Thread Reader

Acep Saepudin

@acep_saep88

Jun 12

172 tweets
Twitter

Menulis lagi dgn harapan tulisan ini tidak stuck lagi...... --Petilasan Begawan Sakti di Tengah Hutan -- Sebuah cerita untuk hiburan semata. Semoga berkesan di hati para pembaca... @Penikmat Cerita HOROR @Suka Baca Cerita Horror @KANG RT CERITA HOROR @Horor Indonesia #ceritahorror #ceritaseram #ceritaaneh #absurd

Malam itu di tengah suatu hutan yg lebat, seorang laki-laki setengah baya tengah duduk menghadap ke arah suatu api unggun yg beberapa saat yg lalu ia nyalakan. Laki-laki itu adalah Pak Tasrin, seorang musafir yg hendak pergi ke kampung di mana putrinya tinggal.

Ia telah melakukan perjalanan yg sangat jauh dari kampung halamannya. Ia telah melewati beberapa tempat baik itu yg berpenduduk maupun berupa wilayah kosong seperti hutan yg saat ini tengah disinggahinya. Ia kemalaman di tengah hutan tersebut, dan merasa tidak mungkin untuk

melanjutkan perjalanan di saat hari sudah gelap seperti itu. Pak Tasrin yg tengah menghadap ke arah api unggun sambil merenung, mendadak lamunannya buyar ketika mendengar suara gemerisik dari arah belakangnya. Saat menoleh, ia tidak melihat apa-apa meski nyala api unggun saat

itu cukup terang. Namun, suara gemerisik yg seperti suara sesuatu yg menabraki semak-semak terus saja terdengar dan berpindah-pindah dari satu titik ke titik yg lain. Pak Tasrin merasa begitu penasaran. Ia lantas mengambil beberapa batang ranting dari api unggun yg ujungnya

berapi. Dengan nyala api dari ujung ranting-ranting kering tersebut, ia menyoroti area di mana sebelumnya suara gemerisik itu berasal. "Tidak ada apa-apa, ya. Aku khawatir kalau itu adalah binatang buas. Mau tidak mau aku harus meninggalkan tempat ini," gumam Pak Tasrin seraya

mengumpulkan ranting-ranting kering dan dedaunan kering dengan maksud membuat obor seadanya. Namun, tiba-tiba ia mencium bau seperti kemenyan yg dibakar namun lebih menyengat hingga membuat kepalanya terasa pusing, "Siapa yg membakar kemenyan di tengah hutan begini?" gumamnya

dengan heran. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, membuat apapun yg ada di sana berhamburan. Api unggun yg dibuat oleh Pak Tasrin pun beterbangan karena tertiup angin yg sangat kencang. Di tengah kekagetannya, tiba-tiba sesuatu yg tak kasat mata menerjang ke arah Pak Tasrin

"Aaaaa..........!!!" Suara teriakan Pak Tasrin membahana sesaat setelah sosok tak kasat mata menerjangnya kemudian membawanya menghilang di tengah kegelapan. Pak Tasrin menghilang, meninggalkan tas gendongnya yg tergeletak di dekat api unggun yg telah berserakkan.

Pagi hari di suatu kampung terdekat dari hutan di mana Pak Tasrin diserang sosok tak kasat mata. Seorang gadis tampak berdiri di depan sebuah rumah panggung beratapkan asbes sembari celingukkan. Ia trlihat seperti sedang gelisah. "Kenapa mimpi itu seperti begitu nyata?" gumamnya

sembari mengatupkan kedua telapak tangannya. "Ehm, Arsini. Kamu ngapain di situ? Jangan berdiri di tengah jalan, dong. Nanti ketabrak orang bagaimana?" ujar seorang gadis yg muncul dengan sepedanya. "Eh, Anah? Kamu mau ke mana? Ikut, dong," balas Arsini.

"Aku mau mengantarkan kue pesanan Bu Rini. Kamu beneran mau ikut? Nanti ketemu Raman, deh," tukas Anah seraya tersenyum simpul. Arsini terkekeh, "Kalau ketemu mas Raman, aku mau. Tapi aku tidak mau kalau harus ketemu ibunya. Dia menyeramkan tau," katanya sambil menutup mulutnya.

"Huss, jangan ngomong begitu ah. Kalau Bu Rini tahu kamu ngomong kayak tadi. Beuh, kamu bisa jadi pengikutnya. Hahaha," kata Anah sambil tertawa. "Eh, ayo naik. Aku bonceng sampe rumahnya Raman. Kalau perlu aku kasih bonus sepuluh meter lebih jauh lagi," tambahnya.

"Nggk apa-apa dapat bonus sepuluh meter lebih jauh. Yang penting pulangnya kamu boncengin aku lagi, ya," tukas Arsini seraya naik ke boncengan sepedanya Anah. Anah tertawa kemudian mulai mengayuh sepedanya. "Perhatikan rokmu yg panjang itu, Ar. Jangan sampe kena gir," ucapnya.

Saat Anah mulai mengayuh sepeda dengan membonceng Arsini, tiba-tiba Arsini terjatuh dari boncengannya Anah. "Ahhhh!" Arsini menjerit kesakitan ketika bokongnya terhempas menghantam tanah. "Arsini!" pekik Anah seraya menghentikan laju sepedanya. Ia lantas turun kemudian

bergegas menghampiri Arsini. "Kamu tidak apa-apa kan, Ar? Kok kamu bisa jatuh begini, sih? Kamu tadi pasti melamun?" ucap Anah seraya memeriksa Arsini. "Aku tidak apa-apa, An. Iya, nih. Tadi aku seperti kehilangan kesadaran sebentar. Aku seperti melihat bapak sedang terbaring

di bawah pohon beringin yg sangat besar," tukas Arsini seraya bangun kemudian menepuk-nepuk roknya yang kotor terkena serpihan tanah. "Bapak? Siapa yg kamu maksud, Ar? Pak Sunaryo?" Anah tampak penasaran dengan perkataan Arsini barusan. Arsini tidak menjawab. Ia malah tercenung

"Hmm, Pak Sunaryo itu bukan ayah kandungku. Beliau adalah ayah angkat. Aku belum bisa menceritakan soal ayah kandungku kepada Anah. Mungkin nanti saja aku ceritanya," ucap Arsini di dalam hatinya. "Ye, malah melamun. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Mumpung masih pagi," kata Anah.

Suasana dingin, gelap, dan menyeramkan dirasakan Arsini ketika memasuki rumah itu bersama Anah. Bulu kuduknya terasa begitu merinding. Ia sempat mencium bau aneh seperti bau amis bercampur bau kemenyan. Awalnya Arsini tidak mau ikut serta masuk ke dalam rumah itu. Namun karena

Anah memaksanya, ia pun terpaksa ikut masuk ke dalam rumah bercat dinding hitam mengkilat itu. Arsini celingukan seperti sedang mencari-cari seseorang atau sesuatu yg sempat dilihatnya. "Ar, udah, sih. Kenapa? Bu Rini tidak semenakutkan seperti yg kamu pikirkan, kok. Ingat ada

Raman, lho. Dia sedang merawat kebun kecilnya, tuh," ucap Anah seraya melihat ke arah seorang pemuda yg sedang berkutat dengan polybag-polybag berisikan tanah yg telah dicampur dgn pupuk, di halaman samping rumah. Arsini hanya meringis. Ia tidak menyahut perkataan Anah.

