Thread Reader
rie

rie
@Lcourage92

Twitter

Perjalanan mereka jadi “mantan” yang balikan lagi bertahun-tahun kemudian cukup menarik buat diceritain. Bukan cuma soal putusnya, tapi juga ngasih tau kalian gimana 2 orang yang punya banyak perbedaan ini jadian. • chanbaek lokal au by Lcourage •

yuk cbtv! di tag para author tersayang dan tercinta waktu dan tempat di persilahkan 🙏🏻🙏🏻😍
📝 (a/n) buat @Kurobell 🎭 yg hari ini sidang 🫶🏻 from this au 👇🏻
rie

rie
@Lcourage92

/chanbaek (not) sns au/ Hujan-hujan mendadak di chat mantan? Bilangnya sih mau minta maaf, tapi ngegas banget. Tau-tau udah di depan rumah aja. Mana udah malem kan. Kira-kira pintunya dibukain gak?
⚠️ bullying, graphic description of violence
Gimana caranya bikin orang yang lurus-lurus aja mendadak belok dan nikung tajam? Bαekhyun, anak dari ortu yang strict, udah biasa mengabaikan sekitarnya demi kewarasan dia sendiri. Sebab kalo udah tertarik atau suka sama sesuatu, dia bakal ngasih perhatian penuh sama hal itu.
Sedangkan ayah ibunya tipe yang apa-apa gak boleh, selalu membatasi ruang gerak Bαekhyun, apalagi soal lingkup pertemanan. Takut inilah, takut itulah. Kalau Bαekhyun gak kenal sama Luhan, di SMA dia pasti udah masuk golongan nerd yang gak punya temen sama sekali.
Tapi tetep aja gak ada yang spesial sama tahun pertamanya di SMA. Bαekhyun masih gak paham orang-orang yang bilang SMA itu adalah masa-masa paling indah. Bagi dia sih sama aja. Sama-sama sepi dan membosankan. Atau mungkin, sebenernya masa-masa yang indah itu belum dateng aja?
Tahun kedua Bαekhyun di SMA, tepat di hari pertamanya, dia mulai sadar sesuatu yg kemungkinan besar bakal berubah dalam hidupnya. Semua berkat sapaan seorang siswa yang malu-malu ngintip dibalik jendela kelas. “Baekhyun, kelas kamu di mana?” Dia celingukan nyari sumber suara.
“Hei, di sini.” Ternyata ada siswa yang nutupin setengah bagian wajahnya dengan topi dan lagi ngintip dibalik jendela kelas paling belakang. Bαekhyun yang berdiri mematung di koridor kelas pun mendekat. “Di sebelah sana,” tunjuknya ke ujung koridor. “Kamu… yang waktu itu kan?”
Siswa itu tertawa canggung sambil membetulkan topinya. “Masih inget?” “Masih. Kamu yg suka main basket sama anak-anak hits. Dan yang dihukum suruh pukul-pukulin meja guru piket gara-gara ketauan berisik di kelas. Masih suka jadi tukang kendang?” tanya Bαekhyun dengan muka datar.
Siswa yang diketahui bernama Park Chαnyeol itu nutupin wajahnya dengan lengan, malu setengah mati. Tapi kemudian dia kaget karena Bαekhyun masih inget kejadian itu. “Kok kamu… masih inget?” “Gak banyak kejadian aneh di hidup aku, kayak sekarang.” Dia mengangkat bahunya acuh.
“Mungkin sampe 10 tahun kemudian pun aku masih bakal inget hari ini. Soalnya gak banyak yang nanya aku di sekolah, apalagi kalo gak akrab-akrab banget.” “Tapi… aku kira… kita saling kenal?” “Kenal dari mana?” Chαnyeol serasa kena serangan jantung di sana.
Yang gak Bαekhyun sadari adalah fakta kalau Chαnyeol temenan sama anak-anak hits yang sebagian besar berasal dari SMP yang sama dengannya. Mereka juga temenan sama Luhan, yang mana merupakan sahabat Bαekhyun satu-satunya di sekolah. Itulah yang bikin Chαnyeol berpikir demikian.
“Oh, maaf. Mereka emang satu sekolah sama aku, tapi kita gak deket sampe bisa dibilang temenan. Cuma sebatas kenal aja.” “Uhm, ya… itu maksudnya,” ucap Chαnyeol awkward. “Kita punya kenalan yg sama.” Bαekhyun ngangguk dan Chαnyeol terpaksa ngomong lagi biar gak makin canggung.
“Temenan sama aku mau? Aku Chαnyeol.” Bαekhyun natap uluran tangan cowok itu agak lama, terus dia sambut ragu-ragu. “Boleh. Aku Bαekhyun.” Detik itulah dia tau hidupnya gak bakal cuma lurus-lurus aja. Tapi dia juga gak nyangka bisa sampe nikung tajam dan bikin dia jatuh kelak.
Biar gimana pun gak ada yang tau dengan rahasia kehidupan. Hari ini Bαekhyun masih ngerasa asing sama Chαnyeol, tapi besok dan besoknya lagi, tau-tau dia udah gak bisa berpaling. Kalau ada yang nyebut Bαekhyun bucin atau bahkan bulol, dia gak akan marah karena itulah faktanya.
• prequel mantan au •
“Di antara semua orang, kenapa harus Chαnyeol?” Bαekhyun sampe harus muter bola matanya karena udah kepalang jengah sama pertanyaan Luhan yang itu-itu aja. “Aku gak gampang inget muka orang atau bahkan inget kapan aku pernah lihat orang itu.” “Terus? Kenapa sama Chαnyeol beda?”
“Itu dia. Kenapa sama Chαnyeol malah beda? Ternyata selama ini aku emang udah tertarik sama dia, cuma gak sadar aja.” “Beneran? Bukan karena menurut lo dia tuh aneh kan? Lo sendiri yang cerita waktu itu sama gue, ada cowok yang dihukum main kendang di meja guru piket.”
“Mungkin… karena aneh itulah, aku jadi tertarik. Sama kayak aku temenan sama kamu.” “Wait… wait… gue aneh?!” sahut Luhan berlebihan. “Oke, anggaplah gue emang aneh, terus kenapa lo tertarik ke Chαnyeol dalam artian yang berbeda? Kenapa gak dijadiin temen aja kayak lo ke gue?”
Bαekhyun udah gak punya jalan keluar lagi selain mengaku di depan sahabatnya ini. “Aku suka sama dia, Lu. Mungkin sejak saat itu. Sejak dia sering main basket juga kalo jam istirahat.” “Oh, shit! Jadi bukan karena dia SKSD ke lo pas awal semester?” “Bukan,” gelengnya lesu.
Baru pertama kali jatuh cinta, Bαekhyun bener-bener merasa clueless. Dia gak tau ini sesuatu yang baik atau buruk. Dia juga gak tau gimana harus bereaksi. Mau seneng pun seneng karena apa? Dia baru sebatas naksir aja, belum jadian sama sekali sama orangnya. Tapi hatinya…
Hatinya yang paling gak bisa dipahami sampe ke tahap yang paling memprihatinkan. Tiap hari Bαekhyun jadi mendadak semangat pergi ke sekolah, tapi kalau udah sampe di sekolah, dia malah uring-uringan gak jelas. “Sekarang gue tau, ada sesuatu yang lo cari tapi lo gak nemu.”
“Apaan?” “Ya siapa lagi kalo bukan si caplang?” Karena telinganya yang mencuat, Luhan emang sering ngata-ngatain Chαnyeol dengan sebutan caplang. Dan sekarang bukan cuma nama Chαnyeol aja yang bikin hatinya bergelenyar aneh, tapi sebutan caplang juga. Dan dia tau, Luhan benar.
Bαekhyun jadi semangat sekolah karena pikirnya dia jadi bisa ketemu Chαnyeol tiap hari. Masalahnya adalah kelas mereka beda. Dia IPA, cowok itu IPS. Jadi kesempatan buat ketemu pun jauh lebih sedikit. Kalau bukan ngandelin “kebetulan”, dia bakal kesusahan ngeliat Chαnyeol.
“Terus aku harus gimana, Lu?” “Ikut nongkrong aja, apa susahnya?” “Malu…” Bαekhyun berkata dengan tampang paling sedih yang dia punya dan itu gak dibuat-buat. Luhan jadi kasihan sama sahabatnya ini. “Astaga, gue lupa se-ansos apa lo ini, Hyun. Tapi mau gimana lagi?”
Anak itu jadi ikutan sedih. Selain karena gak bisa ngasih solusi lain, dia juga sedih karena setelah temenan bertahun-tahun, tetep aja dirinya gak bisa ngubah Bαekhyun jadi kelihatan lebih normal kayak anak lainnya. “Gimana kalo lo latihan ngomong dulu?” “Hah?”
“Lo masih ikutan ekskul broadcasting kan?” “Masih.” “Kenapa gak nyoba buat ikut siaran?” Baru sedetik ngasih saran itu, Luhan tau jawabannya gak mungkin banget. “Semua udah ada tugas masing-masingnya, Lu. Aku cuma kebagian nyari materi sama nyusun naskah aja.”
“Gak bisa gantian?” “Mereka gak bakal ngizinin, apalagi ke anak yang ngomong aja masih gelagapan kayak aku.” “Hm… terus apa dong ya? Yakali ikut organisasi?” Sebetulnya saat itu Bαekhyun cuma pengen didenger curhatannya, atau minimal lihat Chαnyeol sehari sekali.
Mungkin hal itu bisa meredakan efek dari jatuh cinta yang dialaminya ini. Tapi Luhan bersikeras bukan itu solusinya. “Satu-satunya kendala lo saat ini adalah bersosialisasi. Jadi coba aja masuk OSIS dulu buat iseng-iseng. Mungkin dari situ lo bakal nemu jalannya?”
Kira-kira ada hubungannya gak? Itu yg ingin Bαekhyun pertanyakan, tapi melihat semangat Luhan, dia jadi gak tega. Kebetulan sekali perekrutan anggota OSIS yg baru sudah dimulai di awal semester kedua. Dan perwakilan di kelasnya hanya ada satu orang saja. Masih kurang satu lagi.
Ketua kelas di kelasnya udah pasrah maju seorang diri, sebab sampe memelas pun temen-temennya yang ambis itu gak ada yang mau ikutan kegiatan organisasi. Katanya cuma buang-buang waktu dan tenaga, lebih baik fokus belajar buat meraih nilai yang lebih baik. Bαekhyun jadi mikir.
Mungkinkah ini jalan yang Luhan maksud? Kalo iya, dia siap ngajuin diri dan menentang semua prinsip-prinsip hidupnya selama ini. Semua demi siapa? Tentu saja Park Chαanyeol. “Aku…” tangannya terangkat, dan si ketua kelas menghela nafas lega. “Aku mau jadi perwakilan kelas.”
• prequel mantan au •
Entah gimana ceritanya Bαekhyun yg cuma mau mencalonkan diri jadi anggota sekbid, tiba-tiba dicalonkan sebagai pengurus inti. Dan anehnya, dia malah terima-terima saja. Mungkin saat itu dia merasa tertekan dan gak enak hati. Atau bisa jadi dia malu kalau harus mengundurkan diri.
Apapun itu, baik Luhan dan ketua kelasnya yang gugur saat wawancara, sama-sama kaget sewaktu tau Bαekhyun lolos ke seleksi tahap akhir. Sama kagetnya kayak dia. “Aku akhirnya cuma jadi anggota sekbid, tapi kamu bisa masuk bagian inti. Hebat banget, Hyun,” puji Krystal bangga.
Walaupun Bαekhyun masih gak yakin apa yang bisa dia lakuin di sana, tapi ini adalah kesempatan buat dirinya berkembang. Jadi kenapa harus takut? Dengan membawa pidato bertema sapu lidi, Bαekhyun pun maju dan nyaris ngalahin kandidat terkuat. Di luar dugaan para guru dan alumni.
Dan setelah semua perjuangan yg panjang dan melelahkan itu, tiba jugalah waktunya bagi para pengurus inti ini memperkenalkan diri. Mereka masuk ke kelas-kelas, memulai tugas pertama dengan lancar. Kecuali saat Bαekhyun memasuki kelas Chαanyeol. Entah kenapa di sana riuh sekali.
Bαekhyun gak paham apa yang sebenarnya terjadi di sana. Perkenalan singkat dia dan rekan-rekannya tiba-tiba jadi ramai. Banyak sekali yang penasaran dengan para pengurus tahun ini. Bukan cuma pada Bαekhyun saja yang dianggap “tak dikenal”, tapi pada yang lainnya juga.
Sekilas, di antara wajah-wajah yang asing itu, Bαekhyun bisa lihat senyum bangga seseorang yang belakangan terlupakan eksistensinya. Park Chαnyeol, tentu saja. Dia ngasih senyum paling ganteng dan paripurna, seolah jadi yang paling bahagia di sana. Gimana Bαekhyun gak salting?
Mulanya, OSIS cuma Bαekhyun jadikan “sebatas jalan” biar bisa bergaul di dekat Chαnyeol dengan lebih leluasa, tapi dalam prosesnya ternyata dia bisa enjoy juga. Karena berorganisasi gak cuma ngajarin dia buat jadi lebih percaya diri, tapi buat lebih merhatiin sekitar.
Untuk ukuran orang yang kelewat cuek kayak Bαekhyun, jelas ini sebuah kemajuan yang pesat. Niatnya yang kurang baik di awal pun jadi lebur, terganti dengan semangat yang dia sendiri gak sadar kalau dia ternyata punya. Tetep aja, ketika dihadapkan dengan Park Chαnyeol, dia kalap.
Semangat atau apapun itu gak bisa bikin dia bertingkah normal di depan crush-nya. “Selamat, Baekhyun. Dan… pidato yang hebat.” “Eh?” “Aku lihat, dikirim sama temen,” ujarnya malu-malu. “Gila sih, kamu keren abis!” Aduh, sekarang Bαekhyun deg-degan setengah mampus.
“Eum… makasih. Aku harap aku gak ngecewain siapapun nanti.” “Dibanding itu, kenapa gak berharap buat sesuatu yang lebih baik aja? Kayak… ‘aku harap aku sama pengurus lainnya dikasih kelancaran dalam bertugas’. Kedengeran lebih baik kan?” “Iya sih… baru kepikiran.”
“Tau gak kenapa aku bilang gitu?” Chαnyeol nunggu sampai lawan bicaranya itu ngasih respons berupa gelengan kepala. “Aku gak mau kamu terlalu maksain diri, sampe ada kesalahan sekecil apapun malah bikin kamu kesulitan. Aku pengen kamu seneng-seneng di sana.” Ya Tuhan…
Jangan salahin Bαekhyun kalau dia malah semakin jatuh buat cowok ini. “Thanks…” “Thanks aja?” “Hm?” Cowok itu nyengir lebar. “Entar pulang sekolah aku mau tanding basket sama anak kelas 3. Mau nonton gak? Pertandingan gak resmi sih, ngisi waktu luang aja. Kalo… kamu mau.”
