya Pak Reyhan seperti ikut bingung. "Gak Pak ... gak apa-apa." jawabku gugup.

"Lalu, apa hubunganya dengan semua ini Pak?" tanyaku dengan jantung masih berdebar kencang. "Kamu tunggu di situ saja." sahut Pak Reyhan yang malah memberi perintah padaku. Sedikit heran dan salut melihat apa yang tengah di lakukan Pak Reyhan,

ia begitu berani memolesi wajah jasad dalam peti dengan sesuatu yang mirip salep. Setelahnya, ia semprot seluruh tubuh jasad hingga bagian dalam peti sampai rata.

Seketika bau wangi sengit menyebar dari dalam peti, bersumber dari parfum yang di semprotkan Pak Reyhan. Yang entah apa mereknya, tapi bisa dipastikan, mahal harganya menurutku.

Ketika fokus mataku masih tertuju pada Pak Reyhan, tiba-tiba Aku merasakan tiupan angin lembut di leher belakang yang membuat bulu kuduku meremang. Beberpa kali Aku menoleh kebelakang, tapi hanya onggokan kain-kain putih lusuh yang terlihat.

Hingga pada satu ketika, mataku melihat dua sosok yang berdiri di luar bangunan tempatku dan Pak Reyhan berdiri. Kedua sosok itu samar terlihat, tapi jika di amati baik-baik, kedua sosok itu, seorang laki-laki dan perem perempuan.

Dingin dan kaku rasanya tubuhku, saat kedua sosok yang terlihat dari sorot matanya, menatapiku dan Pak Reyhan. Aku segera merapatkan tubuhku ke tubuh Pak Reyhan yang sudah selesai mengurus jasad dalam peti.

Pak Reyhan sendiri mungkin merasakan ketakutan atau sekedar kasihan denganku, sehingga ia mengajakku untuk meninggalkan tempat yang seumur hidupku, tak akan pernah sudi lagi untuk aku melihatnya.

Aku yg masih seperti awal berangkat, mengekor di belakang, merasa jika ada yang mengikuti langkah kami berdua. Sampai di depan kostku, aku masih tetap merasa yg mengikuti kami, ada di belakang. Tapi entah Pak Reyhan ikut merasakanya atau tdk, sebab, kulihat beliau begitu tenang.

"Maaf Pak! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku tak sabar meski Aku dan Pak Reyhan baru masuk dan duduk di lantai kamar kostku. Pak Reyhan tak langsung menjawab, ia menarik nafas panjang, wajahnya menyiratkan satu beban yang terlihat sangat berat.

"Kamu tau siapa pemilik tempat itu?" ucap Pak Reyhan, balik bertanya. "Pak Januar." jawabku. Tapi, tampaknya jawabanku tak di benarkan Pak Reyhan, ia terlihat menggelengkan kepalanya.

"Orang taunya bahwa tempat itu Januar pemiliknya, padahal, Januar sama denganku, sama-sama bekerja tapi tak bisa lepas." jawab Pak Reyhan, membuatku mulai bingung. "Lalu, siapa pemilik aslinya Pak?" tanyaku sangat penasaran.

"Mungkin kamu belum pernah melihatnya, namanya Pak Virgo." jawab Pak Reyhan menyebut nama yang asing bagiku. "Sedangkan jasad yang kamu lihat dalam peti tadi adalah Wujud dari BADAL Neng Lisa asli. Dia adalah salah satu sumber kekayaan Pak Virgo." sambung Pak Reyhan kembali.

"Kenapa Aku menyuruhmu untuk bersyukur? Sebab kamu tak di pilih menjadi PENGANTIN GAGAR MAYANG. Gaun pengantin pesanan Neng Lisa, yang lebih dulu di ambil Jono, Hanyalah sebuah simbol." jelas Pak Reyhan.

Aku masih bingung mencerna semua penjelasan Pak Reyhan, yang sepertinya mengandung teka-teki lebih besar dari sekedar kematian Neng Lisa dan Jono. "Setelah nanti Kuceritakan semuanya, pulanglah. Jangan pernah berpikir untuk kembali bekerja di tempat itu,

kecuali jika kamu sudah menikah. Sebab, Pak Leo Hanya mengorbankan perempuan dan laki-laki lajang yang belum punya ikatan." satu pesan mendalam dari Pak Reyhan, sebelum beliau menceritakan semuanya.

Dari mulai siapa Pak Virgo, Januar, Jasad dalam peti yang sebenarnya Badal perewangan dari Pak Virgo. Setelah mendengar cerita panjang lebar pak Reyhan, aku menyimpulkan jika Aku dan Jono yang memang sudah menjadi target untuk di jadikan tumbal Pengantin Gagar Mayang,

untuk di pasangkan dengan Neng Lisa terapis, yang sudah menjadi wadal lebih dahulu. Sedangkan sosok asli Neng Lisa adalah anak dari Pak Virgo yang menjadi wadal awal, tapi tubuhnya akan utuh, untuk terus mencari wadal baru bunga Pengantin Gagar Mayang setiap setahun sekali.

Pak Virgo, orang kaya raya dengan banyak usaha, di mana para pekerjanya rata-rata wanita dan pria muda, sebab, ia yang sudah bersekutu dengan iblis, punya kewajiban menumbalkan satu lelaki bujang,

dengan perempuan lajang untuk di jadikan Pengantin Gagar mayang, yang telah ia buka awal dengan menumbalkan anak gadisnya, NENG LISA. Jono, dia lebih tergoda dan menerima tawaran menikah dengan sosok Badal Neng Lisa yang sebenarnya adalah wujud iblis perewangan Pak Virgo.

Padahal, tawaran itu sebenarnya hanyalah simbol untuk menjadikan Wadal dari Badal sosok iblis yang menjelma menjadi NENG LISA.... SELESAI. *** Semoga dari kisah ini bisa kita ambil hikmahnya. Ambil baiknya dan buang buruknya. terimakasih. salam rahayu

Temen-temen yang mau baca cerita horror "JANIN" yang membuat kalian ikutan emosi saat membaca, Nih link nya ada disini. 👇 karyakarsa.com/KALONG/janin-2

kalong

@cerita_setann

baca cerita horor https://t.co/S5WAZByzkF kerjasama & share cerita? silahkan DM

Follow on Twitter

Missing some tweets in this thread? Or failed to load images or videos? You can try to .