Tak lama kemudian tuan rumah muncul menemui Anah dan Arsini. Seorang ibu-ibu berkebaya rapi seperti hendak pergi ke kondangan, tiba di hadapan kedua gadis itu. Ia tampak menatap tajam ke arah kedua gadis berparas cantik itu. "Itu kuenya?" ucapnya dengan nada seperti agak

berdengung. "Iya, bu. Ini kuenya. Saya antarkan sesuai pesanan ibu," tukas Anah seraya menyerahkan kantong plastik besar berisi sekotak kue bolu karamel kepada Bu Rini. "Berapa harganya?" tanya Bu Rini seraya melihat ke arah Arsini kemudian mendengus. "Itu harganya dua puluh

ribu, bu," tukas Anah. "Tidak sepuluh ribu saja?" kata Bu Rini seraya menatap ke arah Anah dengan tatapan seperti tidak senang. "Tidak bisa, bu. Itu sudah harga pas, bu. Semua yg beli kue yg ini bayarnya juga segitu, bu," tukas Anah takut-takut. "Ya, sudah kalau tidak bisa

ditawar. Ini uangnya," kata Bu Rini seraya memberikan sepuluh lembar uang dengan nominal 2000 rupiah kepada Anah. Anah tampak tertegun menerima lembaran-lembarna uang tersebut. Sebab lembaran-lembaran uang itu tampak sangat lusuh. Bahkan beberapa di antaranya sudah sobek-sobek.

"Kenapa? Nggak mau uang yg sobek? Nggak mau uang yg lusuh? Dasar tidak tau bersyukur!" Bu Rini berkata ketus sembari melotot ke arah Anah. Anah dan Arsini pun saling pandang. "Nggak kok, bu. Uangnya tidak masalah, kok. Ini masih laku, kok. Warung juga masih mau menerima," tukas

Anah ketakutan. Beberapa saat kemudian setelah Anah dan Arsini keluar dari rumah Bu Rini, tampak perempuan pemilik rumah itu menatap ke arah ke mana perginya Anah dan Arsini. "Gadis itu cocok untuk menggantikanku. Dia harus menikah dengan Raman. Dia akan membangkitkan kembali

kejayaan para penyembah Wawagor," ucapnya seraya tersenyum miring ala karakter antagonis di sinetron. Sementara itu Arsini dan Anah yg telah berboncengan di jalan. "Sumpah tadi itu rasanya aku ingin bunuh diri saja, Ar. Kenapa sih harus ada orang seperti Bu Rini?" gerutu Anah.

Arsini hanya bisa terkekeh mendengar gerutuan Anah. "Mungkin lain kali jangan kamu yg mengantarkan pesanan Bu Rini, An. Terlalu berbahaya buat para gadis jika mengantarkan pesanan ke dia," tukasnya. "Eh, Ar. Tadi dia melihatin kamu terus, lho. Tatapannya itu persis seperti

tatapan setan yg hendak memangsa. Aku jadi takut kamu akan dimangsanya," kata Anah membuat Arsini meninjunya di pinggang. "Kamu ngomong apaan sih, An! Jangan membuatku makin parno aja dengan perempuan aneh itu!" ketus Arsini.

"Hahaha. Aku cuma bercanda kok, Ar. Biar nggak tegang karena abis ketemu orang aneh," tukas Anah. "Oh iya, Ar. Nanti sore kenalanku yg dari Jakarta akan datang ke sini, lho. Dia ganteng banget. Di FB aja dia selalu jadi pusat perhatian para cewek. Tapi dari semua cewek yg naksir

doi, doi lebih memilih aku, lho. Nanti aku kenalin kamu ke dia, Ar," tambahnya dengan penuh semangat. "Wah, keren, tuh. Aku juga berteman sama dia, An, dan aku jadi salah satu cewek yg patah hati karena dia lebih memilih kamu. Aku jadi penasaran apakah dia beneran ganteng atau

gantengnya cuma di FB doang," tukas Arsini seraya melihat ke arah suatu jalan setapak yg membelah suatu kebuh singkong. Ia mengerutkan keningnya saat melihat seorang laki-laki sedang berjongkok sembari menggerogoti umbi singkong mentah.

"An, berhenti dulu," ucapnya tanpa melepaskan tatapannya pada laki-laki yg sepertinya sedang kelaparan itu. Anah kemudian menghentikan sepedanya. Ia tampak penasaran. Ia pun turut melihat ke arah laki-laki itu. Arsini kemudian menghampiri laki-laki yg tampaknya berusia di atas

enam puluh tahun. Laki-laki itu terlihat begitu lusuh dengan tubuhnya yg kurus serta berwajah begitu sayu seperti sedang sakit keras. "Bapak nggak kenapa-napa?" ujar Arsini ketika tiba di hadapan laki-laki itu. Laki-laki itu menggeleng. "Bapak baik-baik saja, neng. Bapak cuma

agak sedikit lapar. Bapak tidak punya makanan. Terpaksa bapak memakan singkong mentah," ucap laki-laki itu membuat hati Arsini terasa seperti tersayat-sayat. "Bapak sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Bapak mending ikut saya saja. Di rumah saya ada cukup makanan. Bapak ikut

saya, ya," ucap Arsini seraya berjongkok di hadapan laki-laki itu. Laki-laki itu menatap ke arah Arsini. Tampak sepasang matanya yg sayu meneteskan butiran air mata. Ia sepertinya merasa terharu dengan tawaran Arsini. "Mari, pak," ucap Arsini disambut anggukan laki-laki itu.

Singkat cerita, bapak-bapak rapuh itu mau diajak ke rumah oleh Arsini. Sesampainya di rumah, Arsini memberi makan bapak-bapak itu hingga kondisinya semakin membaik. Namun, setelah selesai makan, tiba-tiba bapak itu jatuh pingsan. Itu terjadi setelah ia berpamitan akan pergi.

"Kita tidak bisa membiarkannya pergi dalam kondisinya yg tidak memungkinan seperti ini, Ar. Ia bukan warga kampung sini. Bapak akan mengumumkan soal bapak ini kepada warga. Mungkin ada yg tahu bapak ini," ujar Pak Sunaryo seraya mengambil handphone-nya dari saku.

"Kita harus memanggil mantri, Pak. Sepertinya bapak ini sedang dalam kondisi sakit. Wajahnya begitu pucat," ucap Arsini saat berada di samping tempat tidur di mana bapak itu berbaring. Pak Sunaryo mengangguk. "Bapak akan telepon Pak Mantri Ardi. Mudah-mudahan saja beliau tidak

sedang bepergian ke luar desa," ucapnya. Arsini mengangguk kemudian menatap ke arah bapak-bapak yg sedang terbaring di atas ranjang itu. "Bapak ini pasti abis melakukan perjalanan yg sangat jauh," gumamnya.