Bαekhyun tau Chαnyeol itu kadang suka bertindak tiba-tiba kayak dulu dia minta Bαekhyun bantu ngerjain PR bahasa Inggris. Atau pas dia nunggu di koridor dan bilang mau jalan sama Bαekhyun sampe ke kelas, buat ketemu temennya. Atau juga pas dia nyamperin buat pinjem pulpen doang.
Ada-ada aja tingkahnya yang bikin Bαekhyun jantungan. Tapi tetep aja dia gak pernah terbiasa. Sayangnya ajakan kali ini mungkin harus Bαekhyun tolak. “Hng, aku gak tau, Yeol. Takut gak sempet karena mau rapat OSIS dulu,” ucap Bαekhyun penuh sesal. Seketika dia pun jadi murung.
Ajakan tersebut mungkin gak bakal datang 2 kali, jadi Bαekhyun sempet menyesali keputusannya ikut OSIS. Tapi cowok itu kayaknya tau dan dia langsung ngehibur Bαekhyun dengan ngasih tawaran lain. “Kalo gitu temenin beli es di depan pas udah selesai. Aku tunggu sampe rapat bubar.”
“Eh?” “Mau ya?” Udah jelas jawabannya, Bαekhyun pasti mau. Tapi baru kali ini dia kedengeran kayak maksa. Dan anehnya Bαekhyun malah suka. Sebab dia pun kalo bisa bakal maksain rapatnya selesai dengan cepat biar masih sempet nonton Chαnyeol tanding basket.
“Oke. Nanti kamu tunggu aja deket lapangan kalo selesai duluan.” “Sip. Yang semangat ya rapatnya. Keluarin kemampuan terbaik kamu.” Senyum Bαekhyun tersungging malu-malu. “Iya, Yeol. Kamu juga yg semangat tandingnya.” Gimana? Udah mirip orang pacaran belum? Yakali gak jadian.
• prequel mantan au •
Luhan sama Krystal juga berpikir demikian. Kenapa sih nih anak dua gak jadian-jadian juga? Apa yang bikin mereka ragu? Padahal satu sekolah udah nyaris pada tau. Dan mereka jadi ikutan greget. “Nembak duluan aja lah, Hyun.” “IH MASA?!” “Terus mau nunggu sampe kapan?”
Bαekhyun gak punya jawabannya karena dia pun ragu Chαnyeol yang orangnya “hayu aja” itu bisa kepikiran nyampe ke sana. Mana tau sebenernya selama ini juga dia gak pernah punya niat apa-apa sama Bαekhyun selain cuma “temenan”. Dari awal kan Chαnyeol cuma minta itu aja.
“Gak ada salahnya dicoba, Hyun. Mumpung lagi anget-angetnya nih kalian.” Saran Krystal. Tapi Bαekhyun sedikit gak setuju sama ucapan si ketua kelas. Anget apanya? Mereka cuma gini-gini aja dari awal. Karena itu Bαekhyun jadi agak frustrasi dengan kemajuan hubungan mereka.
Semua gara-gara kegiatan OSIS yang gak ada habisnya. Jangankan bikin pergerakan, nafas aja rasanya kayak susah. Mana sebentar lagi juga UTS. Bαekhyun merasa tercekik. Pembicaraan soal ini pun akhirnya selesai dengan sia-sia. Belum ada solusi sejauh ini selain “nembak duluan”.
Mungkin setelah UTS nanti Bαekhyun mau melakukannya. Siapa tau pikiran dia udah lebih jernih. Anak itu akhirnya minta Luhan dan Krystal pulang duluan, sementara dirinya stand by di kelas. Ketua OSIS minta setidaknya satu sekretaris tetep tinggal di sekolah sampe sore.
Dan kebetulan sekretaris 2 bersedia. Tapi Bαekhyun (sebagai sekretaris 1) udah mulai terbiasa pulang maghrib setiap hari. Jadi rasanya aneh saja kalau jam segini dia sudah pulang. Makanya dia memilih tinggal di kelas lebih lama sampai jam 4-an nanti. Tapi tiba-tiba… Tok. Tok.
Pintu kelas diketuk seseorang. “Kamu ngapain balik lagi, Lu… Chαnyeol?!” “Eung, hai? Belum pulang?” Ternyata malah cowok itu yang kini berdiri di ambang pintu kelas. “Belum. Paling bentar lagi. Kamu kok… belum pulang?” Chαnyeol pura-pura menggaruk tengkuk lehernya.
“Kirain kamu lagi rapat, makanya aku nunggu di depan. Tapi tadi ketemu Luhan sama Krystal, mereka bilang kamu lagi di kelas.” “Oh, iya. Sunggyu bilang satu sekretaris aja cukup, terus aku gantian sama Seohyun. Jadi malah ngobrol-ngobrol di sini bareng Luhan sama Krystal.”
“Terus kenapa belum pulang juga? Maksudnya, kenapa gak bareng sama mereka?” Bαekhyun meringis dan gantian garuk-garuk lehernya. “Di luar masih panas.” Chαnyeol pun cuma ngangguk dan langsung masuk ke kelas, duduk di meja. Dia gak ngomong apapun selain mainin kakinya.
Bαekhyun jadi penasaran, mau apa dia? “Aku mau tanya sesuatu, kamu jangan kaget ya.” “Tanya apa?” “Kamu suka sama aku gak?” Tuh, kan. Chαnyeol itu emang gak bisa ditebak anaknya. “Uhuk! Uhuk… uhuk…” Keselek ludah sendiri tuh ASLI gak enak. “A-apa?! Kamu nanya apa tadi?”
“Kamu, Hyun. Suka gak sama aku?” Jawab apa? Jawab apa?! JAWAB APA??? Inikah kesempatan yang Bαekhyun nanti-nantikan itu? Kalau iya, dia gak boleh nyia-nyiain gitu aja kan? Karena gak mungkin Chαnyeol tiba-tiba nanya begini kalau dia juga gak punya rasa yang sama kayak Bαekhyun.
Tapi masalahnya, Chαnyeol itu kan emang suka tiba-tiba. Jangan-jangan barusan dia cuma spontan aja nanya begini. “Kalo aku… aku suka banget sama kamu.” “Eh?!” “Aku udah lama penasaran. Tolong dijawab ya…” Satu. Dua. Tiga. Bαekhyun berhitung dalam hati, menimang jawabannya.
Simpel aja sebenernya. Dia tinggal jawab suka juga, terus langsung “jedor”. Tapi kenapa susah banget ya ngomongnya? ‘KALO GAK SEKARANG, KAPAN LAGI?!’ Bαekhyun membayangkan Luhan yg lagi teriak-teriak di depan mukanya dan itu nyebelin banget. Dia gak bakal tahan kalau itu nyata.
Jadi kayaknya lebih baik anggap momen ini sebagai umpan yang tepat buat mengungkapkan perasaannya. “Iya, aku suka sama kamu, Yeol.” “WAH!!!” seru cowok itu tampak lega. “Ternyata bener, kamu juga suka sama aku.” “Kamu… udah tau?!” Netra Bαekhyun sampe membola saking kagetnya.
“Belum sih, tapi temen-temen aku bilang gitu. Aku gak percaya awalnya, terus disuruh nanyain langsung. Jadi aku nanya.” Astaga. ASTAGA! Santai banget ini anak… “Terus kalo kamu udah tau, mau ngapain?” “Hmm… belum kepikiran,” cengirnya rada-rada tolol.
Haduh, kalo dia gak cinta… udah Bαekhyun pukul kepalanya. “Aku aja yang mikir gimana ke depannya. Boleh?” “Eung, okay?” sahut Chαnyeol, bingung. “Kita pacaran. Mau gak?” . . . “Ya udah.”
Di telinga Bαekhyun, cowok itu kedengerannya kayak “hayu-hayu aja” alias Bαekhyun minta apapun kayaknya bakal dia iyain, saking clueless-nya. Jadi mau gak mau Bαekhyun mikirnya anak ini gak serius-serius amat sewaktu diajak pacaran. Aslinya, Chαnyeol cuma gugup.
Dia gak tau harus jawab apa. Ngomong pun jauh lebih susah dibanding sebelumnya. Dia gak ada persiapan buat momen ini. Temen-temennya pun cuma nyuruh Chαnyeol nanya, dia gak mikirin kelanjutannya. Apalagi soal reaksi Bαekhyun setelahnya. Dan ini bener-bener di luar dugaan.
Tapi gak bohong sih, hati Chαnyeol berbunga-bunga. Padahal dia cuma berharap Bαekhyun juga suka sama dia, itu aja cukup. Dia gak berharap lebih. Siapa sangka keputusannya buat nyamperin Bαekhyun sore itu justru berbuah manis. “Jadi, mau pulang sekarang gak, ‘pacar’?” /blush/
• prequel mantan au •
Setelah jadian & menyandang status sebagai ‘pacar Chαnyeol’, Bαekhyun udah gak pernah uring-uringan lagi. Itu adalah momen-momen paling bahagia dalam hidupnya. Dia bahkan gak keberatan sewaktu Luhan sama Krystal sekali lagi bilang mereka lagi anget-angetnya. Karena emang betul.
Akhirnya Bαekhyun bisa ngerasain banyak hal di masa-masa SMA-nya ini. Dan semua berkat Chαnyeol. Tapi dia gak tau, kelak akan ada hal-hal buruk juga yang terjadi sama dia. Dan itu masih karena Chαnyeol. “Ada razia. Dan tebak apa? Lo gak ngasih tau gue!” Luhan misuh-misuh.
Krystal yang duduk di sebelah Bαekhyun malah tertawa. “Dia nih sama cowoknya aja gak ngasih tau, apalagi sama elu.” “Eh iya tadi gue lihat si Chαnyeol nyeker. Sumpah ya, mana katanya sepatu dia tuh mahal, bukan yang biasa kita beli di pasar.” “Excuse me, gue gak beli di pasar.”
“Gak usah alesan beli di toko kalo tokonya deket pasar. Tetep aja masuk kawasan pasar,” sungut Luhan gak terima. Sayangnya Krystal juga sama-sama gak terima. “Eh, ya beda dong.” “Sama!” “Beda!” “Samaaaa~” “Beda ish…” “Sa-” “Berisik!” Nah, kena semprot Bαekhyun deh.
“Aduh, galak bener.” “Kamu kena razia apa emang, Lu?” “Hehe…” anak itu ngusap-ngusap kukunya. “Lipbalm. Bibir gue kan suka kering. Tapi gue belinya yang ada warna. Jadi diambil deh.” “Yaelah, cuma lipbalm,” sahut Krystal cekikikan. “Gue beli baru, anjir! Sayaaang~”
Bαekhyun milih mengabaikan perdebatan keduanya. “Eh, by the way, kenapa lo masih di sini? Biasanya udah ngacir ke kelas si caplang.” “Sekarang giliran dia yang ke sini.” “Emang masih punya muka nyamperin sambil nyeker?” Luhan itu kalau ngomong emang suka gak ada filter.
Tapi kadang ada benernya juga. “Bentar deh 5 menit lagi. Kalo belum ke sini juga, biar gue yang nyamperin. Kasihan kalo nyeker seharian.” “Kalo nyeker emang mau lo apain?” “Pinjemin sendal.” “Cukup emang?” “Gue udah bilang kekecilan, tapi katanya daripada nyeker,” ucap Krys.
“Haduh, gue gak nyangka bakal ada masa-masa di mana temen gue yang satu ini jadi budak cinta.” “Itu namanya perhatian.” “Hm, perhatian banget…” ledek sahabatnya itu. Dia emang paling seneng lihat Bαekhyun misuh. Untungnya yang udah ditunggu-tunggu nonghol juga di depan kelas.
“Sorry, lama. Aku cari-cari sendal bekas dulu gak ada, jadi terpaksa deh nyeker.” Bαekhyun nengok ke bawah dan ngelihat kaki pacarnya itu kotor. Saat itulah dia sadar Krystal dan Luhan benar, kaki Chαnyeol ternyata sangat besar. Cukup gak ya sandalnya ini kalau dipinjemin?
“Aku ada sendal, gak tau cukup atau engga.” “Mana sini?” tangannya langsung terulur tanpa ragu. “Kecil gapapa?” “Gapapa. Yang penting ada.” Bαekhyun balik ke dalam kelas, ngambil sandal di bawah mejanya. “Ini…” Chαnyeol ngasih senyum lebar sebagai balasan.
“Eh, bentar. Kaki aku kotor, mau cuci kaki bentar di WC. Tunggu ya!” “Gak usah, gapapa.” “Jangan dong, sayang sendal kamu.” Astaga, padahal cuma sandal. Dia gak perlu nyerang Bαekhyun dengan ribuan kupu-kupu kayak gini. Demi Tuhan, ini masih rame. Bαekhyun gak bisa teriak.
Sewaktu balik lagi ke kelas Bαekhyun, ternyata bukan cuma kakinya aja yang basah, melainkan muka dan sebagian rambutnya juga. Entah maksudnya apa cuci muka dulu begitu. Kalau niatnya mau bikin Bαekhyun sesak nafas, berarti misinya berhasil. Ganteng banget, sial!
“Ayo, ke kantin.” Tanpa bersuara atau bereaksi apapun lagi, Bαekhyun balik badan dan mulai jalan, disusul Chαnyeol yang langsung ambil tempat di sampingnya. Mereka jalan bersisian ke kantin, dilihatin puluhan pasang mata. Risiko yang udah jadi buah bibir di mana-mana.
Sekarang Bαekhyun udah bukan siswa yang gak dikenal lagi. Dia sekretaris OSIS, yang ternyata nilai akademiknya pun lumayan bagus, bahkan selalu langganan jadi juara kelas. Sementara pacarnya, dia cuma siswa biasa yang lebih cenderung nakal dibanding biasa-biasa saja.
Terlalu banyak perbedaan dari segi manapun. Anehnya mereka terlihat adem ayem dan bikin ngiri. Walaupun cuma bisa pacaran di sekolah, tanpa pernah main di luar atau kencan, tapi gak ada kendala apapun dalam hubungan mereka. Perbedaan nilai pun gak jadi masalah.
Mungkin karena itu ada oknum-oknum tertentu yang dengki sama kedekatan keduanya dan berniat menghilangkan senyum di wajah bahagia mereka. “Kabar Kak Yura gimana?” “Dia cewek strong, jadi udah gapapa.” “Serius? Sampe masuk berita gitu loh.” tanya Bαekhyun sekali lagi, khawatir.
