Thread Reader
🎗️

🎗️
@dependentbeing

Dec 3, 2022
25 tweets
Tweet

▪️ Imam al-Ghazali dan Matematika: Sekelumit dari Al-Munqidz Min Adh-Dhalal ▪️ - a thread

Science-Faith

Science-Faith
@ermawanbb

Bagaimana ceritanya matematika itu tidak penting bagi seorang muslim, padahal banyak aspek syariat yang tidak bisa dilepaskan dari matematika? Mulai dari ilmu waris, ekonomi, sampai matematika untuk pendekatan sains yang terkait ibadah?
Sekilas dari pandangan Sang Imam, matematika dianggap sebagai sesuatu yang "netral", tidak bersifat (secara langsung) mendukung ataupun menyelisihi pokok-pokok agama.
Jika kita sederhanakan, mungkin maksud beliau kurang lebih adalah, misal terdapat persamaan matematika: 1 + 1 = 2 (x) Persamaan (x) didapatkan dari pendalilan matematis yang logis, rasional, dan konsisten, yang tidak ada sangkut pautnya dengan dalil agama.
Persamaan (x) tidak berimplikasi apa-apa terhadap aspek aqidah maupun fiqih, baik dalam tafsiran "menegasikan eksistensi Tuhan", "melawan perintah Rasulullah", dan tafsiran lain yang relevan. al-Ghazali kemudian menyatakan "...tak mungkin ditolak setelah dipahami dan diketahui."
Maksudnya adalah jika, setelah kita melakukan pendalilan matematis, muncul hasil 1 + 1 = 2, maka tentu akal yang sehat tidak akan mengingkari atau menolak hasil tersebut setelah dipahami dan diketahui.
Poin menarik selanjutnya adalah peringatan yang Imam Al-Ghazali sampaikan kepada umat Islam. Peringatan tersebut bukan berarti secara inheren ilmu matematika itu berbahaya , tetapi respon beberapa umat Islam, dalam menanggapi ilmu matematika-lah yang sebenarnya berbahaya.
Jadi, penekanannya pada respon (beberapa) umat Islam, bukan pada ilmu matematikanya an sich. Bahaya pertama, mengaburnya otoritas ilmu.
Beberapa umat Islam yang terkagum-kagum dengan pendalilan matematis para matematikawan kemudian menyangka bahwa tolok ukur kebenaran satu-satunya adalah dalil-dalil matematika. Sehingga, ia menghakimi syariat Islam dengan pendapat para matematikawan tersebut.
Otoritas ahli agama (ulama') kemudian direndahkan dan dianggap tidak penting karena, menurut beberapa muslim ini, pendapat matematikawan lebih sahih dibandingkan pendapat para ulama'. Padahal, otoritas dalam ilmu agama, bukan terletak pada matematikawan, melainkan pada ulama'.
Jika para ahli matematika tersebut membincangkan suatu pokok agama dengan keliru, beberapa umat Islam ini tetap saja mengagumi dan enggan berpaling, apalagi mengoreksinya. Mereka berpikir: Matematikawan pasti mengetahui segala hal, termasuk ilmu-ilmu syari'ah.
Pada kenyataannya, ilmu-ilmu syari'ah tidak dibangun berdasarkan pendalilan matematis para matematikawan, melainkan dibangun oleh metodologi spesifik yang disusun dengan sangat hati-hati oleh para ulama'. Misal, ilmu tafsir, ilmu hadits, usul fiqh, dan ilmu syari'ah lainnya.
Taqlid, yang dalam hal ini dapat dimaknai sebagai fanatisme buta sekumpulan umat Islam terhadap matematikawan, justru merupakan tindakan yang keliru dan dapat merusak agama Islam itu sendiri. Inilah bahaya pertama: mengaburnya otoritas keilmuan.
Bahaya kedua adalah bahaya yang disebabkan oleh sikap pengingkaran terhadap semua ilmu, termasuk ilmu matematika.
Beberapa umat Islam, dalam merespons ilmu matematika, juga terjebak pada jenis fanatisme lain yang tak kalah merusaknya, yaitu penolakan terhadap, khususnya ilmu matematika dan umumnya penelitian para ilmuwan (saintis). Mereka menganggap bahwa semua saintis itu bodoh.
Implikasinya, mereka enggan menerima hasil penelitian para saintis, sekalipun penelitian itu "tidak berdampak langsung" terhadap keimanan. Golongan ini berpikiran bahwa "membela agama Islam" adalah dengan menolak semua ilmu dari para filsuf (saintis).
al-Ghazali mencontohkan dengan beberapa kalangan umat Islam yang menolak pendapat para saintis tentang gerhana matahari dan bulan, dan menganggap pandangan saintis tersebut bertentangan dengan syariat.
Akibatnya, jika pandangan semacam ini sampai kepada para saintis, agama Islam akan dianggap terbangun atas kebodohan dan pengingkaran terhadap sains. Sehingga, orang-orang yang mendengar pendapat semacam ini, justru akan semakin fanatik kepada para saintis dan membenci Islam.
Pada bagian akhir penutup bahasan ini, al-Ghazali memberikan peringatan keras:
Dalam hemat saya, di sinilah titik relevansi sikap pertengahan yang menjadi ciri khas umat Islam yang setidaknya dapat dirumuskan dalam dua sikap: (1) Dalil-dalil dalam agama Islam tidak dibangun berdasarkan nalar logis-empiris-positivistik belaka, tetapi bersandar pada Wahyu.
(2) Umat Islam tidak dianjurkan menjauhi bahkan memboikot sains karena sains memiliki manfaat yang amat besar untuk umat Islam. Misal, penggunaan ilmu astronomi dan geografi untuk memperkirakan arah kiblat.
Penafian terhadap dua sikap positif di atas, berimplikasi pada dua sikap negatif: (1) Menganggap dalil agama dibangun oleh nalar logis-empiris-positivistik belaka, yang pada akhirnya mengabaikan pendapat ulama' dan mengambil pendapat saintis sebagai pedoman syari'at.
(2) Munculnya sikap anti-sains, yang bukan hanya merusak agama Islam, tapi merusak pribadi muslim itu sendiri, misal sebagai contoh adalah menolak semua pengobatan dari ilmu kedokteran modern. Semoga Allah menjauhkan kita dari dua sikap negatif tersebut.
Utas sederhana ini merupakan tafsiran personal-subjektif saya terhadap tulisan Imam Ghazali. Mohon berkenan untuk mengoreksi jika ada hal yang keliru ataupun perlu saya perbaiki 🙏 Wallahu A'lam Bisshowab.
🎗️

🎗️

@dependentbeing
Mostly tweet about random things
Follow on 𝕏
Missing some tweets in this thread? Or failed to load images or videos? You can try to .