"Namanya siapa, pak?" tanya Mantri yg menangani bapak-bapak itu kepada Pak Sunaryo. Pak Sunaryo menoleh ke arah Arsini sambil mengerutkan keningnya. "Kami belum menanyainya, pak. Beliau ini tampaknya sangat keletihan. Beliau juga dalam kondisi sakit," tukasnya.

Percakapan itu terjadi setelah Pak Mantri datang untuk memeriksa kondisi bapak-bapak tersebut. Ia merasa perlu untuk mengetahui siapa nama pasiennya itu untuk pendataan. "Nanti kan akan ketahuan siapa saja yg layak mendapatkan fasilitas pengobatan gratis khususnya dari saya,"

ucapnya. "Iya, pak. Kami belum sempat menanyakan namanya. Beliau keburu pingsan, pak," timpal Arsini. Pak Mantri manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Pak Sunaryo dan Arsini. Mendadak ia menengadah, melihat ke arah langit-langit. "Bapak ini rupanya tidak sendirian,

Pak, mbak. Ada yg turut bersamanya dan itu ada di atas sana, menempel seperti seekor laba-laba," ucapnya membuat Pak Sunaryo dan Arsini terkejut. Arsini dan Pak Sunaryo saling pandang. Mereka berdua merasa heran dengan perkataan Pak Mantri barusan.

"Tidak perlu heran. Saya juga bisa melihat hal-hal seperti itu. Kalian berdua harus berhati-hati terhadap makhluk yg menyertai bapak ini. Jangan lupa untuk selalu meramaikan rumah ini dengan membaca ayat-ayat suci," lanjut Pak Mantri lagi.

Waktu berlalu. Setelah bapak tersebut siuman dan berangsur kembali sehat, Pak Sunaryo tidak lupa menanyainya baik siapa namanya maupun asalnya dari mana. "Saya Silam, Pak. Itu nama saya. Saya dulu tinggal di Desa Cikahuripan," papar bapak-bapak bernama Pak Silam itu.

"Cikahuripan? Terus sekarang bapak sudah tidak tinggal di sana?" tanya Pak Sunaryo. Pak Silam menggeleng. "Semua hal berharga yg saya miliki telah musnah di sana, Pak. Tinggallah kini saya sebatang kara," cerita Pak Silam. "Saya meninggalkan Cikahuripan, dan mengembara tanpa

tujuan hingga akhirnya saya tiba di sini." "Musnah bagaimana, pak? Bapak kehilangan keluarga bapak?" tanya Pak Sunaryo penasaran. Pak Silam menghela nafas beberapa saat sebelum kembali berbicara.

"Itu adalah malam yg sangat mencekam. Entah darimana mereka datangnya. Tiba-tiba saja mereka merasuki seluruh anggota keluarga saya dan membuat mereka menjadi gila sebelum akhirnya mereka tewas karena saling bunuh," jelas Pak Silam dengan raut wajah yg muram.

"Lalu bapak?" tanya Pak Sunaryo. "Saya satu-satunya di rumah yg masih sadar. Saya tidak dapat menyadarkan mereka. Saya juga tidak dapat meminta bantuan karena para tetangga saya juga mengalami hal yg sama. Malam itu benar-benar mengerikan. Bencana itu benar-benar di luar nalar,"

pungkasnya. Pak Sunaryo tampak menggelengkan kepala dengan perasaan tidak karuan. "Saya pernah mendengar mengenai hal itu. Karena itulah Cikahuripan sempat ditutup beberapa lama. Saya masih merasa tidak percaya jika hal tersebut benar-benar pernah terjadi. Penjelasan bapak

cukup membuka mata hati saya mengenai kejadian di luar nalar yg pernah terjadi di sana," ucap Pak Sunaryo. Pak Silam menghela nafas beberapa saat. Ia kemudian teringat saat dalam perjalanan melewati hutan lebat di sebelah tenggara kampung di mana saat ini ia berada.

Ia teringat akan suatu tempat di tengah hutan dengan beberapa batang pohon yg sebagiannya masih hijau namun sebagiannya lagi meranggas. Tepat di antara pohon-pohon tersebut terdapat gundukan tanah yg tingginya sekitar satu meter dengan beberapa arca dan tugu yg berada di setiap

sisinya. "Saya baru ingat saat dalam perjalanan di tengah hutan, saya menemukan suatu tempat yg sepertinya itu adalah suatu petilasan. Saya jadi merasakan kejanggalan-kejanggalan setelah meninggalkan tempat itu," ungkapnya membuat Pak Sunaryo mengerutkan keningnya.

"Kejanggalan yg seperti apa yg bapak maksud?" tanya Pak Sunaryo. "Saya sering mendapatkan penglihatan saya menjadi berwarna merah. Apapun yg saya lihat menjadi berwarna merah. Hal itu terjadi jika saya mendapat luka entah karena jatuh ataupun terkena goresan benda tajam. Padahal

sebelumnya saya tidak pernah mengalami hal seperti itu," tukas Pak Silam menjelaskan. "Selain itu, terkadang saya kehilangan kesadaran. Kemudian saat tersadar, tahu-tahu saya sudah berada di tempat yg bukan tempat di mana tadinya saya berada. Mungkinkah saya mengalami tidur

berjalan? Atau lebih buruk lagi," tambahnya. Pak Sunaryo hanya menatap kosong ke depan setelah mendengar cerita Pak Silam. Ia merasa agak pusing setelah mendengar cerita yg menurutnya begitu aneh dan tidak masuk akal.

Sementara itu Arsini pada sore harinya ikut bersama Anah menuju suatu tempat yg adalah alun-alun desa. Mereka akan bertemu dengan orang yg dikenal Anah melalui jejaring sosial. Dengan sepeda, mereka berdua menuju alun-alun sembari terus mengobrol.

"Ehm, yg lagi berbunga-bunga. Hati-hati, lho. Lama-lama bisa berbuah," ujar Arsini disambut kekehan Anah. "Apa sih, Ar? Jangan jealous, deh. Dia nggak sendirian, kok. Dia datang sama temannya. Temannya dia itu cowok, kok. Kali aja kamu cocok sama temannya. Hehehe," tukas Anah.

"Tapi, kan ada Raman. Jadi, kamu mah mending sama Raman aja, deh. Raman sudah jelas seperti apa orangnya," lanjutnya. "Tapi aku takut sama ibunya. Dia seperti perempuan titisan setan. Sorot matanya itu sangat menakutkan. Hiii," tukas Arsini bergidik ngeri.

"Tenang. Raman akan selalu ada untukmu, Ar. Dia akan menepis segala ketakutanmu akan ibunya," kata Anah sambil menggeleng. Tak lama mereka pun tiba di alun-alun. Di sana mereka melihat dua orang pemuda berpenampilan catchy sedang mengobrol.

Satu orang berambut agak klimis sedang berdiri sambil memainkan handphone. Satu orang lagi berambut dengan gaya seadanya sedang duduk sambil sesekali melihat ke arah orang-orang yg berkunjung ke alun-alun. "Mas Jason, ya?" tegur Anah ketika tiba di hadapan dua pemuda itu.