“Beneran, sayang. Kalo mau, entar pulang sekolah kita ke sana. Abis kamu rapat.” “Udah buka lagi butiknya?” “Belum,”geleng Chαnyeol sambil asik makan ciloknya. “Masih ada perbaikan, tapi si kakak suka stand by di sana kalo sore.” “Yaudah, kita ke sana sebentar.”
Jadi beberapa waktu yang lalu kakak Chαnyeol sempat kena musibah. Ada karyawan yang nipu dan ngambil uangnya, terus butiknya dia bakar buat menghilangkan jejak. Chαnyeol sih gak cerita apa-apa, tapi Bαekhyun tau dari anak di kelas sebelah, yang juga merupakan teman Chαnyeol.
“Aku gak cerita itu takut bikin kamu khawatir.” Begitu kata Chαnyeol sewaktu Bαekhyun tanya dengan panik. Alasannya masih bisa diterima sih, jadi Bαekhyun gak marah. Cuma agak dongkol aja sama omongan temen-temennya Chαnyeol. Mungkin karena kebanyakan dari mereka cewek kali ya?
Makanya bisa julid banget gitu. ‘Lo kan pacarnya, masa sih gak tau? Sampe masuk berita loh. Rame banget kasusnya.’ Temen-temen cowok Chαnyeol kebanyakan emang ada di IPS, yang di IPA itu dominan cewek-cewek. Ya, gak heran sih. Bαekhyun cuma perlu selow. Gak perlu buang energi.
Pulang sekolah, tepatnya setelah rapat OSIS, mereka berdua akhirnya pergi ke butik Kak Yura. Cuma sebentar doang sih karena udah lumayan sore. Tapi kakaknya itu seneng banget ditengokin Bαekhyun. Maklum saja, sebelumnya mereka udah saling kenal. Bαekhyun jadi langganan di sana.
Kalau lagi butuh baju, Bαekhyun lebih seneng pergi ke butik si kakak. Karena gak kayak kebanyakan orang, proporsi tubuh Bαekhyun ini agak aneh. Bahunya lebih lebar dari anak-anak pada umumnya. Dan kakinya pendek, gak kayak pinggulnya yang lebar. Agak susah cari celana yang pas.
Dia baru tau Yura itu kakaknya Chαnyeol sewaktu ngajak Luhan ambil baju di butik. Tanpa sengaja mereka ketemu sama adiknya yg ternyata adalah Chαnyeol. Dan itu terjadi di awal-awal semester kelas 11 sebelum mereka jadian. Bαekhyun gak mau percaya sewaktu Luhan bilang ini takdir.
Maklum sih, waktu itu dia masih belum sadar sama perasaannya. “Ke kafè dulu bentar, mau gak?” Bαekhyun melirik jam tangannya cukup lama. Udah jam 5 lewat. Kalau dia bilang mau, emangnya mau nongkrong berapa menit di kafè sebelum maghrib tiba? Waktunya terlalu mepet.
“Kalo gak bisa sekarang juga gak apa-apa. Masih ada hari esok. Jadi jangan pasang muka sedih gitu. Aku jadi pengen cium kamu.” “Ck, Chαnyeol!” “Ih, merah mukanya! Jadi makin pengen cium,” ujar cowok itu sambil tertawa kencang. Gak sadar pacarnya yang mendadak murung lagi.
Bαekhyun tau mereka ini gak kayak pasangan pada umumnya. Selain jarang quality time di luar sekolah, skinship di antara keduanya pun terbilang minim. Selain pegangan tangan atau ngerangkul bahu, mereka gak pernah ngapa-ngapain lagi. Jadi Bαekhyun sering kali takut.
Dia takut gak bisa jadi pacar yg baik (walaupun dia sendiri masih gak paham makna dari pacar yg baik tuh kayak gimana). Dia juga takut sama semua kekurangan dalam dirinya. Takut hal itu bikin Chαnyeol bosan dan ngejauh. Kayak sekarang. Padahal dia cuma bercanda soal ciuman itu.
Tapi Bαekhyun sadar, apa yang belum bisa dia kasih dan apa yang gak akan pernah bisa dia kasih sampai kapanpun. Kelak kalaupun mereka harus putus, Bαekhyun harap bukan itulah alasan yang bakal Chαnyeol kasih sama dia.
• prequel mantan au •
Sekarang inilah rutinitas 2 sejoli itu sejauh ini. Pergi ke kantin bersama saat jam istirahat pertama. Terus Chαnyeol tanding basket di jam istirahat kedua atau sepulang sekolah, ditonton Bαekhyun tentunya. Khusus yg jam pulang sekolah, kalau gak ada rapat, baru Bαekhyun nonton.
Chαnyeol juga akan menunggui Bαekhyun sampai selesai sama urusan OSIS-nya, lalu mereka pergi kencan. Palingan nongkrong di cafè atau mojok di taman dekat sungai. Sesekali mereka juga bakal pergi ke perpus sekolah buat ngerjain tugas dan PR. Jadi walaupun beda kelas, gak masalah.
Mereka tetep bisa ketemu kapan aja. Yang jadi masalah mungkin selama liburan kenaikan kelas. Udah bisa dipastikan, mereka gak bisa ketemu sama sekali. “Janji ya, rajin-rajin ngechat,” pinta Bαekhyun di hari terakhir mereka sekolah sebagai siswa kelas 11. “Iya, sayangku.”
“Salam buat keluarga kamu.” “Hm.” Singkat aja, gak ada ucapan apa-apa lagi. Mungkin Chαnyeol juga lagi nahan sedih, sama kayak Bαekhyun. Makanya jadi gak bisa banyak ngomong. Atau bisa jadi dia lagi kecewa. Wajar sih, tapi tetep aja Bαekhyun jadi kepikiran.
“Lu, kalo aku main ke rumah kamu tapi sama Chαnyeol, boleh gak?” tanya Bαekhyun via telepon, di hari kedua mereka liburan. “Oh, ceritanya rumah gue mau dijadiin tempat mojok nih?” “Eung, gak gitu. Cuma mau ketemu bentar doang kok, soalnya kelamaan banget liburnya.”
“Tumben? Biasanya lo paling semangat kalo libur, kayak… udah nyusun list buku atau film apa aja yang mau ditonton, sebagai ajang balas dendam setelah semesteran.” “…” Bαekhyun ngedadak bungkam. “Yang semangat dong, Hyun! Hahahaha~ jangan sedih gitu. Gue becanda doang, anjir!”
“Gak lucu,” tukasnya ngambek. “Gue bilang yang semangat, nurut dong… Soalnya kemarin Chαnyeol juga minta hal yang sama. Dan lo tau apa? GUE SENENG BANGET DONG karena bukan cuma lo aja yang bucin, dia juga sama. Hahahaha!” “Eh, serius, Lu? Kamu gak bohong, kan?”
“Ngapain dih pake bohong segala? Gak ada kerjaan banget.” “Jadi… boleh nih?” “Ya boleh lah… Gue juga kesepian kali, bokap nyokap pada kerja semua. Sepupu gue kalo main ke sini juga cuma numpang bokepan doang. Gak asik.” “Ya udah kalo gitu. Makasih banyak, Lu.”
“Hm, sama-sama, bayiku. Terus mau kapan tuh ke sininya?” “Kapan ya kira-kira enaknya?” “Coba tanya aja sama Chαnyeol, mumpung apa yang kalian pengenin tuh sama. Jadi gak usah pake acara malu-malu segala.” “Iya juga. Yaudah nanti aku tanya dulu hehe~ Sekali lagi makasih, Lu.”
Gak lama setelah itu Bαekhyun pun ngirim pesan ke Chαnyeol. Dan lusa mereka sepakat buat main ke rumah Luhan buat ketemuan. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Bαekhyun ketemu Chαnyeol selama liburan. Entah apa yang salah. Mungkin Bαekhyun yang tanpa sengaja bikin kesalahan.
Meskipun dalam ingatannya yang super akurat itu (akurat karena ini tentang Chαnyeol), semuanya tampak indah. Mereka gak banyak ngelakuin aktivitas di rumah Luhan. Cuma ngemil, makan, nonton, ngobrol. Kadang Chαnyeol mainin gitar tetangganya Luhan. Udah, itu aja.
Apa jangan-jangan masalahnya ada di sana? Apa Bαekhyun yang polosnya minta ampun itu gak sadar sama keinginan Chαnyeol yang sebenernya, terus dia marah? Tolong jangan bilang, ini ada hubungannya dengan skinship. Bαekhyun gak keberatan, sumpah! Dia cuma malu.
Lagian gak sopan kalau numpang pacaran di rumah orang lain sambil cium-cium begitu. Pasti nanti bakal ada waktunya. Bukan sekarang. Sekali lagi, Bαekhyun gak tau apa yang salah. Tiba-tiba Chαnyeol jadi susah dihubungi sampai liburan selesai. Katanya sih dia pulang kampung.
Tapi sewaktu sekolah kembali dimulai, Bαekhyun sadar ada yang berubah sama pacarnya itu. Dia udah jarang nyamperin ke kelas. Dibanding ngerjain PR bareng, dia juga malah lebih suka bolos. Bajunya jadi lebih urakan. Dan mukanya itu kelihatan kayak capeeeek banget.
Anehnya tiap kali ditanya ada apa, Chαnyeol selalu jawab gapapa. Dan siapapun tau, bahkan anak SD pun tau, semua itu cuma omong kosong. Jelas ada sesuatu terjadi. Tapi Chαnyeol gak mau bilang. Mungkin dia gak terlalu percaya Bαekhyun bisa jadi tempat berbagi & berkeluh kesah.
Yang bikin Bαekhyun lebih khawatir itu adalah desas-desus soal Chαnyeol yang katanya “make”. Jadi dia panik banget sewaktu ada razia dadakan. Mana tumben banget gak ada info apa-apa dari rekan-rekannya di OSIS. Dan itu bikin kecurigaan Bαekhyun makin menjadi.
Dia pun lari dari koridor kelas IPA ke IPS, nyari-nyari Chαnyeol. Sewaktu nyampe sana dan disuguhi kelas yang ricuh kayak kelas lainnya, leher Bαekhyun serasa dicekik. Tapi yang bikin Bαekhyun nyaris pingsan itu pas matanya sama mata Chαnyeol ketemu. Cowok itu tampak asing.
Dia mandang Bαekhyun yang kelihatan kacau dengan tatapan yang sulit diartikan. Selain rasa sakit, Bαekhyun gak bisa lihat apa-apa lagi di sana. Atau mungkin ada? Tapi dia denial. Gak mungkin lan Chαnyeol kecewa ngelihat dia di sana? Iya kan? Bαekhyun cuma khawatir, gak lebih.
Dia gak lagi nuduh apapun ke Chαnyeol. Tapi... bisa aja kan cowok itu salah paham? Alih-alih nyamperin Bαekhyun, dia malah pergi, ngilang di antara kerumunan siswa di koridor. Bαekhyun pun terpaksa balik ke kelas dengan hati yang berat. “Hyun, kamu dicariin ketos tuh.”
Bαekhyun seret kakinya buat ngelangkah ke ruang OSIS. Di sana cuma ada Sunggyu doang. Yang lainnya gak kelihatan. “Katanya kamu manggil aku? Ada apa?” “Duduk dulu, Hyun.” Bαekhyun pun duduk, siap dengan kabar paling buruk yang kemungkinan besar ada hubungannya sama Chαnyeol.
“Aku sengaja gak ngasih tau soal razia ini sama kamu. Tau kenapa?” “Aku cuma mengira-ngira. Gak tau aslinya kenapa.” Sunggyu ngangguk dramatis. “Tepat kayak perkiraan kamu.” Astaga! Gak mungkin kan? Gak mungkin... Chαnyeol gak mungkin make. “Itu baru kecurigaan aja.”
“Kalo baru sebatas kecurigaan, kenapa sampe bikin heboh satu sekolahan? Kamu gak tau rumor di luar sana kayak apa? Aku yang ansos aja sampe denger.” “Justru itu, kita pengen pelaku sebenernya keluar.” “Maksudnya?!” “Bukan dia kok. Cowok kamu itu cuma gak sengaja terlibat.”
“Aku masih gak paham.” “Temen dia banyak, Bαekhyun. Gak cuma anak-anak hits, tapi yang badung-badung juga. Dan kayaknya ada yang lagi pengen ngejebak dia. Salah satunya, target yang lagi kita cari.” Bαekhyun meraup udara sebanyak-banyaknya, lega sekaligus resah.
Kenapa hal ini bisa kejadian sama pacarnya? Chαnyeol mungkin anak yang ke mana aja hayuh, tapi Bαekhyun percaya dia bukan tipe yang bakal kelewatan kayak gitu. Kalau soal minum, Bαekhyun baru tau pas mereka main ke rumah Luhan kemarin. Ternyata dia emang suka minum sesekali.
Itu juga bukan yang sampe mabok banget dan berakhir bikin onar. Chαnyeol cuma suka aja dan lebih ke jadi penikmat doang. Terus dia juga bukan tipe anak yang banyak musuhnya. Malahan temennya banyak di mana-mana. Makanya Bαekhyun gak ngerti kenapa bisa gini, kayak gak masuk akal.
“Buat sekarang, aku cuma mau kamu nenangin diri. Tapi kalo bisa, tolong batesin dulu intensitas pertemuan kalian. Bukannya apa-apa, nama kamu juga ikut keseret soalnya gara-gara kalian pacaran dan sering mojok di taman deket sungai. Dan itu... berdampak ke organisasi juga.” Deg!
Sekarang Bαekhyun tau maksud Sunggyu manggil dia ke sini. Ternyata bukan cuma buat nenangin, tapi juga buat ngasih peringatan. “Kalo rumor yang beredar di luar sana lumayan heboh, kamu juga pasti denger kan? Jadi aku rasa gak perlu aku jelasin lagi. Nama kamu udah cukup jelek.”
Persetan sama namanya, dia gak peduli. Yang Bαekhyun pengenin cuma ketemu Chαnyeol dan meluk dia. Tapi ketosnya ini kalo udah ngasih perintah, gak pernah mau dibantah. Sekarang gimana caranya Bαekhyun keluar dari situasi ini tanpa nimbulin masalah yang baru?
• prequel mantan au •
Dicari ke kelas, gak ada. Dicari ke kantin pun gak nemu. Ternyata Chαnyeol ada di belakang kelas 12 IPA, jejeran kelas Bαekhyun. Sewaktu disamperin ke sana, anaknya lagi ngerokok. Dan dia niat bolos pas jam istirahat selesai. “Mau bolos ke mana?” “Warung deket studio.”