"Hai, kamu?" tukas pemuda berambut klimis bernama Jason itu. "Anah, kan? Wah, akhirnya kita ketemuan juga di duta," lanjutnya. Anah tampak tersenyum sumringah sembari bersalaman dengan Jason. Ia kemudian memperkenalkan Arsini. Jason pun sebaliknya memperkenalkan temannya yg

sedari tadi hanya menyimak sambil tersenyum. "Dia Saka. Temanku yg juga sama-sama dari Jakarta. Aku ajak dia karena aku nggak berani pergi sendiri. Lagipula nggak adil rasanya aku jalan-jalan nggak ngajak-ngajak sohib," kata Jason memperkenalkan Saka.

Anah tersenyum kemudian berujar, "Nah, mumpung kita lagi di alun-alun. Bagaimana kalau kita makan bakso. Bakso Mang Ucrit terkenal enak, lho. Makanya orang-orang pada ngantri beli baksonya dia." Sambil berkata demikian, ia menunjuk ke arah warung bakso yg tengah ramai pembeli.

Anah, Arsini, diikuti Jason dan Saka menuju warung bakso berspanduk “Warung Bakso Mang Ucrit”. Mereka pun mulai mengantri karena saat itu warung bakso tersebut dalam kondisi ramai pembeli. Sembari menunggu itu, Saka tampak seperti sedang keheranan. Raut wajah herannya semakin

nampak saat ia melihat ke arah warung bakso lainnya yg bersebelahan dengan Warung Bakso Mang Ucrit. Ia tampaknya merasa heran karena warung bakso tersebut begitu sepi pembeli. Sangat kontras dengan Warung Bakso Mang Ucrit yg begitu ramainya. “Ehmm, Arsini.” Saka menyenggol

lengan Arsini yg berdiri di depannya dalam posisi mengantri. Arsini menoleh ke arah Saka kemudian melihat gestur yg dilakukan Saka. “Entahlah. Aku tidak tahu, mas Saka. Memangnya kenapa?” kata Arsini sembari menatap penasaran ke arah Saka.

“Bagaimana kalau kita makan baksonya di sana aja? Kasihan warung baksonya begitu sepi. Lagipula kita tidak bisa terus mengantri. Lihatlah kita berada begitu jauh di belakang,” tukas Saka sembari melihat ke arah warung bakso dengan spanduk seadanya dari kain berwarna biru

bertuliskan “Warung Bakso Pak Ahmit dan Bu Sipi”. Anah dan Jason yg tertarik perhatiannya oleh percakapan Arsini dan Saka pun menoleh ke arah dua orang itu. “Lebih baik jangan deh, mas Saka. Konon bakso di situ berisi benda-benda tajam seperti paku, silet, dan beling. Mas Saka

tidak mau kan mati karena makan bakso di sana?” ucap Anah setengah berbisik sembari membentuk telapak tangan seperti corong di depan mulutnya. “Apa? Itu konyol sekali,” tukas Saka sambil menggeleng dengan nada tidak percaya. “Aku juga pernah mendengar gosip itu. Tapi aku tidak

tahu apakah itu benar atau tidak karena aku belum pernah membuktikannya,” timpal Arsini yg merasa kurang setuju dengan apa yg dikatakan Anah. “Percaya deh sama aku, Ar, mas Saka. Bukan cuma baksonya yg berisi silet atau paku atau beling, tapi juga di dalam kiosnya suka tercium

bau mayat bahkan bau bangkai yg tidak diketahui di mana sumbernya. Aku pikir warung bakso itu menerapkan penglaris dengan bantuan jin,” kata Anah menerangkan. “Atau sebaliknya,” tukas Arsini sambil menatap tajam ke arah Anah. “Justru yg menerapkan penglaris itu yg ramai

An. Masa mereka menerapkan penglaris tapi sepi begitu,” sergahnya tidak setuju. Anah menggelengkan kepala, “Kan bisa saja penglarisnya gagal dan berakibat pada sepinya warung mereka. Sudahlah, kita mengantri sampai kita dapat baksonya.

Kalau kehabisan ya kita cari tempat lain saja,” katanya. “Maaf, aku malah ingin membuktikan kata-katamu itu, nona. Arsini, kamu mau menemaniku ke warung bakso itu?” kata Saka kemudian melihat ke arah Arsini meminta persetujuan. “Bukan kata-kataku, mas Saka. Tapi aku juga dengar

dari orang lain yg pernah beli bakso di situ,” tukas Anah dengan raut wajah masam. “Mas,sebaiknya jangan lakukan itu. Bagaimana kalau ternyata benar?” tambahnya. “Saka, sebaiknya kamu dengar kata-kata Anah. Lebih baik jangan coba-coba. Kita tidak tahu apa yg ada di dalam sana.

Bisa saja kan desas-desus itu benar. Jangan mengambil risiko begitu, Saka,” timpal Jason berupaya mencegah apa yg ingin dilakukan Saka. Saka tersenyum, “Kalian percayalah, aku bisa menjaga diri. Jason, kamu tahu aku, kan? Aku tidak akan terpengaruh oleh hal-hal seperti itu.

Aku justru ingin menolong mereka jika mereka membutuhkan pertolongan. Siapa tahu sebenarnya mereka adalah korban,” katanya membuat teman-temannya merasa bingung. Jason hanya mengangkat bahu kemudian menatap ke arah Anah. Sedangkan Anah hanya menepuk kening.

“Aku akan menemani Saka. Kalian berdua teruskan mengantri. Semoga tidak kehabisan, ya,” kata Arsini kemudian keluar dari barisan antrian bersama Saka. Tak lama setelah Saka dan Arsini keluar dari baris antrian, beberapa orang yg sedang mengantri tampak berbisik-bisik sambil

melihat ke arah mereka berdua. Hal itu disadari baik oleh Saka maupun Arsini ataupun Anah. Apapun yg dibisik-bisiki orang-orang itu tidak diketahui. Namun, bukan tidak mungkin mereka sedang menggunjing bahkan mencibir apa yg dilakukan Saka dan Arsini. "Ayo, Arsini," ucap Saka

seraya melangkah menuju warung bakso di sebelah Warung Bakso Mang Ucrit. Saka dan Arsini memasuki Warung Bakso Pak Ahmit dan Bu Sipi. Mereka berdua disambut ramah oleh sepasang pasutri pemilik warung bakso tersebut. "Mari, silahkan akang, nyai. Sok pesan, mau bakso apa?" ucap

ibu pedagang bakso yg tampaknya dialah Bu Sipi. "Silahkan duduk, akang, nyai. Bade pesen leueuteunna? (Mau pesan minumannya?)" susul bapak-bapak yg pastinya adalah Pak Ahmit. "Ada varian apa saja, pak, bu?" tanya Saka sambil celingukan mencari daftar menu.