“Ngapain?” “Cari angin, suntuk di sekolah.” Bαekhyun nolak percaya cowok yang lagi ngomong sama dia ini adalah pacarnya. Pasalnya dia beda banget, gak kayak Chαnyeol yang biasanya. “Aku gabung sama band, in case kamu penasaran. Entar balik sekolah mau pada latihan.”
“Oh…” Untuk sesaat Bαekhyun seneng atas inisiatifnya ngasih tau Bαekhyun tanpa harus ditanya. Tapi tetep aja, ada rasa asing dan jarak tak kasat mata yang kelewat lebar di antara mereka. Dan itu yang bikin ulu hatinya nyeri. Sebenernya mereka ini kenapa? Bαekhyun gak paham.
“Boleh aku susul ke sana? Mau ngomong.” “Boleh. Entar aku tunggu di pertigaan, takut kamu nyasar. Sekarang aku boleh bolos dulu kan?” Gak boleh, begitu jawab Bαekhyun dalam hatinya. Tapi yang keluar dari mulutnya justru berbeda. “Aku sayang kamu, Yeol.”
Chαnyeol jelas gak nyangka bakal dapet jawaban itu dari Bαekhyun, sampe dia sendiri gak sadar dinding es tipis di antara keduanya mendadak retak, terus pecah berkeping-keping. Dia maju selangkah, ngikis jarak sama Bαekhyun. Sewaktu udah cukup dekat, tangannya terangkat.
Dia usap kepala pacarnya penuh sayang. Detik itu, Park Chαnyeol yang Bαekhyun kenali akhirnya kembali. Dia bukan lagi cowok asing yang mandang Bαekhyun dengan sorot mata yang aneh. “Sorry udah bikin kaget tadi pas razia. Aku bersih, bahkan gak kena razia apapun. Maaf ya…”
Dan Bαekhyun cuma butuh itu buat maafin Chαnyeol, ngelupain semua resahnya sejak obrolan di OSIS bareng si ketos. Bαekhyun percaya Chαnyeol adalah orang yang baik. Dan kepercayaan itu bukan dia bangun atas nama “cinta” aja. Dia percaya karena itu kenyataannya.
• prequel mantan au •
Segalanya jadi lebih baik di antara mereka, walaupun tetep gak sehangat dulu. Chαnyeol udah jarang main basket atau bahkan nongkrong bareng anak-anak hits. Tapi Bαekhyun dikenalin sama temen-temen barunya di band. Ada Lay sama Hanbyul yang udah alumni.
Ada juga Kai sama Kiyoung yang sama-sama anak IPS kayak Chαnyeol. Dan ternyata Kai ini tetangga Chαnyeol sekaligus temen kecilnya. Dari zaman masih orok, mereka udah bareng-bareng terus. Bαekhyun baru tau karena selama ini mereka gak pernah kelihatan deket kalau di sekolah.
Dia bersyukur banget temen-temen yang sekarang kelihatan jauh lebih “aman” dibanding temen Chαnyeol yang lain, mau itu anak hits, ataupun anak-anak badung yang suka bolos dan tawuran. Makanya tiap kali nongkrong sama mereka, Bαekhyun gak pernah khawatir berlebihan
Dia juga seneng karena bisa lihat hobi Chαnyeol yang lain. Dari dulu pacarnya itu udah jago ngegitar, jadi Chαnyeol pun dapet posisi tersebut di band. Tapi dia juga lagi tertarik banget belajar ngedrum. Makanya hampir tiap hari dia belajar ngedrum bareng Kiyoung.
Sementara Bαekhyun disibukkan sama kegiatan OSIS, pacarnya disibukkan sama latihan band. Ada pensi yg mau digelar dan mereka rencananya mau ikut manggung juga. Bαekhyun seneng banget dengernya dan jadi semangat ngejalanin hari-harinya di organisasi. Nyaris lupa omongan Sunggyu.
Tapi semenjak dapet teror dari anak-anak hits, dia jadi inget lagi. “Kalian tuh gak pantes bareng-bareng. Beda levelnya. Mending lo jauhin Chαnyeol mulai sekarang. Gak kasihan apa? Dia jadi dijauhin sama temennya sampe nekad temenan sama siapa aja, termasuk sama anak badung.”
“Lo gak denger soal rumor dia make kemaren? Harusnya lo putusin Chαnyeol saat itu juga. Lo udah ngasih pengaruh yang buruk buat dia.” “Mending lo balik ke tempat asal lo di dalem goa, di mana orang-orang gak sadar sama kehadiran lo. Baru jadi sekre OSIS aja udah belagu.”
Semua hinaan dan teror itu Bαekhyun dapetin nyaris tiap hari. Kalau mereka gak ngancam bakal ngebocorin sesuatu, dia pasti udah bilang sama temen-temennya atau sama Chαnyeol. Tapi dia gak bisa bikin pacarnya itu dalam posisi sulit. Jadi Bαekhyun terima semuanya diam-diam.
“Awas kalo lo bilang sama pacar lo atau sama temen-temen lo. Gue sebarin foto Chαnyeol yg lagi mabok.” Dari hari ke hari, teror yg diterimanya jadi makin berat. Dari yang cuma verbal aja, sekarang sampe melibatkan fisik juga. Kadang dia didorong. Kadang ditoyor atau ditempeleng.
Tapi semua itu masih kerasa ringan buat Bαekhyun. Dia gak terluka, walaupun harga dirinya kayak diinjak-injak. Jadi dia masih tutup mulut, gak berani bilang sama siapapun. Chαnyeol sibuk latihan. Krystal sibuk di OSIS bareng dia. Dan Luhan, anak itu lagi kasmaran.
Baru-baru ini sahabatnya jadian sama penjaga konter deket rumahnya. Cowok yang udah dia taksir dari zaman SMP. Dan ternyata cowok itu juga suka sama Luhan. Bαekhyun gak bisa ngerusak kebahagiaan sahabatnya dengan semua permasalahan dia. Gak ada tempat mengadu.
Semua teror dan kekerasan fisik, juga event penting di sekolah, di mana OSIS jadi penanggung jawabnya, bikin dia capek setengah mati. Kadang ada rasa pengen nyerah, tapi dia inget ada seseorang yang harus dilindungi. Mau gak mau Bαekhyun pun harus belajar jadi kuat.
• prequel mantan au •
⚠️ t/w bullying (note: timeline nya emang sekitaran tahun 2014, karna timeline utama mantan itu di tahun 2021/2022)
⚠️ t/w bullying, graphic description of violence [note: AKU KASIH PERINGATAN, mulai dari sini kalian harus hati-hati bacanya, kalo dirasa gak sanggup, lebih baik mundur atau skip]
• prequel mantan au •
Ada orang yang jadi jahat karena keadaan, karena terpaksa, karena kebawa arus, atau karena mereka emang punya jiwa yang jahat aja. Tapi Bαekhyun gak paham kenapa orang-orang ini bisa benci banget sama dia. Kalau yang lain, mungkin dia bakal maklum karena gak deket-deket amat.
Tapi kalau Lisa? Cewek itu kenal Bαekhyun dari SMP, salah satu temen deket Luhan juga, dan yang kelihatan paling seneng sewaktu tau Bαekhyun sama Chαnyeol jadian. Tapi di tahun ajaran baru dia tiba-tiba berubah. Dia diem aja lihat temen-temen hitsnya ngebully Bαekhyun.
Apa yang mereka omongin itu bener bahwa selama ini Bαekhyun jadi sombong? Seingetnya, dia masih sama kayak dulu. Masih pendiem, masih ansos, tapi gak pernah pilih-pilih temen. Kalau ada yang baik, dia bakal baik juga sama orang itu. Kalau ada yang cuek, dia gak peduli.
Dia gak bakal caper demi sesuatu. Dia juga gak bakal ngebuang seseorang demi meraih tujuannya. Bαekhyun gak merasa ada yang salah sama dirinya. Jadi sebenernya apa salah dia? Ini adalah minggu paling penting buat Bαekhyun karena jadi persiapan final dari pensi yang mau digelar.
Tapi dia malah diseret ke belakang gudang dan lagi-lagi harus nerima semua perlakuan mereka. “Gimana ya kalo gue patahin salah satu kaki lo?” “Waduh, kasihan dong. Dia kan orang penting di OSIS. Masa di hari H harus ngurus acara sambil ngesod-ngesod?” Mereka sahut-sahutan.
Sosok Bαekhyun di sana kayak transparan sebelum dia didorong main-main, dioper sana-sini kayak bola. Kalau sekali dua kali, gak bakal kerasa. Tapi kalau dilakuin berkali-kali, lama-lama bahunya sakit juga. Dia gak bisa gini terus, makanya tanpa pikir panjang, dia pun ngelawan.
Sayangnya mereka gak seneng dan malah ngedorong Bαekhyun sekuat tenaga sampe dia tersungkur di tanah. Tangannya lecet. Lututnya juga mungkin lebam karena ngehantam tanah dengan keras. Tapi yang bikin dia teriak kesakitan bukan itu. Melainkan kaki seseorang yang nendang perutnya.
Refleks tubuhnya meringkuk kayak bola dan kedua tangannya ngelindungi kepala. Tapi bagian sisi tubuhnya bebas ditendangi. Sakit. Sakit banget. Padahal Bαekhyun cuma minta waktu sampe pensi selesai, tapi mereka gak sabaran dan maksa Bαekhyun putusin Chαnyeol secepatnya.
Bαekhyun berniat ngejadiin kesibukannya di OSIS sebagai alasan putus. Kebetulan setelah pensi juga bakal ada ulangan semester. Jadi menurutnya itu adalah waktu yang tepat. Harusnya mereka mikir. Bαekhyun gak mau tiba-tiba minta putus karena Chαnyeol pasti bakal curiga.
Dan imbasnya mungkin semua perlakuan mereka bakal ketahuan. Itu bukan cuma alasan biar dia bisa ngulur waktu dan bisa pacaran sama Chαnyeol lebih lama. Tapi mereka gak mau denger. “Kalo lo berusaha ngelawan lagi kayak tadi, kita abisin lo, lebih dari ini. Paham?”
Bαekhyun terlalu sakit buat bersuara, jadi dia cuma bisa ngangguk kecil aja. Setelahnya dia pun ditinggal. Gak ada siapapun yg kembali buat nolongin. Hari itu dia terpaksa meringkuk di sana sampe sore, sampe sekolah bener-bener sepi dan pulang tanpa ngambil tasnya di ruang OSIS.
⚠️ bullying + violence selesai di sini buat sementara ⚠️
Sehari sebelum pensi digelar, Bαekhyun akhirnya tumbang. Dia pingsan di sekolah dan bikin semua orang panik. Hyoseop yang ngejabat sebagai waketos tanpa babibu langsung ngehubungin Chαnyeol. Karena cuma dia pengurus inti OSIS yang gak mempermasalahkan hubungan mereka.
Tapi sekolah udah bubar, jadi agak susah buat ngontak anak itu. Hyoseop akhirnya minta bantuan Myungsoo, salah satu anak populer yang sering main basket sama Chαnyeol. Kebetulan dia juga anggota sekbid, jadi masih tetep stay di sekolah sampai sore. “Udah gue telepon, lagi otw.”
Buat sementara, Bαekhyun pun ditemenin Hyoseop di ruang UKS. Dia bangun gak lama kemudian, tapi mukanya langsung panik sewaktu tau dia ada di mana. Bαekhyun takut seseorang meriksa dia dan nemu luka lebam di bawah dadanya. Sebab itu adalah alasan sebenernya dia tumbang.
“Hei, hei, tenang dulu. Jangan dulu bangun. Kamu demam tinggi, kalo langsung bangun gitu nanti pusing.” Bαekhyun terpaksa rebahan lagi karena emang betul, kepalanya pusing banget. Efek dari luka-luka di tubuhnya menyebar. Dia jadi demam dan lemes seharian. Ditambah capek.
“Aku udah hubungin Chαnyeol, takutnya kamu mau dianter pulang sama dia. Kalian bisa pake motor aku. Tapi saran aku sih pesen taksi aja. Motoran pasti dingin.” “D-dia… mau ke sini?” “Iya, kita mungkin gak ada yang bisa nganter kamu pulang. Sorry, Hyun,” ucap Hyoseop gak enak.
Bαekhyun cuma geleng kepala. Dia sebenernya berharap gak ada yang manggil Chαnyeol ke sini, karena pasti orang-orang itu bakal lihat. Tapi gak bisa bohong juga, yang paling Bαekhyun butuhin saat ini adalah Chαnyeol. Buat kali ini aja, Bαekhyun mau peluk pacarnya itu erat-erat.
Hyoseop pamit balik ke ruang OSIS setelah ngasihin teh manis buat Bαekhyun. Gak lama kemudian, Chαnyeol datang. Dia kelihatan panik banget. Di pelipisnya ada cucuran keringat, nafasnya juga ngos-ngosan. Dia pasti lari dari studio ke sekolah. “Baekhyun… sayang… kamu gapapa?”
Bαekhyun ambil posisi duduk di ranjang dan nyambut Chαnyeol dengan kedua tangan terentang. Mereka pun pelukan, ngelupain semua yang ada di sekitarnya. Dipeluk kayak gini bikin dia malah makin gak rela buat mutusin Chαnyeol. Jadi diem-diem Bαekhyun pun nangis di bahu pacarnya.
Mereka akhirnya pulang pake motor Hyoseop karena Chαnyeol gak pernah bawa kendaraan ke sekolah. Si waketos itu berpesan supaya Bαekhyun pergi ke dokter biar besok pas hari H udah mendingan. Chαnyeol pun maksa mampir sekalian jalan pulang, tapi Bαekhyun nolak. “Nanti aja, Yeol.”
Jadi Chαnyeol cuma nganter Bαekhyun pulang ke rumah. Itupun cuma sampe gang aja karena dia gak mau ibunya lihat mereka boncengan. “Mungkin kalo udah lulus nanti, aku dibolehin pacaran. Jadi aku mau kenalin kamu secara resmi kalo kita lulus.” Chαnyeol inget betul ucapannya dulu.
Dia pun gak mau maksa. Masih sambil duduk di atas motor, Chαnyeol lihatin pacarnya itu jalan ke rumahnya. Ada yang aneh. Dia jalan pelan banget. Mungkin karena pusing, pikirnya. Tapi kelihatan jelas langkahnya yang kayak diseret-seret, seolah berat buat dipake jalan.
Saat itu gak ada yang bisa Chαnyeol lakuin selain berdoa supaya besok Bαekhyun udah baikan. Biar dia bisa kembali bertugas dan gak ngerasa bersalah karena harus tumbang di hari yang penting. Dan biar dia juga bisa lihat performnya Chαnyeol. “Cepet sembuh, Hyun…” bisiknya lirih.