"Bakso urat aya, bakso telur aya, bakso tahu isi daging ayam juga ada. Bahkan bakso jumbo isi bakso dan cabe rawit super pedas juga ada. Sok, mangga pilih," tukas Bu Sipi dengan ramah sambil meraih selembar daftar menu yg ditaruh di atas meja kemudian memperlihatkannya kepada

Saka dan Arsini. "Wah, saya pengen yg jumbo, bu. Saya pengen makan baksonya berdua," ucap Arsini disambut tatapan keheranan Saka. Arsini tampak mengedipkan sebelah matanya. Di saat mereka berdua sedang berdiri di belakang gerobak bakso, mendadak tercium bau dupa yg menyengat

bercampur bau busuk seperti bau bangkai yg terpanggang sinar matahari. Arsini dan Saka sejenak menahan nafasnya seraya saling pandang dengan tatap ketakutan. Rupanya gelagat Saka dan Arsini terlihat oleh Bu Sipi. Wajah ibu-ibu setengah baya tersebut terlihat memancarkan

kesedihan. Bahkan setitik air mata terlihat menetes di sudut matanya. Sementara Pak Ahmit yg sedang mengelap kaca lemari pendingin, tampak menatap ke arah istrinya dengan raut wajah yg begitu sedih. "Ya Allah, mau sampai kapan tempatku mencari nafkah ini diguncang cobaan

seperti ini?" batinnya sambil meneruskan mengelap lemari pendingin itu. Saka dan Arsini celingukan kemudian melihat ke arah barisan antrian di depan warung bakso sebelah. Seketika Saka tersentak kaget ketika melihat sesosok makhluk mengerikan sedang turut mengantri di sana

tepat di belakang Anah dan Jason. Saka berusaha menguasai keadaan. Ia kemudian mengajak Arsini duduk. Mendadak. "Berhenti di situ, mas!" Pak Ahmit mendadak menyetop apa yg hendak dilakukan Saka, yaitu duduk di salah satu bangku.

Saka terhenyak saat melihat seekor kalajengking merah sedang merayap di atas bangku yg hendak didudukinya. Sementara Pak Ahmit dengan segera membunuh binatang berbisa itu menggunakan sebuah botol beling berwarna hijau. "Kami mohon maaf, mas, mbak. Ini sering sekali terjadi

ketika ada yg hendak makan bakso di warung kami. Entah kenapa kejadian ini selalu terulang. Padahal kami selalu membersihkan tempat jualan kami ini. Kami selalu memeriksa setiap sudut, celah demi celah, untuk memastikan tidak ada binatang berbahaya yg bersembunyi. Tapi, entah

kenapa binatang itu selalu saja muncul?" tutur Pak Ahmit sambil menggelengkan kepala dengan frustrasi. Saka hanya tertegun di tempat. Ia masih merasakan kekagetan dan juga ia masih mencium bau busuk dan bau dupa di dalam warung bakso itu. Arsini yg terlihat syok, merasa begitu

tidak nyaman. Ia ingin sekali keluar dari warung bakso itu dan membatalkan niatnya makan bakso di sana. Tapi ia merasa tidak enak hati kepada bapak dan ibu pedagang bakso itu. Sementara Saka, mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan warung bakso milik Pak Ahmit dan Bu Sipi

itu. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah pintu kecil yg tampak mengarah ke gudang atau mungkin kamar mandi. "Ada orang yg dengan sengaja mengerjai tempat bapak dan ibu berjualan," ucapnya membuat Pak Ahmit dan Bu Sipi tersentak kaget seperti disambar gledek.

Setelah berkata demikian, Saka menuju panci perebusan bakso kemudian membuka tutupnya. Tampak uap air mengepul ke udara menyebarkan aroma bakso bercampur bau dupa dan bau bangkai. Selanjutnya ia mengambil sebutir bakso berukuran sekepalan tangan orang dewasa. Ia kemudian

membelahnya menggunakan garpu. Selanjutnya yg terlihat di dalam bakso tersebut sangat mengejutkan dan membuat semua orang merasa ngeri. Ternyata di dalam butir bakso tersebut terdapat dua bilah silet, beberapa potong beling, tiga batang paku yg telah berkarat serta kepala tikus

yg dipenuhi belatung yg telah mati. Arsini terlihat tidak bisa menahan mual. Gadis itu segera keluar dari warung bakso kemudian muntah-muntah di samping bangunan warung bakso itu. Pak Ahmit menggeleng-gelengkan kepala. "Kami tidak pernah membuat bakso dengan isian seperti itu,

mas. Itu tidak mungkin kami lakukan, mas. Sumpah, bukan kami yg membuat bakso seperti itu!" Bu Sipi berkata dengan suara serak pertanda hendak menangis. "Ini bukan yg pertama kalinya, mas. Sebelumnya bahkan pernah hampir termakan oleh pelanggan, mas. Beruntung itu tidak sampai

memakan korban," timpal Pak Ahmit sambil berulangkali mengucap 'istigfar'. Saka kemudian membungkus bakso menjijikkan dan juga mengerikan itu dgn tisu kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik. "Saya tahu, ini terjadi karena ada orang yg ingin menyingkirkan warung bakso

kalian karena dia merasa tersaingi. Saya akan menemukan siapa pelakunya, pak, bu. Hanya saja setelah ini, bapak dan ibu harus berhati-hati. Jangan sampai salah melangkah. Percayalah, gangguan yg merongrong tempat usaha bapak dan ibu akan segera pergi," tutur Saka

seraya menatap ke arah Pak Ahmit dan Bu Sipi. Sepasang pemilik warung bakso itu tampak mengangguk dengan wajah muram. "Kami memang sudah menduga kalau apa yg menimpa warung bakso kami tidak lain karena ulah jahil orang yg tidak suka dengan kehadiran warung bakso kami. Tapi

kami tidak tahu siapa pelakunya. Kami juga tidak mungkin menuduh pemilik warung bakso lain yg lokasinya berdekatan. Kami selalu berprasangka positif terhadapnya. Tidak mungkin ia sekeji itu. Pasti orang lain pelakunya," ucap Bu Sipi seraya menatap ke arah luar warung bakso.

Saka tersenyum. "Siapapun itu pelakunya. Semoga ia segera bertobat dan menghentikan praktik kotornya. Jangan sampai ia terus seperti itu hingga ketahuan masyarakat dan dihakimi massa. Oh, iya, jika bapak dan ibu butuh bantuan saya, bapak dan juga ibu bisa telepon saya," ucapnya

seraya memberikan selembar kartu nama kepada Pak Ahmit. "Terimakasih, nak Saka. Kami merasa sangat berterimakasih atas bantuan nak Saka. Semoga saja tempat usaha kami ini segera bebas dari kungkungan kejahatan orang yg dengki," tukas Pak Ahmit seraya melihat kartu nama itu.

Sementara itu Arsini yg sedang berjongkok di samping warung bakso Pak Ahmit dan Bu Sipi, tampak wajahnya memerah serta kedua matanya terlihat berair. Ia baru saja memuntahkan isi lambungnya setelah menyaksikan hal yg sangat menjijikkan di warung bakso tersebut. Ia tampak

berusaha mengontrol dirinya meski ia merasa pandangannya agak berkunang-kunang. "Ini benar-benar mengerikan. Aku pikir apa yg dikatakan Anah tidak benar. Ternyata Anah benar. Warung bakso ini bermasalah," keluhnya seraya menoleh ke arah Saka yg datang menghampirinya.