Pilihan lagu yang pas, batin Bαekhyun. Gak peduli gimana liriknya, titelnya sendiri udah menggambarkan situasi Bαekhyun dan Chαnyeol saat ini. Baginya cowok itu kayak mimpi yang gak bisa diraih. Bαekhyun cuma ngerasain bahagia yg singkat sebelum dipaksa ngelepas dia selamanya.
Tapi dia bersyukur hari ini kondisinya udah membaik, jadi bisa lihat perform Chαnyeol buat yang pertama dan terakhir kalinya. Sayang banget dia lupa ngerekam karena terlalu takjub sama penampilan mereka. Selain bawain lagu Mimpi Selamanya, mereka juga nampilin Disenchanted.
Pecah banget! Orang-orang bahkan ikut nyanyi dan angkat tangan mereka ke atas buat dilambai-lambai sepanjang lagu. Bαekhyun luar biasa bangga. “Gimana penampilan aku?” Bαekhyun gak bisa ngomong. Dia malah nangis sesegukan sampe Chαnyeol panik sendiri. “Yang, kenapa?”
Jahat banget. Mereka jahat. Orang-orang biadab. Bαekhyun udah gak sanggup lagi nahan semuanya. Fisiknya sakit. Mentalnya juga hancur. Kalau abis ini dia mau disiksa, Bαekhyun gak peduli. Dia cuma mau peluk Chαnyeol. Dia mau kehidupan tenangnya kembali. Dia mau bahagia.
“Aku capek…” Tanpa banyak kata, Chαnyeol peluk tubuh ringkihnya dengan lembut, seolah takut bikin dia rusak dan hancur berkeping-keping. “Kamu boleh istirahat kalo capek. Jangan maksain. Ada aku, sayang. Ada aku di sini. Kamu boleh pulang ke sini kapanpun kamu mau.”
Kemarin Kai sempet ngasih tau sesuatu yang gak masuk akal. “Yeol, mungkin lo harus sering-sering ngecek kondisi Bαekhyun. Gue khawatir dia kena bully. Beberapa hari yang lalu gue lihat dia jalan kayak pincang soalnya.” Chαnyeol cuma berharap semua itu gak bener.
Gak mungkin pacarnya dibully sampe disakitin fisiknya. Tapi kalau sampe bener, dia siap bikin perhitungan sama siapapun yang berani ngelukain Bαekhyun. Buat saat ini, Chαnyeol harus bikin Bαekhyun ngerasa nyaman dan aman lebih dulu biar mau terbuka dan bilang siapa pelakunya.
Nyatanya hal itu gak mudah. Setelah dipaksa ngaku, Bαekhyun malah milih buat tutup mulut. Dia juga gak mau keluarga sama temen-temennya tau. Bahkan laporan ke guru pun gak mau. Chαnyeol paham Bαekhyun pasti ngerasa ketakutan. Jadi alih-alih maksa, dia cari jawabannya sendiri.
Dengan minta bantuan Kai sama Kiyoung, juga temen-temen berandalnya, akhirnya si pelaku ketahuan. Sayangnya Chαnyeol gak bisa ngelakuin apa-apa selain ngasih peringatan karena dia adalah cewek. “Sekali lagi lo sentuh pacar gue, gue gak bakal segan buat mukul lo.”
“Berani sama cewek?” “Gue masih ngehargain lo, Min. Baik sebagai cewek ataupun sebagai temen.” “Kalo gitu harusnya lo denger saran gue dari awal. Kalian tuh gak cocok.” Cewek itu cekikikan. Tapi lenyap dalam sesaat karena dorongan keras Chαnyeol yg bikin dia terpojok di tembok.
“Akh! Sakit anjing!” “Segini doang sakit? Gue tanya, apa aja yang lo lakuin ke Bαekhyun?” “Cih, dasar bucin tolol!” Cengkraman tangan Chαnyeol di bahu cewek itu makin kenceng sampe dia meringis kesakitan. “Kalo mau ngatain orang tuh ngaca! Gue bulol, lo apa?”
Yoo Jimin, anak IPA 3, pacaran sama Seokhyun yang sekarang udah alumni. Cowoknya itu bego banget sampe harus tinggal kelas setahun, tapi karena keluarganya tajir, Jimin jadi tergila-gila dan obses banget sama dia. Chαnyeol gak niat nyerang Jimin kayak gini sebenernya.
Karena Seokhyun juga temennya dia. Mereka satu tongkrongan sejak satu sekolah di SMA. Apalagi waktu kelas 1 Chαnyeol emang deket banget sama anak-anak populer dan tajir di sekolahnya. Makanya dia gak nyangka yang ngebully Bαekhyun itu ternyata temennya sendiri.
Kabar soal Jimin yang dipojokin Chαnyeol akhirnya sampe dengan cepat ke telingan Seokhyun. Chαnyeol sendiri udah tau cepat atau lambat cowok itu bakal balas dendam. Apalagi mengingat Jimin nih ember banget mulutnya, bahkan suka melebih-lebihkan dengan niat ngadu domba.
Tepat setelah ulangan semester dan class meeting dimulai, Seokhyun nyuruh adik kelasnya nyerang Chαnyeol di dalem sekolah. Lapangan yang dijadiin tempat buat tanding voli dan basket pun malah jadi ajang adu jotos. Tapi Chαnyeol gak sendiri, dia dibantu sama temen-temennya.
Geng anak-anak populer lain yg gak terlibat dan gak tau duduk perkaranya, cuma bisa bengong tanpa bisa mihak ke manapun. Itu masih lebih baik dibanding mereka terlibat dan bikin suasana di dalem sekolah udah kayak lagi tawuran. “Stop!” Satpam bunyiin peluitnya biar mereka bubar.
Guru-guru cowok dan satpam misahin yang paling deket. Ada juga yang ngomel-ngomel pake speaker. Chaos banget! Bαekhyun yang lihat Chαnyeol ada di tengah kerumunan panik dan lemes. Apalagi sewaktu pacarnya kena pukul beberapa kali sampe berdarah. Dia nyaris gabung ke sana.
Untungnya ada Krystal yang nyegat dia. “Lo gila, Hyun? Serahin aja sama guru-guru.” Agak susah misahin mereka semua dan berhentiin perkelahiannya karena banyak siswa yang terlibat, tapi akhirnya guru-guru sama satpam bahkan para pedagang, berhasil bikin adu jotos itu terhenti.
Semua yang terlibat dijemur di lapangan sampe sore, bikin class meeting hari pertama kacau balau. Anak OSIS pun ngamuk dan yang jadi sasaran adalah Bαekhyun. “Lihat siapa yg bikin onar?” “Malu-maluin organisasi pacaran sama berandal kayak gitu.” “Kenapa sih Gyu dibiarin aja?”
Lagi-lagi Bαekhyun ditarik sama ketua OSIS buat diceramahin. “Kamu gak ada hubungannya kan sama semua ini?” “Ada atau gak ada, aku pacarnya. Kalian tetep bakal nyalahin aku.” “Itu dia! Kenapa sih kamu masih aja pacaran sama dia? Kamu gak peduli sama reputasi kamu?”
“Aku cuma siswa biasa kayak yg lainnya, Gyu. Reputasi apa yang mesti aku pertahanin?” Sunggyu mengusap wajahnya kasar, ngerasa capek sendiri ngomong sama orang yg menurutnya bebal kayak Bαekhyun. “Lo pinter, anak OSIS, siswa baik-baik juga.” “Aku atau OSIS yang kamu peduliin?”
Skakmat. Semua orang di organisasi kecuali mungkin Hyoseop, emang gak suka sama hubungan mereka. Jadi udah gak kaget lagi sebenernya andai Sunggyu jujur. “Walopun bukan siswa yg pinter dan gak masuk organisasi, Chαnyeol itu anak yg baik. Terserah kalian mau percaya atau engga.”
Dengan itu, Bαekhyun tinggalin Sunggyu dan ambil tasnya, nunggu Chαnyeol di depan sekolah bareng Krystal. Selama beberapa minggu ini Bαekhyun kira Chαnyeol udah nyerah dan gak peduli lagi soal pembully-an yang nimpa dirinya. Tapi omongan Sunggyu barusan bikin dia kepikiran.
Dilihat dari siswa yang terlibat, dia gak bisa narik kesimpulan. Cuma ada sedikit anak-anak populer yang ikut perkelahian, sisanya Bαekhyun gak kenal. Bahkan yang paling populer di antara mereka kayak Myungsoo, Mingyu, Eunwoo, juga cuma bengong di pinggir lapangan.
Jadi sebenernya apa yang memicu keributan besar ini? Sama kayak dia yang gak mau ngasih tau identitas si pembully, Chαnyeol juga gak mau ngasih tau Bαekhyun soal penyebab perkelahian mereka. Katanya itu bukan urusan Bαekhyun dan gak ada hubungannya sama dia. “Ayo, pulang.”
Besoknya semua orang tua siswa yang anak-anaknya bikin onar di sekolah dipanggil buat dikasih penyuluhan. Cuma ibu dan kakak Chαnyeol yang kelihatan, katanya ayah di sibuk. Mereka pun dihukum skorsing selama seminggu. Tapi Chαnyeol malah gak masuk sampe libur semester dimulai.
Jadi libur semester kali ini Bαekhyun beraniin dirinya main ke rumah Chαnyeol. Berkat bantuan Kak Yura sama Kai, Bαekhyun pun sampe juga di rumah cowok itu. Tapi dia malah ngajak Bαekhyun ke rumah Kai di sebelah. “Sorry ya, gak bisa nyambut kamu di rumah. Lagi panas soalnya.”
Alasan itu kedengeran aneh di telinga Bαekhyun yang gak tau situasi keluarga Chαnyeol kayak apa. Tapi untungnya dia mau jelasin sedikit. “Papa sama Mama lagi kurang baik hubungannya, ditambah kemarin aku bikin masalah. Makin jadi deh akhirnya. Kita main aja, mau gak?”
Tawaran yang cukup menggiurkan karena udah lama banget mereka gak kencan. Walaupun Bαekhyun agak waswas karena dia izin ke ayah ibunya mau main sama Luhan. “Yaudah ajak aja Luhan-nya. Biar triple date sekalian.” “Eh, triple? Siapa aja?” “Tuh curut satu,” tunjuknya ke arah Kai.
Temennya itu langsung noyor kepala Chαnyeol main-main yang dibales tengkasan di kaki. “Hyun, gue lagi di pantai nih sama Sehun. Kalo mau, lo nyusul sini aja deh,” ucap Luhan ketika di telepon oleh Bαekhyun. “Gak bisa, Lu. Aku sama Chαnyeol gak bisa lama, dia lagi dihukum.”
Kata ayahnya, emang Chαnyeol gak boleh keluar rumah dulu. Tapi dia nekad pergi mumpung ayahnya juga lagi pergi. Sebenernya Bαekhyun gak enak dateng ke sana di saat yang gak tepat gini, tapi Chαnyeol kelihatan melas banget pengen ngedate sama dia. Katanya kangen segala macem lah.
Mereka udah lama gak ketemu. Dan libur semester juga baru dimulai. Kesempatan yang langka ini harus dimanfaatin sebaik mungkin. Mereka gak pergi jauh-jauh. Cuma ngemall sebentar, makan, terus main billiard. Bαekhyun diajarin sedikit walaupun dia gak bisa-bisa.
Dan itu seru banget! Padahal mereka cuma berempat doang bareng Kai sama pacarnya. Bαekyun seneng karena buat pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dia akhirnya bisa ketawa lepas lagi. “Makasih ya buat hari ini,” ucapnya. “Makasih juga karena udah nengokin,” balas Chαnyeol.
“Kabarin kalo udah sampe rumah. Terus kalo Papa kamu marah, bilang ya, biar aku yang minta maaf.” Tangan Chαnyeol tiba-tiba terulur buat ngacak rambut Bαekhyun. “Iyaa~ sayang, manis, cantik, bawel.” “Kok bawelnya dibawa?” Chαnyeol merunduk biar wajah mereka sejajar.
Terus dia aduin ujung hidungnya sama ujung hidung Bαekhyun. “Karena kamu ngoceh terus hari ini, kayak lagi dikejar waktu, kayak takut kehabisan cerita, kayak kita mau pisah aja.” “Yeol…” “Kalo capek, bilang ya… biar kita rehat dulu sebentar, biar kamu bisa nafas juga.”
Bukan ini mau Bαekhyun, tapi mungkin Chαnyeol juga butuh rehat dari semua masalah yg nimpa mereka selama ini. Dan mungkin setelah liburan selesai nanti, mereka bakal kembali baik-baik aja kayak dulu. “Pantes aja hari ini kayak gloomy banget hehehe~” Bαekhyun netesin air matanya.
Dan itu adalah pemandangan paling nyakitin bagi Chαnyeol selain tangisan ibu sama kakaknya. “Maaf, Hyun…” “Gapapa. Kita sama-sama butuh ruang buat bernafas. Tapi Yeol, jangan lama-lama ya… Aku gak yakin bakal sanggup.” Kenapa rasanya sesak?
Padahal keputusan ini dibuat karena mereka sama-sama butuh jarak, butuh waktu, dan butuh ruang buat sendiri dulu. Biar mereka bisa kembali tenang. Biar bisa saling memperbaiki diri juga. Tapi hati kecil Bαekhyun gak setuju. Bukannya mereka harus saling menguatkan?
Kenapa malah milih rehat dan sendiri-sendiri? Apa itu artinya musuh-musuh mereka menang? “Abis liburan selesai, kita bakal baik-baik aja,” ucap Chαnyeol berat, seolah itu cuma omong kosong belaka. Karena sebenernya dia juga gak tau, apakah mereka bakal kembali bersama?
Cuma waktu yang bisa menjawabnya. Karena dalam satu hari aja, ada banyak hal yang terjadi. Gimana dengan 2 minggu? Tapi baik Chαnyeol maupun Bαekhyun sama-sama berharap, semoga cuma ada hal-hal baik yang terjadi sama mereka selama terpisah jarak. Ya, semoga.
• prequel mantan au •
Dengan semua tekanan yang Bαekhyun terima selama semester pertama kelas 12, gak heran kalau nilai sama peringkatnya jadi turun. Orang tuanya gak mempermasalahkan tapi wali kelasnya mulai khawatir. Untungnya beliau nganggap itu karena kesibukan dia di OSIS. Bukan karena hal lain.