"Lho, udah gelap aja? Apa kita sudah terlalu lama di sini?" ucap Arsini terkejut saat menyadari hari telah gelap. Saka menghentikan langkah kemudian mengedarkan pandangannya. Ia menggernyitkan keningnya dengan heran. "Aku rasa waktu menjadi cepat berlalu saat kita bersama

Pak Ahmit dan Bu Sipi. Ada yg mengawasi kita, Ar. Apapun itu, pasti sangat jahat. Kita sebaiknya segera pergi," tukas Saka mengajak Arsini untuk meninggalkan tempat itu. Arsini mengangguk kemudian beranjak mengikuti Saka. Namun kemudian ia terperangah saat melihat warung bakso

Pak Ahmit dan Bu Sipi yg telah tutup. Begitupun dengan warung bakso sebelahnya. "Bukannya kita baru beberapa menit yg lalu keluar dari warung bakso ini? Kok sudah tutup seolah itu tutupnya sudah lama? Bahkan ada jaring laba-laba segala di rolling doornya," kata Arsini keheranan.

“Jadi kita harus bagaimana?” tanyanya dengan panik sambil celingukan. “Tetap tenang, Ar. Ayo, aku akan membawamu keluar dari sini. Kita harus menemukan Jason dan Anah. Mungkin mereka sedang mencari-cari kita,” tukas Saka seraya membimbing Arsini menuju tempat di mana tadi sore

mereka bersama Anah dan Jason. “Mereka tidak ada di sini,” ucap Arsini ketika tidak melihat siapapun di tempat itu. Meski cahaya lampu menerangi area itu, tidak terlihat seorang pun yg berada atau hanya sekadar melewati

tempat itu. Alun-alun juga dalam kondisi sepi dan gelap karena beberapa lampu penerangnya tidak menyala. “Uhh!” Arsini mengaduh saat kedua kakinya terantuk benda keras yg tergeletak di atas tanah. “Kenapa, Ar? Biar aku lihat. Di bawah ternyata gelap juga. Padahal area sini

masih terkena cahaya lampu,” kata Saka seraya menyalakan senter smartphone-nya. Saka kemudian menyorotkan senternya ke arah kaki Arsini, tepatnya ke area ber-paving block yg dipijaknya. Betapa terkejutnya ia saat melihat benda yg membuat Arsini tersandung.

Begitupun dengan Arsini yg tersandung benda tersebut. Rupanya itu adalah sebuah tengkorak manusia yg telah mengapur dengan bagian batoknya berlubang di beberapa bagian. Arsini terpekik kemudian mundur beberapa langkah. “Tunggu, Ar. Jangan terlalu jauh.” Saka menyambar tangan

Arsini kemudian menahan gadis itu agar tidak mundur terlalu jauh. “Di belakangmu, Ar!” Arsini tidak dapat berucap apa-apa ketika sesosok menakutkan berwujud seorang perempuan berambut panjang berantakan dengan wajah menghitam serta sepasang matanya

yg kopong, tengah merentangkan kedua tangannya yg ringkih dan kurus kering, hendak meraihnya dari belakang. “Ar, jangan diam saja! Ayo kita pergi,” Saka menarik Arsini sekuat-kuatnya sehingga membuat gadis itu terjatuh hingga menabraknya. Alhasil Arsini secara tidak sengaja

jatuh ke pelukan Saka. Saka menjadi gelagapan karena hal itu. Ia pun segera melepaskan pelukan Arsini dan membawa gadis itu pergi menjauh dari sosok menakutkan yg kini tengah mengejar mereka berdua. “Kenapa bisa jadi begini, sih? Padahal tadi sore tempat ini ramai sekali.

Sekarang tempat ini malah sepi dan berhantu. Padahal kan kita belum terlalu lama di sini,” kata Arsini setengah menggerutu. “Aku akan menjelaskan fenomena ini nanti, Ar. Tentu setelah kita berada di tempat yg aman,” tukas Saka seraya menoleh ke belakang. “Sosok itu terus

mengikuti kita. Apa maunya dia? Atau apa mau orang yg mengirimnya? Apa seseorang itu tahu bahwa dia sedang aku selidiki?” lanjutnya. Di saat sosok demit bermata kopong itu semakin dekat dengan posisi Saka dan Arsini, mendadak seseorang muncul di hadapan mereka berdua.

Seorang kakek-kakek berpakaian garis-garis vertikal berwarna hitam dan mengenakan udeng-udeng berwarna hitam. “Kalian segera kemarilah. Berlindunglah di belakang kakek. Kakek akan menghalau demit kiriman orang usil itu,” ucap kakek-kakek itu seraya merentangkan tangan kanannya

ke arah sosok demit bermata kopong. Sosok itu mendadak berhenti kemudian terdengarlah suara seseorang bergema, seolah-olah keluar dari mulut sosok itu meski dia tidak terlihat menggerakkan bibirnya yg rusak itu. “Apa maumu mencampuri urusanku, Ki Rawuk! Kau adalah seorang

begawan yg jahat dan lalim tapi berlagak seperti orang baik yg ingin menjadi pahlawan. Kau munafik, Ki Rawuk. Menyingkirlah dari jalanku untuk menghabisi orang yg coba-coba ingin mengusikku!” “Aku memang bukan orang baik. Tapi setidaknya aku masih bisa berbuat baik, bukan?

Tidak seperti dirimu yg sepanjang hidupmu tidak pernah ada kebaikan sama sekali. Seharusnya kau yg pergi dan jangan mengganggu para manusia yg hidup normal,” balas Ki Rawuk seraya menatap tajam ke arah sosok demit bermata kopong. “Persetan denganmu, Ki Rawuk! Jangan pernah

berpikir aku akan menuruti perintahmu hanya karena kamu adalah ayahku! Tidak akan!” balas suara itu dengan suara menggelegar. “Ayah tirimu lebih tepatnya. Kau bukan darah dagingku tapi aku masih menganggapmu sebagai anakku karena permintaan ibumu. Berhentilah menjahati orang

lain terutama mereka yg hidup normal. Kembalilah ke Tungtung Dunya dan jangan lagi membuka portal menuju dunia manusia lagi atau aku akan mengurungmu ke dalam perut bumi!” tukas Ki Rawuk dengan nada mengancam. Sosok di balik demit bermata kopong itu tidak menyahut.

Hening, seolah sosok itu tidak lagi bisa membalas kata-kata Ki Rawuk. Mendadak sosok demit itu melesat kencang ke arah di mana Saka dan Arsini berada. Sosok itu melesat kemudian meliuk untuk menghindari sosok Ki Rawuk yg menghalangi keduanya. "Sudah kubilang, jangan ganggu

mereka!" Ki Rawuk menangkap pergelangan kaki kanan demit itu kemudian membantingnya dengan keras. Bummmm.... Mendadak Arsini terbangun dan mendapati dirinya tengah berada di atas tempat tidur di tengah rumahnya. Ia celiungkan kemudian melihat Pak Sunaryo sedang menatapnya

dengan cemas. "Arsini, kamu sudah siuman, nak," ucap Pak Sunaryo kemudian mendekat ke arah Arsini. "Ini? Kok aku ada di sini?" Arsini tampak kebingungan. "Lima jam yg lalu kamu pingsan di depan warung bakso Pak Ahmit dan Bu Sipi, Ar. Sebenarnya apa sih yg sedang kamu lakukan

di sana, Ar? Kamu tidak tahu warung bakso itu angker?" Pak Sunaryo menatap penasaran ke arah Arsini. Arsini hanya bisa menatap bingung ke arah Pak Sunaryo. "Di mana mas Saka, Pak? Aku ke warung bakso itu sama dia," katanya sambil celingukan.