“Abis sertijab nanti, gimana kalo kamu ikut les atau pelajaran tambahan? Biar kampus inceran kamu masih ke jangkau.” Bαekhyun lupa ada mimpi yang pengen dia raih selain Chαnyeol. Dia mau masuk kampus terbaik di kotanya, walaupun itu cuma swasta.
Karena ngincer PTN pun percuma, orang tuanya gak bakal ngizinin Bαekhyun kuliah jauh-jauh. Tapi bener kata wali kelasnya, bisa jadi kampus incerannya udah gak bisa ke jangkau sekarang. Mau gak mau Bαekhyun harus ambil pelajaran tambahan atau les yang ditawarkan beliau.
Ternyata setelah lepas dari organisasi pun dia masih harus disibukkan sama yang lain. Lantas gimana hubungannya sama Chαnyeol? Mereka balikan setelah break selama 2 minggu. Tapi udah gak sama lagi. Chαnyeol berubah cuek. Dan Bαekhyun terlalu capek ngejar-ngejar dia.
Alhasil hubungan mereka malah semakin renggang. Mungkin sebaiknya mereka emang gak usah balikan aja sekalian, kayak apa yang Jimin sama temen-temennya harapkan. Mereka udah gak pernah gangguin Bαekhyun lagi selain sengaja bisik-bisik kalau Bαekhyun lewat. Itu sih kecil buat dia.
Selama gak main fisik, gangguan kayak gimana pun bisa Bαekhyun tahan. Harusnya dia seneng kan? Hubungannya sama Chαnyeol jadi gak ada yang ganggu lagi. Tapi kenapa dia malah makin gak tahan sama sikap Chαnyeol? “Sepatu ketiga minggu ini yang dirazia,” tunjuk Sunggyu.
Bαekhyun cuma noleh gak peduli. “Mau kamu ambil gak? Mahal banget loh yang ini.” “Sejak kapan aku suka ambil sepatu dia dari barang sitaan? Ada razia aja aku gak pernah bilang, mau sama dia kek, mau sama temen kek, karena aku nyoba buat profesional di sini.”
Dibanjiri fakta depan muka langsung, mereka malah bungkam, gak bisa bales apa-apa. Jujur Bαekhyun udah males. Kalau bukan karena urusan sertijab yang belum selesai, dia udah gak mau dateng ke ruang OSIS. Di sana dia gak punya temen, adanya orang-orang rese yang selalu nyalahin.
Bαekhyun udah pusing banget sama jadwal belajarnya. Ditambah pusing sama kelakuan Chαnyeol. Eh, mereka malah nambah-nambahin. Jadi bukan salah Bαekhyun kalau dia meledak kayak tadi. Sekarang dia punya urusan yang lebih penting. Yakni ngomong sama pacarnya. Kasihan Kak Yura.
Dia udah minta tolong sama Bαekhyun berkali-kali buat nasehatin adeknya, biar seenggaknya Chαnyeol berhenti bolos dan ngerokok di area sekolah. Ibunya nyaris udah gak punya muka karena harus bolak-bolik terus ke sekolah tapi malah gini tanggepannya. “Aku paling gak suka diatur.”
“Kamu gak kasihan sama Mama atau Kak Yura?” “Aku gak bisa ngontrol ini semua, Hyun. Namanya aja gejolak masa remaja.” “Dulu kamu gak gini.” “Ya aku telat kali pubernya.” Lihat kan? Padahal sebelumnya mereka gak pernah ribut kayak gitu.
“Aku mohon, Yeol. Aku pengen kita bisa balik kayak dulu.” Chαnyeol gak jawab apa-apa. Dia masih inget janjinya hari itu setelah mereka dobel date sama Kai. Ternyata feeling mereka bener. Semua ucapannya cuma omong kosong doang. Gak ada artinya sama sekali.
• prequel mantan au •
Semua perubahan Chαnyeol terjadi bukan karena dia udah gak ada rasa sama Bαekhyun. Tapi dia sendiri lagi ditimpa masalah yang bertubi-tubi. Mulai dari cekcok orang tuanya, pengkhianatan temen-temennya, juga ancaman Seokhyun. Diserang dari berbagai sisi, dia kewalahan.
Pengennya bersandar sama Bαekhyun. Kalau gak bisa cerita, minimal bisa pinjem bahunya. Tapi tiap kali ortunya berantem, Chαnyeol gak pernah bisa buka suara. Dia minder sama kondisi keluarganya. Selain itu, ada rasa segan juga yang Chαnyeol rasain terhadap Bαekhyun.
Semua karena Jimin. Cewek itu masuk geng populer di sekolah bareng Myungsoo, Eunwoo, Mingyu, Lisa, Minjeong, juga Seokhyun yang lulus tahun kemarin. Mereka sebenernya cukup deket pas kelas 10. Kalau anak-anak cowok lagi main basket, yang cewek bakal jadi supporter-nya.
Mereka juga sering nongkrong bareng, entah itu di kantin atau di luar sekolah. Chαnyeol sendiri paling deket sama Minjeong sampe banyak yang jodoh-jodohin mereka. Tapi dia gak punya perasaan lebih buat cewek itu. Chαnyeol pikir Minjeong juga gak punya rasa sama dia.
Apalagi dia juga udah punya pacar sebelum mereka naik ke kelas 11. Jadi Chαnyeol gak paham kenapa Seokhyun bilang pacarnya ngelakuin semua ini karena dia udah nyakitin sahabatnya. “Jimin itu paling sayang sama Minjeong, tapi lo malah nyakitin dia demi Bαekhyun,” kata Seokhyun.
“Nyakitin dalam hal apa?” “Lo gak pernah nunjukin rasa suka buat Minjeong walopun kalian udah banyak dijodoh-jodohin. Terus tau-tau lo malah deket sama anak cupu dan jadian gitu aja.” “Yang tau-tau jadian tuh Minjeong. Dia pacaran sama temen lo pas mau naik kelas 11.”
“Karena apa coba gue tanya? Karena lo jual mahal, tapi ujung-ujungnya malah jadian sama orang kayak Bαekhyun.” “Emang maksud lo Bαekhyun ini orang kayak gimana?” “Gak selevel. Cupu. Anak mami. Bahkan gak bisa bahagiain lo sebagai pacarnya. Ngaku aja deh, Yeol.”
Selepas perkelahian besar-besaran di sekolah di hari pertama class meeting, Chαnyeol sengaja nyari Seokhyun buat ngomong face to face. Tapi emang dasarnta dia bego, mau aja dibegoin sama Jimin. Udah goblok, bulol juga. Karena semua alasan itu gak masuk akal banget.
Palingan Jimin cuma ngada-ngada biar bisa cari ribut sama Bαekhyun dengan ngejadiin sahabatnya sebagai tameng. Tapi pas dikasih tau Minjeong ngebiarin gitu aja temennya ngebully Bαekhyun, Chαnyeol kecewa dan ngerasa dikhianatin. Padahal dia udah anggap mereka semua sbg temennya.
Untungnya penyebab utama perkelahian itu gak bocor. Jadi gak ada satupun “orang luar” yang tau masalahnya selain mereka yang terlibat. Chαnyeol bersyukur karena nama Bαekhyun gak ikut keseret. Walaupun alasan utama mereka bungkam karena mau ngelindungi Jimin sama temen-temennya.
Chαnyeol pikir masalahnya bakal selesai sampai di sana tapi ternyata Seokhyun malah ngancam dia pake fotonya sama Bαekhyun yang kelihatan kayak lagi ciuman. Itu adalah foto yang diambil sewaktu Chαnyeol ngaduin hidungnya sama hidung Bαekhyun. “Terus apa mau lo, keparat?”
“Santai...” cengir Seokhyun. “Lo cukup jauhin Bαekhyun. Gak usah diputusin, biarin suruh dia yang mutusin lo. Jadi foto ini gak akan sampe ke tangan ortu atau guru-gurunya, karena bakal gue simpen sampae gue mati.” Kalau urusannya adu jotos, Chαnyeol bakal bantai mereka semua.
Tapi ini lain soal. Dia gak bisa bikin Bαekhyun jadi korban. Walaupun mungkin dampak foto itu gak seberapa. Masalahnya Bαekhyun itu tipikal orang yang selalu kepikiran, ditambah orang tuanya juga strict parah. Chαnyeol takut kebebasan Bαekhyun bakal direnggut sama mereka.
Gak ada pilihan lain selain nurut. Tapi semoga aja Bαekhyun cukup kuat sama sikap dinginnya setelah ini. Setidaknya sampe mereka lulus karena Chαnyeol gak akan biarin mereka ngejar-ngejar dia sama Bαekhyun terus-terusan. Sementara di sisi lain, Jimin ngerasa puas banget.
“Akhirnya drama yang kita tunggu-tunggu bakal tayang bentar lagi,” ucapnya di depan temen-temennya. Ada Lisa juga di sana. Dialah yang paling gak tahan sama sikap Jimin. Tapi mau gimana lagi? Gak ada yang bisa ngelawan cewek gila itu. Lisa pun nyesel banget temenan sama mereka.
Sebelum drama yang Jimin maksud dimulai, ternyata ada kejadian lain yang lebih besar. Byun Bαekhyun tiba-tiba ngebales bisik-bisik mereka dengan pernyataan telak. “Kalo aku dikasih kesempatan lagi buat confess ke Chαnyeol, aku bakal tetep confess. Bukan sok jual mahal.”
Sindiran itu dia tujukan buat Minjeong yg belakangan Bαekhyun ketahui pernah deket sama Chαnyeol. Terima kasih buat kemampuan luar biasa Krystal dalam urusan stalking dan cari informasi, dia jadi tau alasan Jimin dan gengnya benci banget sama dia. “Apa lo bilang?” sungut Jimin.
“Bukan salah aku dia lebih tertarik sama aku. Bukan salah Krystal juga Myungsoo lebih tertarik sama dia.” Wow! Kayaknya Bαekhyun baru aja ngehajar dengan telak someone's nerve. Minjeong itu cewek yang terkenal lemah lembut, banyak disukai sama cowok.
Tapi cowok yang dia sukai gak pernah suka balik sama dia. Kayak pas awal-awal masuk SMA, dia naksir Myungsoo tapi cowok itu ternyata sukanya sama Krystal. Gak ada yang tau soal ini selain mereka bertiga. Terus dia naksir Chαnyeol tapi Chαnyeol cuma anggap dia sebagai temen.
Makanya dia ngompor-ngomporin Jimin yg emang pada dasarnya punya jiwa setan buat balas dendam. Sayangnya yang jadi sasaran itu Bαekhyun karena dianggap bukan siapa-siapa dan gak punya backingan kayak Krystal yang ayahnya merupakan pemilik yayasan di SMP. Minjeong si rubah licik.
Cakep juga julukan pemberian Krystal itu. Ya kan? Bαekhyun udah jengah sama teror-teror kecil yang mereka lakuin. Dia gak mau terus-terusan ada di bawah kontrol mereka. Sekali aja dia pengen ngebales dengan telak. Tapi kayaknya Bαekhyun gak terlalu mikirin konsekuensinya.
Andai waktu bisa diputar, mungkin dia bisa lebih bijak milih timing paling tepat biar masalahnya gak merembet ke mana-mana. Tapi nasi udah jadi bubur. Dan lagi-lagi Bαekhyun harus tersungkur di atas tanah karena ulah mereka. Kali ini lebih menyakitkan dari sebelumnya.
• prequel mantan au •
Semuanya terjadi di luar sekolah setelah semua anak pulang. Bαekhyun udah curiga kenapa gengnya Jimin ini gak nyerang balik sewaktu dia bales omongan mereka. Ternyata mereka lagi nyusun rencana buat cari perhitungan sama Bαekhyun. “Ikut gue…” tukas salah satu anteknya Jimin.
Selesai rapat OSIS soal sertijab, Bαekhyun pun dicegat dan dibawa ke gang kecil deket sekolah. Detik itu dia tau, dia bakal dihabisin tanpa ampun. Sebisa mungkin dia pun cari cara buat keluar dari situasi tersebut. “Aku gak bermaksud ngomong kasar tapi apa salah aku?”
“Masih nanya?” bentak Jimin. “Lo udah nyakitin sahabat gue.” “Sorry Min, aku gak punya urusan sama kamu. Aku lagi ngomong sama Minjeong.” Bαekhyun beralih ke cewe yang jadi biang kerok semua ini. “Aku tanya, apa salah aku? Confess duluan gak bikin derajat kamu lebih rendah kan?”
“Kalo aja kamu jujur sama perasaan kamu sendiri, mungkin aja Chαnyeol bales perasaan kamu. Aku emang gak sadar kalian dulu sedeket itu. Tapi bisa aja kan?” Minjeong berdesis kesel. “Tau apa lo?” “Waktu itu aku sama Chαnyeol belum deket, kamu juga tau itu!”
Jujur Bαekhyun gak ngerti. Sampe kapanpun gak akan pernah ngerti. Karena… “Kamu itu suka sama Chαnyeol tapi kenapa jadiannya malah sama orang lain? Terus sekarang kamu nyalahin aku? Kamu benci aku karena pacaran sama dia?” …ini semua gak masuk akal. Jelas Minjeong yang salah.
“Kenapa emang kalo gue benci sama lo? Salah lo sendiri tiba-tiba masuk ke hidup Chαnyeol dan bikin gue sama dia ngejauh.” “Minjeong, tolong buka mata kamu! Chαnyeol cuma jaga jarak karena kamu udah punya pacar. Bukan aku yang bikin dia ngejauh. Lagian kita belum deket saat itu.”
“Bodo amat, gue gak peduli lo mau ngomong apa. Gue cuma pengen lo lenyap, Byun Bαekhyun!” Segerombol anak cowok yang pake baju bebas muncul, salah satu yang paling tinggi dan bongsor adalah Seokhyun, pacar Jimin. Dia nendang tulang kering Bαekhyun sampe anak itu jatuh.
“Minta maaf!” titah Seokhyun. “Minta maaf sama Minjeong dan Jimin. Cium kaki mereka dan bilang lo bakal pergi jauh dari Chαnyeol selama-lamanya. Karena gara-gara lo, tuh anak jadi gak asik lagi kalo diajak main.” Bαekhyun angkat kepalanya dan mendelik. “Gak sudi.”
Sedikit sakit hati dan ngerasa diremehin, Seokhyun ketawa. Tapi lebih dari itu, dia jadi semangat buat ngabisin anak ini. “Heh, pegangin. Nih anak perlu gue kasih pelajaran biar nurut.” Lengan Bαekhyun dipegangi dan kakinya dibuat berlutut. Satu pukulan langsung dia dapet.
Pelipisnya perih dan berdenyut. Dia pun meringis kesakitan. Tapi belum juga ambil nafas sejak pukulan pertama, pukulan kedua udah datang di tempat yang sama. Telinganya seketika berdengung dan pandangannya sempet kabur. Gak bisa gini terus. Bαekhyun harus kabur secepatnya.