"Tamu Pak Sudin itu? Dia juga ditemukan pingsan di tempat di mana kamu pingsan, Ar. Bapak pikir kalian berdua dikerjai demit yg menunggui warung bakso itu. Kamu kenal dia, Ar?" tukas Pak Sunaryo. "Kami baru berkenalan tadi sore, pak. Arsini cuma menemani mas Saka mengunjungi

warung bakso yg kata mas Saka sangat aneh dan mencurigakan." Arsini kemudian menceritakan kejadian yg dialaminya bersama Saka saat memasuki warung bakso itu. Pak Sunaryo tampak mendengarkan dengan seksama apa yg diceritakan oleh Arsini.

"Benar, kalian berdua dikerjai demit penunggu warung bakso itu. Masih beruntung ada orang yg menolong kalian berdua. Lain kali jangan lakukan itu lagi, Ar. Kalian berdua bukan orang sakti yg kebal terhadap serangan demit. Demit penunggu warung bakso itu terlalu kuat untuk

dihadapi. Bahkan sekelas Pak Tamrin pun menyerah. Katanya demitnya terlalu kuat," kata Pak Sunaryo memaparkan. Pak Sunaryo kemudian mengerutkan keningnya kemudian memicingkan kedua matanya saat mendengar suara burung gagak dari kejauhan.

"Suara burung gagak yg seperti ini sangat jarang terdengar. Sekalinya terdengar besoknya ada Rajapati. Kalau sampai itu terjadi, kampung ini akan terasa menjadi sangat mencekam. Semoga saja tidak terjadi hal-hal yg tidak diinginkan di kampung kita ini," ucapnya dengan waswas.

Saat itu hari beranjak siang. Di halaman belakang suatu rumah berdinding bata yg tidak diplester. Tampak Anah sedang menjemur beberapa potong pakaian yg telah ia cuci di tali gantungan yg direntangkan dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya. Ia menjemur pakaian sembari

bernyanyi-nyanyi dengan nyanyian yg agak membuat kening menggerenyit bagi siapapun jika ada yg mendengarnya. Ketika sedang menjemur pakaian itulah, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Bahkan orang tersebut berani melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap Anah.

"Hei! Apa yg kamu lakukan!" pekik Anah sesaat sebelum pemandangan menjadi buram kemudian menghitam gelap tanpa apapun yg terlihat. Hingga kemudian tampak Arsini datang dan memergoki seseorang yg sedang memperkosa kemudian membunuh Anah, sahabatnya itu.

Arsini terkejut bukan kepalang saat melihat hal itu. Selanjutnya sahabatnya itu tergeletak begitu saja tidak berdaya di atas tanah dalam kondisi berdarah-darah dengan setengah pakaiannya telah terlucuti. Jason yg kepergok Arsini langsung mengambil potongan batang kayu yg

sebelumnya ia gunakan untuk menghabisi Anah. Ia menderu ke arah gadis itu dengan potongan kayu yg siap digunakannya untuk menghabisi Arsini. "Kau pun akan mati! Tidak akan ada yg bisa menjebloskan aku ke penjara!" ucapnya dengan nafas menderu.

Jason yg sudah terhasut bujukan setan, sudah tidak memikirkan apapun lagi selain keamanan dirinya. Ia benar-benar akan menghabisi orang yg memergokinya. Arsini yg dalam kondisi panik segera mengambil langkah seribu. Namun, kakinya tersandung akar pohon hingga ia pun jatuh

telungkup. Maka jika melihat Arsini yg gagal melarikan diri, sudah dapat dipastikan jika gadis itu tidak akan selamat dari serangan Jason yg telah kesetanan. Namun, Arsini rupanya masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan. Hal itu terjadi karena seseorang tiba-tiba datang

menghalau Jason. Bahkan orang tersebut menjadi tameng bagi Arsini ketika serangan Jason mengarah kepadanya. Akibatnya orang tersebut menggelepar kesakitan. Potongan kayu itu telah membuat laki-laki tua yg ringkih itu jatuh tidak berdaya. "Pak Silam!" teriak Arsini dengan panik

saat melihat laki-laki tua itu tengah sekarat akibat menjadi tameng bagi Arsini dari serangan Jason. "Lari, neng! Lari!" teriak Pak Silam dengan nafasnya yg hampir terputus. "Jangan sia-siakan apa yg telah saya lakukan ini," lanjutnya dengan mulut yg melelehkan darah.

"Tapi, pak," ucap Arsini merasa tidak tega untuk meninggalkan laki-laki itu. Namun Arsini segera pergi ketika Pak Silam memberi isyarat agar ia segera lari. Di saat Jason hendak mengejar Arsini, Pak Silam memeluk kuat-kuat kaki kiri laki-laki kesetanan itu hingga membuatnya

tidak dapat mengejar gadis itu. "Bangsat! Matilah kau tua bangka!" Dengan sumpah serapah, Jason menghabisi Pak Silam dengan potongan kayu yg sangat keras itu. Laki-laki malang itu pun menyusul Anah menjadi korban keganasan pemuda yg baru dikenal gadis itu dua hari yg lalu.

Arsini lari pontang-panting dengan perasaan kaget, takut bercampur kemarahan yg amat sangat. Ia benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya akan pergi untuk selamanya dengan cara mengerikan seperti itu. "Anah! Maafkan aku yg terlambat datang. Seharusnya aku datang lebih cepat.

Kamu pasti akan selamat sekarang jika aku tidak terlambat!" rintihnya dengan perasaan pilu. "Saka! Aku harus menemukan dia!" Singkat cerita, di kantor polisi yg terletak di kecamatan. "Maafkan kami, nona. Tanpa bukti yg konkrit, kami tidak bisa memproses laporan nona.