Sekuat tenaga dia berontak. Gak lama kemudian, satu belitan di lengan pun berhasil lepas. Dan dia manfaatin itu buat kabur. Setelah ngehantamin sikunya ke orang yang megangin satu lagi lengan dia, Bαekhyun lolos dan lari tanpa arah. Tapi di depannya ada Jimin yang ngehadang.
Mereka pun tanpa sengaja saling bertabrakan sampai Jimin jatuh terjengkang. Bαekhyun gak nyerah. Dia bangun lagi dan ambil ancang-ancang buat lari tapi rambutnya lebih dulu ditarik dari belakang. Mulutnya gak sempet teriak karena tubuhnya langsung kebanting keras di atas tanah.
Selama beberapa detik gak ada pergerakan apa-apa, bahkan nafasnya pun sempet tertahan. Dia udah nyaris hilang kesadaran sewaktu mencerna apa yang barusan terjadi. Rasa sakit di kulit kepalanya masih ada, tapi sakit di tempat lain mulai bermunculan.
Bagian sisi kepalanya, lengannya, bahunya, dadanya, sekujur tubuhnya. Bαekhyun ngerasa remuk sewaktu akhirnya erangan lemah yang kedengeran menyakitkan keluar dari bibirnya. “STOP! BERHENTI! ATAU GUE PANGGIL GURU KE SINI!” Entah dia harus bersyukur atau engga denger suara itu.
• prequel mantan au •
Cuma ada pembina OSIS dan wali kelas Minjeong, serta 3 orang guru lainnya yang masih tinggal di sekolah. Selain mereka, semua udah pulang. Tapi Krystal berhasil nyeret geng Jimin dan pacarnya ke ruang BK. Terima kasih buat Pak Satpam yang entah datang dari mana.
Sayang banget keputusan itu justru jadi bumerang buat Bαekhyun. Mereka secara kompak mojokin dan nuduh Bαekhyun dengan sesuatu yang amat menjijikan. “Dia yang mulai duluan, Bu. Dia yang nyerang pacar saya,” kata Seokhyun ngasih kesaksian palsu. “Jimin udah lama diincer.”
“Bullshit! Bilang apa lo sekali lagi?” “Krystal, tolong bahasanya!” bentak wali kelas Minjeong. Pembina OSIS yang emang udah senior dan dituakan akhirnya menengahi sambil nunggu guru BK balik ke sekolah. “Tolong jelasin kronologinya dan kasih bukti kalo ada.”
Pas banget temen Jimin yang ngerekam pake hapenya nunjukin video sewaktu Bαekhyun tabrakan sama Jimin. Dari sudut yang diambil, Bαekhyun kelihatan kayak ngedorong Jimin sampe mereka jatuh. Dan pas tangan Jimin mau narik dia, Bαekhyun tepis sekuat tenaga sampe Jimin mengaduh.
Video berhenti di sana, gak nunjukin rambut Bαekhyun yang ditarik Seokhyun dan tubuhnya yang dibanting ke tanah. Dasar bocah licik! Dalam waktu singkat aja mereka berhasil malsuin bukti dan bikin Bαekhyun terpojok. “Bener itu, Bαekhyun?” Guru Pembina nanya hati-hati.
Bαekhyun gak bisa buka mulut soal pembully-an yang mereka lakuin selama berbulan-bulan karena hal itu bisa ngebahayain Chαnyeol. Kayak apa yang Sunggyu bilang, pacarnya itu sempet dijebak soal “obat-obatan”. Dan ternyata geng Jimin lah yang ngelakuin hal tersebut.
Tapi kalau gak diceritain dari awal, Bαekhyun pasti bakal jadi tertuduh yang cari gara-gara karena mojokin Minjeong. Jadi apa yang harus dia lakuin? “Pak, mereka nih gak suka Bαekhyun pacaran sama Chαnyeol dan suka nyindir atau ngatain Bαekhyun karena hal itu.”
“Jangan asal tuduh lo, Krys!” “Gue denger ya Jimin sama gengnya suka ngehina-hina Bαekhyun!” Krystal beralih ke guru Pembina lagi. “Pak, saya saksinya, mereka yang mulai duluan.” “Bohong, Pak! Justru mereka nih gak suka Chαnyeol temenan sama kita. Gara-gara cemburu pasti.”
“Maksud kamu gimana, Jimin?” tukas wali kelas Minjeong. “Bu, masalahnya belibet. Kita juga gak tau awalnya dari mana. Pokoknya Bαekhyun gak suka Chαnyeol temenan sama kita. Terus dia mulai nyerang kita satu persatu dengan ngatain ini itu segala macem. Puncaknya hari ini.”
Jimin lanjut lagi setelah ambil nafas sebentar. “Dia ngatain Minjeong hal-hal yang gak pantes cuma karena dulu Minjeong sempet deket sama Chαnyeol, padahal Minjeong sendiri udah ada pacar sekarang. Mereka gak ada hubungan apa-apa kayak yang Bαekhyun tuduhin.”
“Wah… sialan! Pinter banget lo bikin skenario.” “Krystal, diam! Atau kamu keluar dari sini,” tegur guru Pembina. “Pak, Krystal juga ikutan. Dia ngompor-ngomporin Bαekhyun biar makin benci saya karena dulu saya sama dia sempet naksir orang yang sama.” Minjeong ikut buka suara.
“Hah? Sumpah, Jeong? Kok lo gak bilang sih?” Kali ini Jimin gak dibuat-buat kagetnya. Dia beneran gak tau. “Iya, Min, sorry gue gak pernah bilang karena bagi gue itu cuma masa lalu aja. Gue gak nyangka ternyata sampe sekarang Krystal masih aja dendam soal itu.”
Rahang Krystal nyaris jatuh sampe dia gak bisa ngomong apa-apa lagi. Terutama saat wali kelas Minjeong ngamuk. “Kalian ini, masih sekolah udah pacar-pacaran sampe ribut dan pake kekerasan. Mau jadi apa kalo udah dewasa nanti? Terutama kamu, Bαekhyun!”
Wanita tua itu berkacak pinggang. “Kamu itu siswa pintar kan? Pengurus inti OSIS pula. Kenapa malah pacaran sama anak badung dan sampe segitunya sama temen? Mereka ini cewek, kamu gak malu ngelawan mereka?!” “Bu, sudah,” kata guru Pembina. “Dia yang lukanya paling parah.”
Tiba-tiba Seokhyun berdiri dan bungkuk 90 derajat. “Maafin saya Pak, Bu, saya emang khilaf mukulin Bαekhyun sampe segininya. Tapi semua itu gara-gara dia sendiri yang mulai duluan. Kalo dia gak nyakitin Jimin, saya gak bakal kayak gini kok. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Bαekhyun…” panggil guru Pembina lembut. “Bapak mohon kerjasamanya. Tolong bicara dan jelasin semuanya dari sisi kamu.” Kalau bisa, udah Bαekhyun lakuin dari tadi. Walaupun harus sambil nahan sakit di sekujur tubuh, Bαekhyun mau ngebela dirinya sendiri karena itu haknya.
Tapi dengan kekompakan mereka yang kayak gini dan tanpa bukti yang dia punya, Bαekhyun bisa apa? Dia cuma bakal ngebahayain dirinya sendiri sama Chαnyeol. Sebab lawannya ini bukan orang sembarangan. “Saya… minta maaf… udah bikin… keributan,” ucap Bαekhyun susah payah.
“Semua yang mereka bilang gak bener. Demi Tuhan, saya gak pernah ada niatan ngelukain Jimin. Saya yang selama ini diincar dan mereka yang gak seneng saya pacaran sama Chαnyeol. Tapi hari ini saya putusin buat lawan hinaan mereka dan mereka gak terima. Itu cerita dari sisi saya.”
Bαekhyun angkat kepalanya dan nangis tanpa bener-bener terisak, cuma ada aliran air mata aja di wajahnya yang berantakan dan luka-luka. “Cuma saya gak ada bukti. Jadi kalian pasti gak bakal percaya kan?” Semua orang di dalam ruangan tersebut bungkam selama beberapa saat.
“Saya gak punya pembelaan apa-apa lagi, silakan Bapak sama Ibu mau percaya atau engga. Saya udah bicara yg sejujur-jujurnya. Tugas saya selesai. Saya siap terima hukuman apapun dari pihak sekolah.” Bαekhyun cuma bisa pasrah kayak udah tau dia bakal kalah ngelawan mereka semua.
Karena kejadian ini terjadi di luar sekolah pas jam belajar juga udah selesai dan melibatkan “orang luar” walaupun dia adalah alumni, pihak sekolah sepakat buat nutup kasusnya secepat mungkin setelah para orang tua juga sepakat berdamai. Cuma Krystal yang gak terima.
Dia hampir aja minta tolong orang tuanya buat ngusut tapi Bαekhyun nolak tawaran tersebut dan milih bungkam. “Aku gak mau masalahnya tambah besar. Dikit lagi sertijab, Krys. Aku juga bingung gimana jelasin sama Ayah.” “Lo yakin, Hyun? Bahkan lo gak mau ngasih tau nyokap lo.”
“Aku mohon… Dan maaf, udah bikin kamu terlibat.” Dengan uang dan koneksi, semua selesai lebih cepat dari dugaan Bαekhyun. Dia yang gak punya apa-apa pun langsung kalah telak. Tapi biar aja, pikirnya. Toh berusaha mati-matian pun percuma. Dia bakal tetep kalah.
Yang terpenting sekarang, nasib dia dan keluarganya baik-baik aja. Tapi mungkin Bαekhyun harus mulai mikirin gimana caranya jelasin semua masalah ini sama ayah. Kemarin sore yang paling dia takuti setelah keluar dari ruang BK adalah ngabarin orang tuanya. Terutama sang ibu.
Beliau pasti bakal kalap dan panik. Jadi mula-mula Bαekhyun telepon ayahnya dulu. Mereka ketemu di rumah Krystal. Dan beliau langsung bawa anaknya itu ke rumah sakit. Dia juga dipaksa nginep semalem di sana. “Nanti Ayah bilang sama Ibu, kamu ada perlu di sekolah.”
“Makasih Yah… Ayah pulang aja.” “Ayah temenin kamu di sini. Toh udah bilang mau lembur.” Beliau usap wajah anaknya. “Kalo udah siap cerita, bilang ya… Ayah gak bakal paksa kamu sekarang.” Baru kali ini Bαekhyun ngerasa lebih santai bicara depan ayahnya yang keras.
Beliau kelihatan lembut dan hati-hati, gak mau bikin anaknya ketakutan atau tertekan. Baru kali ini juga Bαekhyun dikasih pilihan dan boleh ngelakuin yang mana aja. Gak ada paksaan, gak ada tekanan. “Aku capek, Yah. Mau tidur.” “Hm, tidur gih. Ayah bakal nunggu di sini.”
Semalaman Bαekhyun resah dalam tidurnya. Udah diusap berapa kalipun, dia tetep kebangun beberapa kali dengan tubuh menggigil. Ayahnya sempet khawatir dan dokter terpaksa ngasih sedikit obat penenang biar Bαekhyun bisa tidur. Kira-kira dini hari, akhirnya dia bisa terlelap.
Besoknya Ayah ngurus semua masalah sampe selesai. Sesuai permintaan anaknya, mereka pun sepakat nutup kasus ini dengan permintaan maaf. Tapi Seokhyun yang udah mukulin Bαekhyun dapet teguran keras sampe nyaris dilaporin. Biar gimana pun Ayah gak terima anaknya babak belur gitu.
Ibu sempet curiga karena Bαekhyun bilang nginep di rumah temennya sampe 2 hari. Untungnya Krystal mau bantu dia nyamarin luka-lukanya biar di hari ketiga dia bisa pulang. Secara keseluruhan gak ada luka yang parah, tapi entah sama psikisnya karena dia nolak diperiksa.
“Nanti, selesai sertijab.” Katanya keukeuh. Terpaksa Ayah nyerah buat saat ini. “Tapi setelah urusan OSIS selesai janji ya, Hyun. Kalo engga, Ayah kasih tau semuanya sama Ibu.” “Eung, janji Yah…” Detik itu, Bαekhyun cuma punya ayahnya sama Krystal. Terus kemana Luhan?
Bαekhyun udah ngerasain ini sejak libur semester pertama. Dia yang gak punya tempat dituju selain Luhan, jadi sering main ke rumahnya. Kadang cuma sebentar, tapi kadang suka dari pagi sampe sore. Terus pacarnya, si Oh Sehun, sering nawarin buat nganter Bαekhyun pake motor.
Dia gak kepikiran apa-apa selain nerima kebaikan Sehun. Mungkin karena yang ada di kepalanya itu cuma Chαnyeol dan Chαnyeol. Galau selama masa-masa break bikin Bαekhyun keseringan gak sadar sama sekitarnya. Termasuk pergerakan aneh Sehun. Cowok itu diem-diem naksir.
Mungkin karena sering bareng selama 2 minggu yang singkat itu. Hatinya bimbang, kegoda sama yang baru, dan lupa sama Luhan yang udah resmi jadi pacarnya. Dia juga lupa mereka berdua ini sahabatan. Harusnya Sehun sadar hal itu bakal ngerusak persahabatan mereka.
“Sorry, aku khilaf. Kamu bener, aku cuma bingung aja. Dan ini cuma perasaan sesaat. Aku lebih sayang sama Luhan. Jadi tolong, jangan bilang apa-apa sama dia.” Bαekhyun turutin maunya Sehun dengan syarat “setia sama Luhan”, sebab dia sahabat yang berharga buat Bαekhyun.
Urusannya sama Sehun selesai sampai di sana. Dan demi bikin perasaan itu lenyap, buat sementara Bαekhyun sengaja ngejauhin Luhan. Kebetulan Luhan pun mulai menjauh dari Bαekhyun pelan-pelan. Mungkin dia udah tau, batin Bαekhyun curiga.
Tapi kecurigaan itu gak sempet dia telusuri karena permasalahannya sama Chαnyeol pas abis balikan lagi itu lumayan kompleks. Imbasnya di saat dia lagi kena masalah, dia jadi gak punya siapapun di sekolah selain Krystal. Bahkan pacarnya aja gak pernah jenguk dia sekalipun.
Jangankan jengukin di rumah sakit, nyamperin di sekolah pun udah gak pernah. Bαekhyun nanggung semua dampak pengeroyokan tersebut sendirian. Ditandai sama guru-guru. Dibenci anak OSIS. Diomongin satu sekolah. Dan diserang habis-habisan sama alumni pas sertijab.
Bαekhyun cuma berharap hari-harinya di SMA bisa cepet berakhir walaupun itu artinya dia harus berpisah sama Chαnyeol selamanya. “Maaf Yah, aku gak bisa cerita soal kejadian itu. Tapi aku janji bakal putusin pacar aku dan fokus lagi sama sekolah. Aku mau kuliah di luar kota.”
Karena janjinya itu, juga karena sikap Chαnyeol, Bαekhyun mau nyerah sama semua mimpinya. Dia gak berharap cowok itu berlaku selayaknya pacar yg baik atau minimal kayak dirinya yg dulu tapi kalau udah gak punya perasaan apapun lagi, kenapa gak bilang yg sejujurnya sama Bαekhyun?
Jangan bikin Bαekhyun berharap atau bertanya-tanya, kenapa pacarnya tiba-tiba ikut menjauh kayak semua orang? Gak perlu juga bikin Bαekhyun capek ngejar-ngejar dan makin dipandang jelek sama semua orang. Chαnyeol cuma perlu ngomong sama Bαekhyun sekali aja dan jelasin semuanya.
Jangan bikin Bαekhyun berpikir dia udah dibenci karena tuduhan gengnya Jimin. Biar gimanapun Chαnyeol gak tau permasalahan yang sebenernya. Pacarnya itu cuma tau mereka ngebully Bαekhyun. Gimana kalau Chαnyeol ikut percaya Bαekhyun nih balas mereka pake kekerasan?
Chαnyeol pasti gak suka karena mereka dulu pernah temenan. Tapi kalau emang ada masalah lain, Bαekhyun juga gak tau apa itu. Dan pertanyaan yang sama tetep berputar di kepalanya. ‘Kenapa gak cerita? Kenapa gak ngasih tau? Kenapa gak jujur? Kenapa gak ada omongan sedikitpun?’
Berat badannya turun drastis. Dia juga jadi sering sakit. Puncaknya sebelum ujian, Bαekhyun akhirnya nyerah. Bαekhyun mau bebas dari perasaan yang membelenggunya. Jadi dia samperin Chαnyeol pas jam sekolah selesai. Tepat di sisi lapangan Bαekhyun lihat cowok itu dan ngomong.
“Aku mau putus.” Terus terang. Saat itu juga. Gak perlu cari tempat sepi. Bαekhyun biarin hiruk pikuk di sekitarnya jadi latar belakang gimana kisah cintanya semasa SMA berakhir. Sakit. Perih. Berdenyut. Dan sewaktu denger jawaban Chαnyeol, dunianya hancur berkeping-keping.
“Yaudah.” Cowok itu berbalik, ninggalin Bαekhyun tanpa ngomong apapun lagi. Andai Bαekhyun lihat bahu mantannya itu bergetar atau tangannya ngusap mata, mungkin hatinya bakal kerasa lebih ringan. Tapi pemandangan yang tersuguh di depannya justru bikin rasa sakitnya menjadi.
Park Chαnyeol, yang sekarang resmi jadi mantannya, lagi ketawa sambil ngerangkul Minjeong keluar gerbang sekolah. Dia pun tau semuanya udah selesai sampai sini aja. Kisah cinta pertamanya di SMA. Juga mimpi-mimpinya.
• prequel mantan au •
Chanyeol cuma pengen hidup yang tenang. Gak perlu terlalu banyak uang, asal keluarganya harmonis. Gak perlu terlalu banyak temen, asal semuanya solid. Gak perlu terlalu ambisius, asal mimpinya terpenuhi. Dan gak perlu nilai tinggi, asal masih bisa lulus. Sederhana kan?
Tapi sejak kelas 12, keluarga yang dia punya di rumah mulai berantakan. Orang tuanya sering cekcok dan ribut gede. Belakangan dia tau penyebabnya itu karena mereka gak saling mencintai. Perjodohan taik kucing! Lebih baik Chαnyeol gak dilahirkan daripada harus tau kenyataan ini.
Pada dasarnya Chαnyeol ini anak yang suka seneng-seneng dengan berteman sama siapa aja. Tapi dia gak nyangka keputusannya buat gabung sama geng populer di sekolah bakal bikin kehidupannya kayak di neraka. Mereka licik, manipulatif, dan sok superior. Bikin ngeri!
Walaupun gak semuanya kayak gitu, tapi Chαnyeol agak menyayangkan mereka yang berpihak sama sisi yang jahat dengan mengatasnamakan persahabatan. Lucu banget! Mana ada sahabat yang dibiarin terjerumus kayak gitu? Bukannya saling ngingetin, ini malah dibiarin.
Tapi mungkin karena Chαnyeol itu anaknya terlalu santuy, dia jadi gak sigap ambil keputusan yang tepat sewaktu dilanda masalah. Jadi selama beberapa bulan ini akhirnya dia kehilangan banyak hal. Udah gak ada lagi keluarga harmonis. Gak ada sahabat yang bisa diandelin.
Dan gak ada Byun Bαekhyun yang dia sayangi setulus hati. “Kai, lo panggil satpam.” Chαnyeol minta tolong sahabatnya itu sambil pasang ekspresi datar. “Lo mau misahin mereka? Tolong jangan kelepasan. Gue tau lo bisa ngabisin mereka sendirian.” “Engga, gue mau balik ke studio.”
Kai pasti kaget setengah mati lihat Chαnyeol yang kayak gini. Ngebiarin gitu aja Bαekhyun dipukulin Seokhyun dan gengnya, malah minta Kai yang panggil satpam. Bahkan tanpa peduli dia justru balik badan, jalan lagi ke studio buat lanjut latihan. Ini pasti bukan Park Chαnyeol.
Yang sekarang ada di depannya pasti jelmaan setan atau iblis. Tapi mau ditanya berapa kali pun, jawaban Chαnyeol gak berubah. Jadi daripada buang-buang waktu dengan maksa dia tetep tinggal, lebih baik Kai lari cari bantuan. Itulah yang terjadi saat itu. Chαnyeol ada di sana.
Dia gak bisa berbuat apapun demi nyelametin Bαekhyun. Otaknya buntu. Cekcok orang tuanya semalem masih membekas. Ucapan papanya juga sama. Dan ancaman Seokhyun tempo hari gak main-main. Chαnyeol udah berusaha ngejauhin Bαekhyun sambil berharap dia bakal bertahan sedikit lagi.
Cuma sampai mereka lulus. Tapi sekarang Chαnyeol udah gak mau berharap apa-apa lagi. Gak seharusnya dia nyeret-nyeret Bαekhyun ke dalam hidupnya yang kacau. Sejak dia tau fakta orang tuanya yang gak saling mencintai, harusnya Chαnyeol nyerah saat itu juga dengan perasaannya.
Dia juga udah ngasih pengaruh yang buruk buat pacarnya. Dia bikin nama Bαekhyun jelek. Dia bikin kesayangannya itu terluka, kesusahan, repot, malu. Seharusnya udah dari dulu Chαnyeol enyah dari hidup Bαekhyun. Mungkin anak itu gak perlu menderita kayak sekarang.
Ini salah Chαnyeol. Ini semua salah dia. Chαnyeol harus perbaiki semuanya sebelum terlambat. Tapi kejadian itu gak cuma ngancurin Bαekhyun, melainkan juga Chαnyeol. Dia butuh waktu buat nenangin diri, biar gak lepas kendali, atau nangis di bawah kaki Bαekhyun.
Kalau sampai lepas kendali, dia bakal bikin semuanya kacau. Dan kalau sampai dia nangis dibawah kaki Bαekhyun atau minimal nunjukin batang hidungnya, Bαekhyun pasti gak bakal mau putusin dia sampe kapanpun. Karena hatinya kayak malaikat. Dia pasti bakal maafin Chαnyeol gitu aja.
Dia juga pasti tau ada yg aneh sama sikapnya. Dia mungkin bakal sadar selama ini Chαnyeol diancam sama mereka. Padahal kalau Chαnyeol lebih berani sedikit aja, dia mungkin masih bisa nyelametin hubungannya sama Bαekhyun. Tapi dia lebih sayang Bαekhyun & gak mau anak itu hancur.
Jalan satu-satunya emang berpisah. Dengan pergi dari sisi Bαekhyun sewaktu dia terpuruk, rencananya buat diputusin pun berhasil. Chαnyeol nyempurnain rencana tersebut dengan minta bantuan Minjeong. “Tunjukin seolah-olah kita deket. Gue mau Bαekhyun lupain gue secepetnya.”
Minjeong mau-mau aja dimintai tolong begitu asal bisa bikin Bαekhyun terluka. Rencana mereka pun berhasil tanpa kendala apa-apa. Chαnyeol berpisah dari Bαekhyun sejak hari itu, ninggalin lubang besar di hati keduanya. Lubang yg sampe kapanpun bakal susah ditutup atau diperbaiki.
Andai keinginan mereka buat saling melindungi itu digabung, dibagi, dicari solusinya sambil belajar saling terbuka satu sama lain, mungkin semuanya gak bakal berakhir seburuk ini. But still, mereka tetep jadi mantan terindah buat satu sama lain, seburuk apapun kisahnya.
• epilog prequel mantan au •
Bαekhyun gak masuk kampus top manapun di kotanya. Dia milih ngerantau ke kota sebelah dan kuliah di kampus gak bernama. Luhan yang tau itu tiba-tiba kaget. Perasaan bersalahnya pun kian numpuk. Apalagi pas dia dikabarin sama Krystal, Bαekhyun rutin kontrol ke rumah sakit.
Sebelum acara kelulusan, Luhan datengin rumahnya dan nuntut penjelasan. Tapi niat utamanyap ke sana itu sebenernya buat minta maaf. Sewaktu lihat keadaan Bαekhyun dari deket, tangis Luhan pecah gak ke bendung. Karena dia nyaris gak bisa ngenalin sahabatnya itu.
Pipi gembilnya ilang, bikin tulang pipinya nonjol kelihatan alias kurus banget. Tangannya juga kelihatan kecil kayak tinggal tulang sama kulit aja. Mukanya kusem. Rambut halusnya rontok. Dia stres berat sampe kondisi tubuhnya kayak gini. Anehnya di sekolah gak terlalu kelihatan.
Selain karena masih ngehindarin Bαekhyun, anak itu juga selalu jaketan kalo di sekolah. Dia juga rutin pake topi atau beanie. Dan karena gak sekelas, Luhan gak tau gimana penampilan Bαekhyun kalo 2 benda itu dilepas. Ngelihat langsung kayak gini dari deket bikin Luhan histeris.
Dia nangis sambil meluk sahabatnya yang dia jauhin selama beberapa bulan ini. Dia juga nyesel setengah mati gak nemenin di sisinya selama Bαekhyun ditimpa musibah. Dia gak pantes ngaku-ngaku sebagai sahabat Bαekhyun. “Hyun, maafin gue... Maaf udah ngejauhin lo selama ini.”
“Gapapa...” Itu bukan sekedar kata-kata bermakna kosong asal nyablak. Karena bagi Bαekhyun Luhan gak salah. Dia boleh benci dan ngejauhin Bαekhyun selama alasannya bukan karena akal busuk Jimin sama Minjeong. Jadi dengan tangan terbuka, Bαekhyun sambut kembali sahabatnya itu.
Malahan dia yang minta maaf karena gak sadar sama tingkah aneh Sehun dulu. “Justru saya yang pengen minta maaf sama kamu dari dulu. Maaf karena saya kurang peka dan bikin hubungan kalian memburuk.” Luhan kaget dan bengong. “Hyun?” Krystal bilang ada yang berubah sama Bαekhyun.
Tapi dia gak bilang apa perubahan tersebut. Makanya Luhan beneran kaget denger cara ngomong Bαekhyun yang formal banget itu. “Saya gak anggep kamu orang lain kalo itu yang kamu takutin,” tukas Bαekhyun seolah bisa baca pikirannya. “Saya cuma lebih nyaman kayak gini sekarang.”
Luhan gak tau sebesar apa dampak dari semua kejadian yang nimpa Bαekhyun selama beberapa bulan ini. Tapi kalau sampe bikin dia berubah drastis begitu, itu artinya jauh lebih besar dari apa yang terlihat atau orang-orang ketahui kan? “Hyun, sumpah... Gue bukan sahabat yang baik.”
Dia udah abai. Dia udah anggep enteng. Dia terlalu ngeremehin Jimin sama Minjeong. Walaupun udah tau mereka berbahaya, dia tetep biarin Bαekhyun nanggung semuanya sendirian. Itulah yang bikin Luhan gak bisa maafin dirinya sendiri. “Gapapa, Lu. Sekarang saya bakal baik-baik aja.”
Bαekhyun gak bilang udah. Dia cuma bilang “bakal”. Ya Tuhan, apa yang harus Luhan lakuin? “Hyun, mulai sekarang gue bakal lindungin lo apapun yang terjadi. Gue juga bakal ikut lo ke manapun lo pergi. Gue tempelin lo pokonya. Jangan usir gue ya? Karena itu gak bakal berhasil.”
“Luhan...” “I'll stay. Kali ini lo gak bakal sendiri.” Luhan yakin dengan pilihannya buat putus sama Sehun biar bisa ngasih waktu sama cowok itu, siapa yang sebenernya dia sukai. Dan Luhan juga yakin sama keputusannya yang satu ini. Bukan karena dia kasihan sama Bαekhyun.
Tapi karena Bαekhyun pantes bahagia. Dan Luhan bakal bawa kebahagiaan itu ke pangkuan Bαekhyun biar senyumnya, cahaya di wajahnya, juga sebagian dirinya yang terkubur, bisa kembali. Itu janjinya. Janji kepada sahabatnya.
• prequel mantan au selesai •
📝 author note: panjang jg yaa prequelnya TAPI AKU PUAS KARENA SEMUA BISA TERSAMPAIKAN 😭 emg ada bbrp yg msh jd pertanyaan tp semua bakal terjawab di timeline utama yg semoga aja bisa aku remake ceritanya stlh ganti bbrp support castnya. semoga kalian suka 🥺🫶🏻
silakan tinggalkan pesan sama kesan kalian, ceritain jg perasaan kalian selama baca dan kasih tau bagian fav kalian dr cerita “tahu bulat” alias dadakan ini (ASLI ngetiknya lgsg dari app twt) 😭 terakhir, kalian bisa support aku disini 👇🏻🥹 trakteer.id/lcourage
rie

rie

@Lcourage92
❲❲ NO UPDATE ON WEEKEND ❳❳ an amateur • wp: https://t.co/9EUxywQ5TP • ao3: https://t.co/ZOIXMkfLCm
Follow on Twitter
Missing some tweets in this thread? Or failed to load images or videos? You can try to .