Sebaiknya pulanglah kemudian baru kembali kemari dengan bukti-bukti yg sudah lengkap," kata polisi yg menerima laporan dari Arsini. "Pak, saya menyaksikan dengan kedua mata saya sendiri, laki-laki dari Jakarta itu memperkosa dan membunuh sahabat saya, Anah! Saya berani bersumpah

Untuk apa saya berbohong apalagi membuat laporan palsu?" tukas Anah dengan geram. "Maaf, nona. Pulanglah. Kami harus mengurusi laporan lain yg diajukan beberapa orang yg hari ini cukup membuat kami pusing. Jika nona sudah menemukan bukti-bukti yg cukup kuat hingga saksi lain,

kembalilah kemari," kata polisi itu dengan raut wajah dingin. "Tapi, pak..." Arsini tampak merasa keberatan dengan penolakan anggota polisi itu. "Maaf, nona. Saya tidak bisa memproses laporan selama belum ada bukti konkrit," tukas polisi itu seraya mempersilahkan Arsini untuk

pergi. "Baiklah kalau bapak tidak mau proses laporan saya. Saya tidak hanya akan mencari bukti tapi saya juga akan mencari pelaku dan menghukumnya dengan cara saya!" sorot kedua mata Arsini tampak begitu tajam saat mengucapkan kata-katanya barusan. Di pemakaman Anah. Setelah

Setelah para pelayat maupun keluarga Anah pulang, Arsini masih terpekur di samping kuburan sahabatnya itu. Ia menangis, meratap, menyesali apa yg telah terjadi terhadap sahabatnya itu. "Seharusnya kita tidak membiarkan bajingan itu dekat dengan kita, An! Aku berjanji akan

menemukan bajingan itu dan membalaskan dendammu, An!" ucapnya dengan suara bergetar. "Tapi aku harus mulai dari mana? Aku pasti akan mati sia-sia jika nekat mencari bajingan itu. Aku harus mencari seseorang yg bisa membantuku menemukan bajingan itu dan membunuhnya demi kamu,

Anah." Ketika Arsini sedang bergumam sendirian di samping pusara sahabatnya, seorang perempuan berpakaian serba hitam dengan kerudung yg ia sangkutkan di leher, memperhatikan serta menyimak apa yg dikatakan Arsini.

Perempuan itu kemudian melangkah mendekat ke arah Arsini. "Aku bisa membantumu, gadis." Arsini menoleh ke arah perempuan itu kemudian terperanjat dan mundur beberapa langkah.

Siang itu di suatu sudut jalan di suatu kota nan hiruk pikuk dengan aktivitas para penduduknya. Arsini tampak menatap dengan wajah tanpa ekspresi ke arah Saka yg menjadi lawan bicaranya. "Sungguh aku tidak tahu di mana Jason sekarang, Ar. Aku juga sedang mencari dia. Dia sudah

membawa kabur uang Panti Asuhan di mana aku adalah salah satu pengelolanya," ucap Saka dengan raut wajah yg tampaknya begitu frustrasi. "Aku salah telah mempercayai dia yg mengambilkan uang milik panti ke bank. Pada akhirnya dia malah membawa kabur uang itu," lanjutnya.

"Itu bukan urusanku, Saka. Urusanku adalah menemukan Jason dan membalaskan dendam Anah yg sudah dia perkosa dan bunuh dengan kejam! Jangan coba-coba kamu menyembunyikan dia dariku atau kamu akan kuanggap bersekongkol dengannya!" kata Arsini dengan nada mengintimidasi.

"Aku benar-benar tidak tahu di mana dia sekarang, Ar. Aku sudah bilang kalau aku juga sedang mencarinya, Ar. Maaf kalau aku lancang ya, Ar. Memangnya kamu mau membalaskan dendam Anah dengan cara bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Saka penasaran. "Kamu akan lihat itu

nanti, Saka. Temanmu itu akan mati mengenaskan seperti yg sudah terjadi pada temanku," tukas Arsini membuat Saka terkejut bukan kepalang. "Arsini, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku sarankan kamu tidak nekat melakukan hal-hal yg bisa membahayakan dirimu. Meskipun kamu

mungkin bisa melakukannya, tapi akan ada konsekuensi yg nanti akan kamu hadapi di kemudian hari," tukas Saka memperingatkan Arsini. "Aku tidak peduli apapun konsekuensi yg akan terjadi kepadaku, Saka. Tekadku sudah bulat, yaitu melenyapkan pembunuh sahabatku. Dia harus mati!"

ucap Anah dengan kedua matanya yg menyipit. Saka hanya bisa mengusap wajah seraya membatin. "Arsini sudah termakan bujukan perempuan itu. Apa yg harus aku lakukan? Tidak heran sih ia bisa termakan bujukan perempuan itu. Tekadnya membalaskan dendam Anah memang sudah melampaui

akal sehatnya." Malam itu tepat di belakang rumah milik Bu Rini (Ibunya Raman), tampak Arsini yg telah mengenakan setelan kebaya berwarna merah, sedang berdiri terpaku di depan suatu gapura yg terbuat dari batu yg dipahat menjadi seperti bata. Sementara di belakangnya Bu Rini

sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum sinis. "Aku berhasil mendapatkan calon penerusku. Dengan begini, aku tidak perlu khawatir lagi karena ketiadaan calon penerusku. Sekarang saatnya aku membawa gadis ini ke Petilasan Begawan Sakti di Tungtung Dunya," batinnya.

Arsini tanpa menoleh ke arah Bu Rini, mulai menggerakkan bibirnya yg bergincu merah. "Bisa kita mulai, bu? Saya harus membalas kematian sahabat saya kepada orang itu. Dia juga harus mati dalam keadaan yg lebih tersiksa lagi." Bu Rini masih tersenyum sinis kemudian berkata,

"Percayalah sama ibu. Pembunuh sahabat kamu akan mati mengenaskan. Tentu saja kamu akan menyaksikannya sendiri." Arsini mengangguk kemudian melangkahkan kedua kakinya melewati gapura batu yg berdiri di halaman belakang rumah Bu Rini diikuti sang pemilik rumah itu.

Sementara di balik pintu belakang rumah itu tampak seorang pemuda mengintip ke arah kedua orang itu. "Aduh, bagaimana ini? Arsini benar-benar nekat. Dia tidak mau mendengarkanku. Apa yg harus aku lakukan? Aku harus menemui Saka. Mudah-mudahan ia bisa membantuku mencegah Arsini

melakukan hal gila itu. Dia nggak boleh mengikuti kemauan ibu karena dia mau tidak mau akan menjadi penerusnya sebagai Abdi Wawagor," batinnya seraya beranjak meninggalkan tempat itu. Sementara Arsini dan Bu Rini telah menghilang di balik gapura di halaman belakang rumah itu.

Kembali pada Arsini dan Bu Rini yg telah berada di suatu tempat yg dipenuhi dengan pohon beringin serta dipenuhi kabut asap berbau aneh. Bau dari kabut asap begitu menyengat membuat siapapun yg mencium bau itu akan merasa pusing-pusing. "Di sana," ucap Bu Rini seraya menunjuk

ke arah suatu area yg diapit empat pohon beringin yg berukuran lebih kecil dari pohon-pohon lainnya. Di atas area itu terdapat empat buah tugu kecil yg berdiri di setiap sudutnya. "Arwah Begawan Kuno, kami datang menemuimu!"

Setelah berkata demikian, Bu Rini menoleh ke arah Arsini. Reaksi yg terjadi begitu tidak terduga karena tiba-tiba kedua mata Arsini membeliak hingga yg terlihat hanya putihnya saja. Tubuhnya juga terangkat tinggi ke udara. "Terimalah dia sebagai calon penerusku, eyang!"

kata Bu Rini dengan suara bergetar. Tak lama kemudian tubuh Arsini jatuh dan mendarat di atas tanah dalam kondisi tidak sadarkan diri. "Tujuanmu akan segera tercapai, gadis. Pergilah dan habisi orang yg telah membunuh sahabatmu," kata Bu Rini.

Acep Saepudin

@acep_saep88

Akun ini dkhususkan untuk menampung cerita2 karangan saya pribadi.

Follow on Twitter